Syaamil Quran

Ciri Orang yang Menjadikan Setan sebagai Pemimpin

Ciri Orang yang Menjadikan Setan sebagai Pemimpin Ciri Orang yang Menjadikan Setan sebagai Pemimpin[/caption]

syaamilquran.com – Setan adalah musuh sejati manusia sejak Nabi Adam diciptakan. Sifat bebal dan membangkangnya membuat Allah Swt mengutuknya. Setan yang sudah dipastikan masuk neraka, tidak mau kalau mereka masuk neraka sendirian, hanya dari golongan mereka saja.

Karena itu, setan pun berusaha mempengaruhi manusia dengan berbagai cara, agar menjadi pengikut mereka, termasuk umat muslim. Upaya mereka pun banyak membuahkan hasil. Tidak sedikit umat muslim yang tergelincir hatinya untuk mengikuti setan. Allah Swt memberikan proteksi kepada umat muslim agar terjaga dari godaan setan, yaitu takwa, dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala hal yang dilarang-Nya. Ketakwaan menjadi pembeda antarmanusia di hadapan Allah Swt.  Firman Allah Swt:

“… Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu… “  (QS Al-Hujurat [49]: 13).

Setiap muslim tentunya ingin bertakwa, bahkan paling bertakwa. Tetapi, kita juga tidak pernah tahu, apakah kita sudah tergolong sebagai orang bertakwa? Sudahkah kita menjadikan Allah Swt sebagai satu-satunya sandaran kita? Ataukah kita malah menjadikan setan sebagai pemimpin kita?

Menjadikan setan sebagai pemimpin tentunya tidak mau kita lakukan. Karena sudah bisa dibayangkan ganjaran apa yang akan Allah Swt berikan jika kita melakukannya. Meski demikian, kita tetap perlu waspada dan hati-hati akan perbuatan kita, supaya tidak dikategorikan sebagai orang-orang yang menjadikan setan sebagai pemimpin yang menguasai kita.

Berikut ini adalah beberapa hal yang disinyalir sebagai ciri orang yang menjadikan setan sebagai pemimpin, yang disarikan dari eramuslim.com:

  • Membaca Al Quran tidak diawali dengan memohon perlindungan kepada Allah dari syetan yang terkutuk (membaca ta’aawudz).

Firman Allah Swt:

”Apabila kamu membaca Al Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syetan yang terkutuk. Sesungguhnya syetan ini tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya (syetan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.” (QS An-Nahl ayat 98-100) 

  • Mempersekutukan Allah

Allah Swt adalah pemberi petunjuk segala perilaku yang harus dilakukan oleh manusia, khususnya orang beriman, jika mereka ingin memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Petunjuk tersebut tercantum dalam Al Quran sebagai sumber utamanya dan As Sunnah sebagai rujukan pelaksanaan amaliah Qurani yang dilakukan Rasulullah saw. Kaum beriman sangat mengandalkan apa-apa yang merupakan petunjuk dan arahan dari Allah.

Meski demikian, tidak sedikit manusia yang mengingkari petunjuk-petunjuk tersebut dengan mendasarkan perilakunya pada aturan dan hukum buatan manusia yang hanya mengacu pada interpretasi manusia tanpa bersandar pada Al Quran. Dengan demikian, mereka tidak benar-benar mau bertawakal kepada Allah Swt. Mereka enggan untuk mengandalkan arahan dan petunjuk ilahi dalam menempuh kehidupan pribadi, bermasyarakat dan bernegara. Mereka lebih yakin dan mengandalkan diri mereka sendiri dalam menata kehidupan pribadi dan sosialnya.

Padahal Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam mengajarkan doa agar kita tidak mengandalkan diri sendiri dalam hidup, namun harus mengandalkan Allah semata atau bertawakal kepada Allah. Sebab, bertawakal kepada selain Allah merupakan salah satu bentuk mempersekutukan Allah dengan sesuatu selain Dia. Sikap itu merupakan sikap seorang musyrik..!

“Wahai Allah Yang Maha Hidup, wahai Allah Yang Senantiasa Mengurusi, tidak ada tuhan selain Engkau, dengan rahmatMu aku memohon pertolongan, perbaikilah keadaan diriku seluruhnya dan jangan Engkau serahkan nasibku kepada diriku sendiri (walau) sekejap mata, tidak pula kepada seorang manusiapun.” (HR Thabrani)

Saat ini, kita hidup dalam suatu masa yang menganggap bertawakal kepada Allah hanya dilakukan saat sedang menghadapi masa sulit, seperti jatuh miskin, sakit berat atau kehilangan sesuatu atau seseorang yang sangat dicintainya. Sedangkan sewaktu berjaya,  lupa untuk mengakui bahwa kejayaannya bersumber dari Allah bahkan tidak mengikuti petunjuk ilahi dan mematuhi aturan serta hukum Allah dalam menjalani kehidupannya.

Nafsu pribadi telah melenakan. Siapa saja yang tidak tawakal kepada Allah, sama saja dengan mempersekutukan Allah dengan sesuatu selainNya alias memproklamirkan diri sebagai bagian dari kaum musyrikin dan menjadikan setan sebagai pemimpin. Orang beriman harus menjadikan setan sebagai musuh dan tidak berkompromi sedikitpun.

”Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS Faathir ayat 6)

Sahabat Syaamil, janganlah kita menjadi bagian dari orang-orang yang menjadikan setan sebagai pemimpin. Naudzubillah…! *** (roni ramdan)

]]>

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *