syaamilquran.com – Di samping prosesi ibadah haji merupakan kewajiban agama untuk dipenuhi, sesungguhnya di balik ritual haji yang sarat simbol itu, tersimpan banyak sekali pesan sosial untuk diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Secara esensial dan fungsional, berbagai pesan dan sasaran ibadah haji ialah agar kita menang dalam kehidupan sehari-hari sehingga meraih makna dan prestasi hidup yang sejati.
Sebagai contoh, di antara pesan ibadah haji ialah agar seorang muslim menumbuhkan etos pengurbanan. Itulah sebabnya Hari Raya Haji dseibut sebagai Hari Raya Kurban (Idul Adha). Terdapat petunjuk yang begitu kuat bahwa masyarakat kita dilandasi krisis semangat pengurbanan. Sebaliknya, yang ada adalah semangat untuk mengambil (to take), bukannya memberi (to give). Lebih parah lagi kalau yang diambil itu adalah sesuatu yang bukan hak miliknya.
Figur utama dalam sejarah haji adalah Nabi Ibrahim. Secara dramatis, Nabi Ibrahim memberi contoh bahwa pengurbanan yang pertama dilakukan ialah membunuh berhala, dalam bentuk cinta yang potensial memberhalakan anaknya sendiri sehingga penutupi cintanya pada Tuhan dan sesama manusia.
Bukankah cukup banyak contoh bahwa ketika anak diberhalakan sebagai obyek cinta dunia, lebih-lebih jika ia seorang penguasa, membuat rasa keadilan dan kemanusiaannya cenderung tumpul? Berapa banyak hak milik orang lain diambil secara tidak sah oleh orang yang sedang memegang kekuasaan karena didorong oleh cinta pada anak secara tidak proporsional?
Jadi, cerita pengurbanan Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya mengandung pesan dan pembelajaran agar kita tetap menempatkan Allah di atas segalanya sehingga ketika ajal tiba, peristiwa itu menggairahkan laksana kita pergi berhaji.
(dikutip dari Komaruddin Hidayat. Berdamai dengan Kematian. 2009)
]]>
