syaamilquran.com
Hati merupakan bagian terpenting dalam tubuh manusia. Hati ini tidak akan terlepas dari tanggung jawab yang dilakukannya kelak di akhirat, sebagaimana firman Allah: “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungan jawabnya.” (Al-Isra: 36).
Dalam tubuh manusia kedudukan hati dengan anggota yang lainnya ibarat seorang raja dengan seluruh bala tentara dan rakyatnya, yang semuanya tunduk di bawah kekuasaan dan perintahnya, dan bekerja sesuai dengan apa yang dikehendakinya.
“Ketahuilah bahwa dalam jasad ini ada segumpal daging, apabila segumpal daging itu baik, maka akan menjadi baik semuanya, dan apabila segumpal daging itu jelek, maka akan jeleklah semuanya. Segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
- Hati yang sehat; yaitu hati yang terbebas dari berbagai penyakit hati.
Firman Allah: “(Yaitu) di hari harta dan anak laki-laki tidak akan bermanfaat kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS Asy-Syu’araa: 88-89).
Dalam ayat tersebut, yang dimaksudkan adalah hati yang bersih dari nafsu syahwat yang bertentangan dengan perintah Allah dan laranganNya. Apapun yang dilakukannya, ditujukan untuk Allah semata. Firman Allah: “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan RasulNya, bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Hujurat: 1).
2. Hati yang mati
- Kebalikan dari hati yang sehat, yaitu hati yang tidak mengenal Rabbnya.
tidak melakukan ibadah sesuai yang diperintahkanNya dan diridhoi-Nya. Bahkan selalu memperturutkan nafsu dan syahwatnya serta kenikmatan dan hingar bingarnya dunia, walaupun ia tahu bahwa itu amatlah dimurkai oleh Allah dan dibenciNya.
Orang yang demikian menjadikan hawa nafsu sebagai imamnya, syahwat sebagai komandannya, kebodohan menjadi sopirnya, dan kelalaian sebagai tunggangan dan kendaraannya. Ia tidak pernah meminta kepada Allah kecuali dari tempat yang jauh. Tidak membutuhkan nasihat-nasihat dan selalu mengikuti langkah-langkah syetan yang selalu merayu dan menggodanya. Maka bergaul dengan orang seperti ini akan mencelakakan kita, berkawan dengannya akan meracuni kita, dan duduk dengannya akan membinasakan kita.
3. Hati yang Sakit;
yaitu hati yang hidup tapi ada penyakitnya, hati orang yang taat terhadap perintah-perintah Allah tetapi kadangkala berbuat maksiat dan kadang-kadang salah satu di antara keduanya saling berusaha untuk mengalahkan.
Hati jenis ini, mencintai Allah, iman kepadaNya, beribadah kepadaNya dengan ikhlas dan tawakkal kepadaNya, tetapi ia juga mencintai nafsu syahwat dan kadang-kadang sangat berperan dalam hatinya serta berusaha untuk mendapatkannya. Wujudnya hasad, sombong (dalam beribadah kepada Allah), ujub, dan terombang-ambing antara dua keinginan yaitu keinginan terhadap kenikmatan kehidupan akhirat serta keinginan untuk mendapatkan gemerlapnya dunia.
Maka hati yang pertama hidup, tumbuh, khusyu’ dan yang kedua layu kemudian mati. Adapun yang ketiga dalam keadaan tidak menentu, apakah akan hidup ataukan akan mati. Kemudian banyak sekali orang yang hatinya sakit dan sakitnya bahkan semakin parah, tetapi tidak merasa kalau hatinya sakit, bahkan sekalipun telah mati hatinya tetapi tidak tahu kalau hatinya telah mati. Naudzu billah min dzalik.
Sumber: www.alislam.or.id
]]>
