Syaamil Quran

Doa Sang Pujangga

Nama panjangnya adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah, tapi lebih dikenal dengan sebutan Hamka. Ia seorang ulama besar yang pernah dilahirkan bangsa Indonesia. Tun Abdul Razak, Perdana Menteri Malaysia bahkan pernah berkata, “Hamka bukan hanya milik bangsa Indonesia, tapi juga kebanggaan bangsa-bangsa Asia Tenggara”.

Ulama yang pernah mendapat anugerah gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Al Azhar Kairo ini lahir di Maninjau, Sumatera Barat, 16 Februari 1908, Putra H. Abdul Karim Amrullah, seorang tokoh pelopor gerakan Islam “Kaum Muda” di daerahnya.

Hamka bisa dikatakan sebagai seorang penulis Islam populer paling sukses di Indonesia pada awal abad ke-20, mulai dari tasawuf modern yang ditulis pada 1930-an sampai ceramah-ceramah agamanya di radio pada 1970-an. Ia pun menjadi sastrawan yang memiliki pembaca sangat luas pada zamannya. Mandi Cahaya di Tanah Suci, Di Lembah Sungai Nil, dan Di Tepi Sungai Dajah, Di Bawah Naungan Ka’bah (1938), Tenggelamnya Kapal van der Wijk (1939), Merantau ke Deli (1940), Di Dalam Lembah Kehidupan (1940), dan biografi orang tuanya berjudul Ayahku (1949) adalah sebagian karya roman yang pernah ia tulis.

Pada 27 Januari 1964, ulama dengan jasa yang besar pada negara ini ditangkap sahabatnya sendiri. Ia dijebloskan ke penjara selama Orde Lama. Dalam tahun itu pula ia melahirkan karyanya yang monumental, yakni Tafsir Al Azhar.

Dalam tafsirnya tersebut, ia menuturkan pengalamannya selama di penjara. “… tetapi di samping hati mereka yang puas (karena telah memenjarakan saya), Allah pun telah melengkapi apa yang difirmankan-Nya dalam QS Ath Taghabun:  11, bahwa segala musibah yang menimpa diri manusia adalah karena izin-Nya. Asal manusia beriman teguh kepada Allah, maka Allah pun akan memberikan hidayah ke dalam hatinya. Allah rupanya menghendaki agar masa terpisah dari anak istri selama dua tahun, dan terpisah dari masyarakat, dapat saya pergunakan untuk menyelesaikan pekerjaan berat ini, yaitu menafsirkan Al Qur’an Al Karim. Karena kalau saya masih di luar, pekerjaan ini tidak akan selesai sampai saya mati. Masa dua tahun telah saya pergunakan dengan sebaik-baiknya”.

Inilah Hamka, walau dipenjara ia tetap berkarya dan “mengajari” umat. Tidak mengherankan apabila sampai wafatnya pada 1981, ia meninggalkan warisan berharga bagi generasi selanjutnya. Tulisannya yang sudah dibukukan tak kurang dari 118 buah, belum termasuk karangan-karangan panjang dan pendek yang dimuat berbagai media massa dan disampaikan dalam beberapa kesempatan ceramah dan kuliah. Tulisannya meliputi banyak bidang kajian: politik, sejarah, budaya, akhlak, dan ilmu-ilmu keislaman lainnya.

Mengapa Hamka mampu menelorkan karya-karya bermutu, termasuk dua puluh empat jilid Tafsir Al Azhar? Dikisahkan, suatu ketika seseorang bertanya kepada guru umat ini, “Apa gerangan yang membuat Anda begitu produktif menulis?” Dengan mantap Hamka menjawab, “Dasar kepengaranganku adalah cinta”. 
Ya cinta, lagi-lagi cinta. Ketika dia sudah bicara, yang awalnya tidak mungkin bisa menjadi mungkin, yang berat menjadi ringan. Dengan cinta pula seseorang akan mengerahkan segenap kemampuan dan potensi dirinya sehingga jiwanya terpuaskan. 
Dengan landasan cintalah, Hamka menjadi sastrawan dan ulama terkemuka di negeri kita. Dengan cinta pula, nama dan karya-karyanya tetap hidup walau jasadnya sudah tiada. Dan, bagi Hamka, kecintaannya itu bermuara pada keinginannya untuk berjumpa dengan Yang Maha Pengasih dan Penyayang pada Hari Akhirnya kelak. Itulah yang senantiasa mengiasi doa-doanya. 

Tuhanku, Dosa yang aku kerjakan amat kecil jika dibandingkan dengan besarnya ampunan-Mu.

Kalau Engkau hendak mencelakakanku, Gelap jalan yang aku tempuh.Tak seorang pun yang kuat kuasa mempertahankan aku.

Kalau Engkau hendak memberi aku malu, Terbukalah rahasiaku, walaupun bagaimana aku menyembunyikan.

Karena itu, ya Tuhanku, sempurnakanlah awal hikmah-Mu sampai ke ujungnya, Dan jangan Engkau cabut apa yang telah Engkau karuniakan”

— Buya Hamka —

]]>

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *