Syaamil Quran

Produser Hafidz Indonesia RCTI Jadi Tamu Talkshow Syaamil Quran di IBF 2014

syaamilquran.com – Dua Brand Ambassador Syaamil Quran, Alvin Firmansyah dan Hilyah Qonita, mendapat kejutan saat talkshow “Inspirasi dan Motivasi Hafidz Cilik” di Panggung Utama Islamic Book Fair 2014, Sabtu (8/3). Mereka kembali bertemu dengan produser program Hafidz Indonesia RCTI 2013, Erwin Amirul, yang akrab dengan keduanya saat menjadi bagian dari program tersebut. Alvin menjadi juri, sedangkan Hilyah juara 1 program unggulan RCTI saat bulan Ramadhan tersebut.

[caption id="attachment_2964" align="aligncenter" width="300"]Produser Hafidz Indonesia RCTI Jadi Tamu Talkshow Syaamil Quran di IBF 2014 Produser Hafidz Indonesia RCTI Jadi Tamu Talkshow Syaamil Quran di IBF 2014[/caption]

“Sudah berapa lama tidak bertemu Alvin dan Hilyah, Mas Erwin?”, tanya Febrianti Almeera atau Pewski, pemandu acara talkshow.

“Kurang lebih 10 bulan,” jawab Erwin, yang terlihat langsung akrab dengan Alvin dan Hilyah.

Dalam sesi tersebut, Pewski banyak menggali tentang dibuatnya program Hafidz Indonesia serta tantangan yang dihadapi sehubungan adanya program serupa yang dibuat oleh televisi swasta lainnya.

_MG_3866

“Ide awalnya sih, kita ingin buat program ramadhan yang bisa menginspirasi. Tidak berpikir rating dan share. Kita berpikir gimana caranya bisa menampilkan program Al Quran jadi sebuah tontonan. Ini berat, karena MTQ saja udah gak ditayangin di TVRI. Setelah tayang, alhamdulillah jadi program favorit di bulan Ramadhan,” “ tutur Erwin mengawali obrolan. 

“Tujuan utama program ini adalah syiar. Rating dan share adalah bonus buat kami. Ketika kita mengerjakan sesuatu dengan ikhlas, lillahi ta’ala, pasti Allah akan menolong,” ujar pria berjambang ini.

_MG_3872

Menurut Erwin, program Hafidz Indonesia membuka kesadaran kepada orang dewasa tentang kemampuannya dalam membaca Al Quran.

“(Program) ini ‘menampar’ orang-orang yang umurnya di atas 25 tahun, karena anak-anak usia tiga sampai tujuh tahun hafal Al Quran minimal satu juz, bahkan ada yang sudah hafal 3 juz,” tandas Erwin.

Erwin menambahkan, program tersebut menurutnya adalah suatu ‘kecelakaan’, karena tidak diniatkan untuk mencari rating tersebut. Ternyata, terus memberi virus kebaikan bagi semua penonton cara Hafidz Indonesia.

Erwin menceritakan, jika program tersebut mampu membuat seorang calon doktor mengubah disertasinya yang hampir selesai dengan topik tentang Hafidz Indonesia.

“Ada calon doktor yang menyusun disertasinya sudah selesai 80 persen. Ketika nonton Hafidz Indonesia, disertasinya ‘dibuang’, diganti judul baru, Hafidz Indonesia,” terangnya.

Erwin menuturkan, tujuan syiar yang ingin dicapai oleh program Hafidz Indonesia, ternyata tidak hanya menyebar ke penonton. Tapi, menyebar juga ke diri para kru acara Hafidz Indonesia.

“Waktu Adi, umur 3 tahun, mengaji dalam studio, satu studio sampai ke control room menangis. Sampai saat ini saya cerita, saya merinding dan menahan nangis. Itu yang terjadi. Berarti virus ini menyebar dengan baik. Saya juga belajar agama malah dari Alvin,” ungkap Erwin.

Erwin memaparkan, banyak cerita yang terjadi dibalik program Hafid Indonesia. “Alhamdulillah, anak-anak bisa jadi inspirasi. Hilyah, kemarin dipanggil oleh Menteri Agama. Adi, yang tiga tahun, dipanggil khusus oleh Bapak Habibie. Adi sekarang 4 tahun dan hafal 2 juz. Ada yang namanya Hilda, bisa baca quran karena terapi. Kakaknya diterapi, karena menderita down syndrom ringan. Malah dia yang hafal Al Quran. “

“Bagaimana dengan televisi kompetitor yang membuat program serupa?” tanya Pewski.

“Kalau pun ada televisi lain yang mengikuti program ini, monggo, silahkan. Berarti tersebar syiarnya,” jawab Erwin tenang, seraya menambahkan, “Kami belajar dari filosofi seorang kopassus, satu peluru satu nyawa. Percuma kita syiar kalau syiar itu gak kena. Dan alhamdulillah, berarti syiarnya HI itu kena”.

“Kami, sebagai konseptor berharap, kalau ingin menciptakan program yang sama, hayu kita sama-sama mendongkrak Islam, kita jayakan Islam sama-sama,” ajaknya.

Erwin pun menyarankan, “Kita main di umur 3-7 tahun, tv lain main di umur yang lain, biar penonton punya pilihan, jangan buat penonton bingung.”

“Tapi, kalau ada yang meniru kita plek-plekan, monggo silahkan, itu hak. Ayo sama-sama mendongkrak Islam melalui media televisi yang selama ini tenggelam,” tutur Erwin.

Selain content, program Hafidz Indonesia pun mencoba mendobrak kebiasaan dari satu tayangan religi, yang biasanya tayang subuh dan menampilkan ibu-ibu

“Semua program agama adanya di subuh. Kenapa harus di subuh? Penonton ibu-ibunya. Ada yang salah dengan ibu-ibu? Apa bapak-bapaknya tidak ada yang salah?” tanya Erwin.

Oleh karena itulah, program Hafidz Indonesia tayang pada siang hari dan penontonnya tidak harus ibu-ibunya yang seragam pakaiannya. 

“Kita semua butuh ilmu, butuh belajar. Itu yang coba kita dobrak di Hafiz Indonesia,” tegas Erwin.

“Ada beberapa teman yang bercerita, bahwa HI bukan hanya ditonton oleh orang Islam, bahkan oleh non muslim,” pungkas Erwin. *** (roni ramdan)

]]>

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *