Syaamil Quran

Rasulullah Pernah ditegur Allah

syaamilquran.com – Rasulullah saw pernah ditegur Allah Swt. Penyebabnya, ia pernah bermuka masam kepada seseorang yang tuna netra, yaitu Abdullah ibnu Ummi Maktum.

Peristiwa tersebut terjadi saat rasul serang sedang berdakawah di hadapan para pembesar Quraisy dengan membacakan ayat-ayat Allah pada mereka. Rasulullah kala itu sangat bersemangat berdakwah, dengan harapan para pemuka itu mau menerima dakwahnya sehingga akan banyak kaumnya yang mengikuti langkah mereka. Demikian pikirnya.

[caption id="attachment_2262" align="aligncenter" width="300"] Rasulullah Pernah ditegur Allah Rasulullah Pernah ditegur Allah[/caption]

Kedatangan Abdullah ibnu Ummi Maktum yang buta, lemah, dari pinggiran dan tanpa kuasa itu terasa bagaikan usikan kecil bagi semangat dakwah Rasul. Kehadirannya bisa memunculkan citra bahwa pengikut Muhammad adalah orang-orang dhuafa dan faqir, orang-orang belakang dan pandir. Itu pasti akan membuat para pemuka Quraisy tak nyaman dan makin enggan.  Jadi beliau bermuka masam dan berpaling. Lalu Allah menegurnya. “Dia bermasam muka dan berpaling, karena datang seorang buta kepadanya.” (QS ‘Abasa, [80]: 1-2) Teguran Allah pada beliau itu sudah lama sekali. Tetapi Sang Nabi takkan pernah melupakannya. Beliau pernah bermasam muka, merasa enggan dan mengalihkan wajah dari Abdullah ibnu Ummi Maktum. 

Secara pribadi, Nabi sama sekali tidak pernah merasa benci atau risi kepada Ibnu Ummi Maktum. Beliau hanya merasa, kemunculannya di saat yang tidak tepat.

Antara dakwah dan ukhuwah. Ya, kedua materi ini seperti dua mata perkuliahan yang hendak Allah sampaikan kepada Nabi-Nya supaya lebih bijak mendudukkannya. Hari itu Nabi seperti merasakan gelombang hikmah dari teguran Allah. 

Maka, pada kesempatan berikutnya dalam Majelis Nabawi, Nabi pun menyambut Ummi Maktum dengan penuh ceria.

“Selamat datang duhai orang yang karenanya aku ditegur oleh Rabbku!” ucap Nabi seraya tersenyum saat mengucapkan kalimat tersebut. Ke arah Majelis Nabawi itu, ‘Abdullah ibnu Ummi Maktum, pemilik nama ini, tertatih mendekat. Lalu Rasulullah saw bersegera mengulurkan tangan, menggandengnya, menggenggam jemari lelaki ini erat-erat dan mendudukkannya di sebelah beliau. Beliau kini lebih memahami bahwa dakwah ini milik Allah. Bahwa hidayah juga adalah milik-Nya. Tugasnya hanya ikhtiar semata. Beliau tidak akan dipersalahkan atau menanggung dosa jika para pemuka Quraisy tak juga beriman. Beliau seperti sedang dididik untuk lebih adil dan tak membeda-bedakan sikap. Baik kepada pemuka kaya atau kepada yang buta papa. 

Sikap cinta dan mesra beliau harus serupa. Begitulah seharusnya kita, para juru dakwah. Ikhtiar dalam dakwah dan tetap berupaya melebarkan ukhuwah. Wallahu A’lam*** (roni ramdan/ disarikan dari tulisan Ustadz Arifin Ilham di Republika Online).

]]>

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *