syaamilquran.com (19/04)
Bandung adalah kotanya orang kreatif, yang sebagian besarnya anak muda. Setiap saat, kegiatan kreatif bermunculan di kota kembang ini. Komunitas kreatif pun banyak, jumlahnya ratusan. Banyak komunitas yang berdiri tersebut digagas oleh Ridwan Kamil, seorang arsitek yang memunculkan ide-ide kreatif untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi di Kota Bandung. Nah, pada Rabu (17/4/2013), teman-teman di PT. Sygma Creative Examedia mendapat kesempatan bertemu langsung dengan penggagas Bandung Creative City Forum (BCCF) tersebut.
Dalam obrolan santai yang berlangsung di ruang pertemuan Sygma, Kang Emil, demikian ia biasa disapa, menyampaikan materi tentang kegiatan kreatif yang dilakukannya bersama teman-teman kreatif di Bandung, kepada jajaran direksi, juga teman-teman Sygma yang hadir dalam pertemuan tersebut.
Diawali dengan pemutaran beberapa video contoh kegiatan yang dilakukannya, Kang Emil mengatakan, ada dua segmen sasaran kreatif di Kota Bandung, yaitu level menengah ke atas dan level bawah.
“Saya memimpikan kreatifitas itu sampai ke level bawah,” ujarnya.
Hal tersebut, menurut Kang Emil, bukan tanpa alasan. Karena, selama ini bentuk kreatifitas itu lebih banyak ditujukan bagi mereka yang ada di level menengah atas. Misalnya, festival.
Kang Emil menuturkan, kreatifitas itu tidak perlu dihasilkan dalam skala besar. Hal-hal kecil pun bisa menjadi kreatifitas. Misalnya, shariang pengalaman dalam bentuk foto. “Harus dibangkitkan kultur berbagi,” tandasnya.
Ia mencontohkan, di Jepang, hal apapun didokumentasikan dan dokumentasi tersebut dijadikan buku. “Makanya, jumlah penerbitan buku di Jepang, lima hingga tujuh kali lipat dari jumlah penerbitan di Indonesia. Karena apapun didokumentasikan dan jadi buku,” ujar peraih penghargaan Urban Leadership 2013 ini.
Kang Emil pun melakukan hal tersebut dengan membagikan idenya dalam bentuk aksi nyata bersama mereka yang berminat bergabung menjalankan ide-ide kreatifnya. Salah satunya kegiatan urban farming atau membuat kebun di perkotaan yang dikenal dengan Indonesia Berkebun.
Kalau sudah bikin komunitas, kampanyenya lewat sosial media. Kekuatan kita ada media sosial. Kampanyenya di social media dan dibikin fun. “Jangan dibikin susah”
Ide dasarnya antara lain dari sempitnya lahan di kota Bandung yang bisa ditanami, faktor ekonomi dan tingkat stress yang terjadi di kota-kota besar.
“Komunitas Bandung Berkebun selalu berusaha untuk menanam secara beragam dan berwarna-warni supaya background-nya enak dilihat,” katanya.
“Dengan bantuan social media, komunitas Indonesia Berkebun yang semula ada di 2 kota, Bandung dan Jakarta, sekarang sudah menyebar di 27 kota/kabupaten di Indonesia,” jelas Kang Emil.
Karena upaya penggunaan social media itulah, Kang Emil meraih Google Chrome Web Hero.
Lebih lanjut, Kang Emil, menjelaskan, untuk memunculkan ide kreatif, yang harus pertama kali dicari adalah masalah yang perlu dicarikan solusinya.
“Setelah itu identifikasi masalahnya apa, kemudian idenya apa untuk menyelesaikan masalah tersebut. Setelah itu, cari ruang yang tidak mainstream, idenya bisa dipraktikkan, dan scalable. Artinya, meski targetnya dalam skala besar, tapi untuk awalan, bisa dimulai dari skala yang lebih kecil,” paparnya.
“Setelah itu, bikin komunitas dan lakukan kegiatan tersebut secara menyenangkan. Jangan lupakan peran social media. Lakukan kegiatan tersebut secara rutin. Kalau sudah jadi movement atau kegiatan rutin, bisa jadi budaya yang dapat diwariskan sebagai sumbangan pada peradaban,” tandas Kang Emil.
]]>
