Syaamil Quran

Indahnya Seni Membaca Al Quran

syaamilquran.com – Seni membaca Al Quran berkembang pesat di berbagai wilayah negeri Islam. Tak heran jika kemudian muncul beragam jenis seni membaca Al Quran. Geliat seni membaca Al Quran berkembang pesat pada awal abad ke-20. Seni membaca Al Quran ini memiliki dua kiblat, yakni Makkah dan Mesir. Keduanya mempunyai karakteristik masing-masing. 

Dalam seni membaca Al Quran versi Makkah, dikenal lagu Banjakah, Hijaz, Mayya, Rakby, Jaharkah, Syikah, dan Dukkah. Sedangkan, dalam versi Mesir dikenal Bayyati, Hijaz, Shoba, Ras, Jiharkah, Sikah, dan Nahawan.

[caption id="attachment_1900" align="aligncenter" width="300"]Indahnya Seni Membaca Al Quran Indahnya Seni Membaca Al Quran[/caption]

Kedua model seni membaca Al Quran tersebut mulai dikenal umat Islam Indonesia pada abad ke-20. Transmisi beragam lagu membaca Al Quran itu dilakukan para ulama yang menimba ilmu di Makkah dan Mesir.

Menurut literatur, lagu versi Makkah lebih disukai pada awal perkembangannya di  nusantara. Alasannya, karena liriknya yang sangat sederhana dan relatif datar. Lagu Makkawi atau seni membaca Al Quran versi Makkah itu mewujud dalam Barzanji.

Ada sejumlah qari pelopor yang mengembangkan aliran Makkah di Tanah Air. Mereka adalah KH Arwani, KH Sya’roni, KH Munawwir, KH Abdul Qadir, KH Damanhuri, KH Saleh Ma’mun, KH Muntaha, dan KH Azra’i Abdurrauf.

Pada era 1960-an, seni membaca Al Quran di Indonesia menjadi lebih beragam dengan hadirnya aliran Misri atau Mesir. Pada masa itu, Pemerintah Mesir menyuplai sejumlah maestro qari, seperti Syekh Abdul Basith Abdus Somad, Syekh Musthofa Ismail, Syekh Mahmud Kholil Al Hushori, dan Syekh Abdul Qadir Abdul Azim.

Ternyata, umat Islam Indonesia sangat menyukai lagu-lagu Misri. Bukan tanpa alasan seni membaca Al Quran dari Negeri Piramida itu disukai Muslim di Indonesia. Ternyata, karakter lagu Misri dinilai lebih dinamis dan merdu. 

Beragam jenis lagu dari Mesir itu dinilai cocok dengan kondisi alam Indonesia. Tercatat ada sejumlah qari yang mengembangkan aliran Misri. Mereka adalah KH Bashori Alwi, KH Mukhtar Lutfi, KH Aziz Muslim, KH Mansur Ma’mun, KH Muhammad Assiry, dan KH Ahmad Syahid. ***(sumber: republika.co.id)

]]>

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *