Syaamil Quran

Perintah untuk Tidak Terpengaruh Ucapan Orang Fasik

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS Al-Hujurat 49:6)

Dalam ayat ini Allah memerintahkan orang-orang mukmin untuk teliti dan hati-hati menerima berita yang dibawa oleh orang yang fasik. Hal itu agar mereka tidak terjerumus ke dalam kebohongan dan kesalahan.

Jadi, menerima berita secara mentah-mentah merupakan sebuah kesalahan besar. Allah Swt telah melarang hamba-Nya mengikuti jalan orang-orang yang berbuat kerusakan.

Berdasarkan ayat ini, beberapa ulama melarang kaum Muslim menerima riwayat hadits yang asal-usul perawinya tidak diketahui. Hal itu karena bisa jadi perawinya adalah orang yang fasik. Ayat ini turun berkaitan dengan kisah pemampin Bani Mushthaliq yang bernama Harits bin Abi Dhirat, ayah dari Juwairiah, salah satu istri Rasulullah was.

Harits bin Dhirar Al Khuza’I menceritakan bahwa dirinya mendatangi Rasulullah yang mengajaknya untuk masuk Islam. Ia pun berikrar memeluk agama Islam. Ketika Rasulullah mengajaknya untuk membayar zakat, ia pun menerima perintah itu dan mengeluarkan zakatnya.

Ia lalu berkata, “Wahai Rasulullah saw., aku hendak pergi menemui kaumku dan mengajak mereka memeluk Islam dan menunaikan zakat. Saat zakat kaumku sudah terkumpul, kirimkanlah utusan kepadaku untuk mengambil zakat kami.”

Ketika Harits sudah mengumpulkan zakat dari kaumnya, rupanya utusan dari Rasulullah belum datang juga. Melihat hal itu, Harits menyangka bahwa Allah dan Rasul-Nya telah marah kepadanya. Ia pun memanggil pembesar kaumnya dan menceritakan yang terjadi.

Setelah bermusyawarah, mereka memutuskan untuk mengirim utusan kepada Rasulullah. Mendengar hal tersebut, Rasulullah kemudian mengutus Walid bin Uqbah untuk mendatangi Harits dalam rangka mengambil zakat yang telah ia kumpulkan.

Ketika baru sampai di tengah perjalanan, Walid merasa takut untuk meneruskan perjalanannya. Ia pun berbalik menemui Rasulullah saw lalu berkata, “Wahai Rasulullah saw., sesungguhnya Harits sudah melarangkau untuk mengambil zakat yang ia kumpulkan, bahkan ia hendak membunuhku.”

Rasulullah saw., pun marah dan segera mengirim beberapa utusan untuk mendatangi Harits. Ketika melihat Harits, mereka berkata, “Ini dia Harits.” Menyadari kehadiran mereka, Harits bertanya, “Kepada siapa kalian diutus?” Mereka menjawab, “Kepadamu.”

Harits bertanya lagi, “Ada apa gerangan kalian mencariku?” Mereka menjawab, “Rasulullah telah mengutus Walid bin Uqbah kepadamu dan dia mengatakan bahwa kau telah melarangnya untuk mengambil zakat yang telah kau kumpulkan, bahkan kau hendak membunuhnya.”

Harits menimpali, “Berita itu tidak benar! Demi Zat yang telah mengutus Muhammad dengan kebenaran, aku tidak pernah melihat utusan itu.” Harits pun segera bergegas menghadap Rasulullah saw.

Beliau bertanya kepada Harits, “Apakah betul engkau telah menghalang-halangi utusanku untuk mengambil zakat, bahkan engkau hendak membunuhnya?”

Harits menjawab, “Berita itu tidak benar! Demi Zat yang telah mengutus engkau dengan kebenaran, aku tidak pernah melihat orang itu. Sampai aku menemuimu, wahai Rasulullah saw., belum ada utusan datang kepada kami untuk mengambil zakat. Aku justru khawatir Allah dan Rasul-Nya murka kepadaku.

Maka setelah kejadian tersebut, turunlah ayat yang telah disebutkan di atas sebagai perintah untuk ber-tabayyun.

Perintah tabayyun atau mendalami masalah, merupakan peringatan, jangan sampai umat Islam melakukan tindakan yang menimbulkan dosa dan penyesalan akibat keputusannya yang tidak adil atau merugikan pihak lain.

Ada beberapa hikmah lain tabayyun atau instizhar, yang bisa dipetik:

  1. Memperluas wawasan. Karena salah satu aspek dalam tabayyun adalah melakukan telaah dengan membandingkan suatu data dengan data yang lain, dan mengkaitkan dengan sekian banyak referensi. Sebelum akhirnya menarik kesimpulan;
  2. Mengusung pendalaman pengetahuan. Mengetahi secara mendalam atas sesuatu masalah akan menumbuhkan kearifan tersendiri dalam bertindak;
  3. Pengujian atas kebenaran informasi. Terlebih lagi, informasi yang hanya berdasar isu, sudah seharusnya dikonfirmasi, agar tidak menimbulkan kesalahpahaman; Adakalanya juga suatu informasi sudah diyakini kebenarannya, namun tidak tersedia data yang lengkap dan akurat untuk membuktikan kebenaran itu. Maka melalui tabayyun, akan memperkuat keyakinan akan kebenaran informasi tersebut.

Tabayyun yang berhasil adalah apabila mampu mengungkapkan fakta yang bisa dijamin akurasinya, dan analisis yang jernih.  Kejernihan berpikir dalam menghadapi suatu fakta akan membangun kearifan dalam bertindak. Termasuk kearifan dalam berdakwah. Kebenaran-kebenaran informasi yang dihasilkan melalui proses yang obyektif, diharapkan juga akan membangun sikap toleran terhadap orang lain, yang sama-sama menjunjung tinggi obyektivitas.

Dalam kaitan dengan aktivitas dakwah juga, tabayyun membantu ketepatan dalam memilih sasaran dakwah. Pengetahuan yang benar yang diperoleh dari hasil penelitian, terutama menyangkut masyarakat yang akan dijadikan sasaran dakwah, akan sangat membantu ketepatan dalam memilih metode berdakwah.

]]>

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *