Syaamil Quran

Menjadikan Shalat sebagai Kebutuhan Kita

sholat

Rasulullah saw kembali dari perjalanan Isra Miraj dengan petunjuk Ilahi yang tegas tentang kewajiban shalat, yang diketahui secara pasti oleh setiap muslim dari generasi ke generasi.

Shalat merupakan bentuk konkrit dari keyakinan pikiran dan hati terhadap adanya Tuhan yang serba Maha, yang menguasai alam raya, menguasai hidup dan kehidupan manusia serta memiliki seluruh sifat keutamaan. Ketika shalat, kita menghadapkan jiwa dan raga untuk berkomunikasi dengan Tuhan Sang Maha Pencipta.

Manusia, lebih-lebih para ilmuwan, membutuhkan kepastian tentang tata kerja alam ini demi pengembangan ilmu dan penerapannya. Kepastian ini tidak dapat diperoleh kecuali dengan keyakinan adanya pengendali dan penguasa tunggal yang Mahaesa, yaitu Allah Swt.

Dalam hal ini, shalat telah menjadi kebutuhan, bukannya beban atau kewajiban.  Shalat menggambarkan pemahaman seseorang menyangkut tata kerja alam raya ini yang memberikan ketenangan dan kemantapan kepada manusia., khususnya para ilmuwan dan karena itu “shalat kepada Yang Mahaesa merupakan pertanda kemajuan pemikiran manusia dalam memahami tata kerja alam raya ini”.

Manusia adalah makhluk yang memiliki naluri cemas dan mengharap. Ia selalu membutuhkan sandaran, terutama pada saat-saat cemas ketika berharap. Kenyataan sehari-hari membuktikan bahwa bersandar pada makhluk, betapapun tinggi kekuatan dan kekuasaannya, seringkali tidak membuahkan hasil. Hanya Allah yang mampu.

35_13 35_14

“Yang kami seru selain Allah tidak memiliki apa-apa walau setipis kulit ari sekalipun. Jika kamu meminta kepada mereka, mereka tidak mendengan permintaanmu dan  kalaupun mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan”. (QS Faathir: 13-14).

Seorang muslim, dalam shalatnya, menghimpun segala bentuk dan cara pengakuan, penghormatan dan pengagungan yang dikenal umat manusia. Di dalam shalat, ada “isyarat penghormatan dengan tangan, berdiri tegak, menunduk, rukuk, sujud, puji-pujian, doa dan harapan”.

Hanya lima kali sehari Allah mewajibkan kita menghadap kepada-Nya. Malu rasanya jika kita yang telah mendapatkan anugerah-Nya yang tidak terbilang, mengabaikan kewajiban tersebut. Apalagi shalat merupakan kebutuhan kita. Malu pula rasanya, jika hanya pada saat-saat kepepet atau terdesak, saat cemas dan mengharap sesuatu, kita baru berkunjung ke hadirat-Nya.

Menjengkelkan, tentu, apabila yang datang menghadap mengabaikan tata krama dan peraturan protokoler. Jangan menyalahkan Tuhan apabila tidak menghiraukan hamba-Nya yang datang tanpa menampakkan kebutuhan kepada-Nya, atau tidak memuja dan memuji-Nya dengan sepenuh hati.

Tentu saja Mahaadil Allah, ketika Dia tidak ingin mengenal (dengan rahmat dan kasih sayang-Nya) orang-orang yang tidak pernah mengenal-Nya, yaitu orang-orang yang enggan memenuhi panggilan-Nya. 

(dikutip dari M. Quraish Shihab. Lentera Hati. 1998.)

]]>

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *