syaamilquran.com – Hiburan yang Menyesatkan – “Dan di antara manusia ada yang mempergunaan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan Allah itu olok-olokkan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (Luqman [31]: 6)
Dunia hiburan, sejak dahulu, nampaknya telah menjadi alat kepentingan untuk menyesatkan orang yang hendak maupun yang telah masuk Islam.
[caption id="attachment_922" align="aligncenter" width="391"]
Hiburan yang Menyesatkan[/caption]
Adalah seorang pengusaha hiburan dari kafir Quraisy bernama Nadr bin Kharb. Ia membeli beberapa orang biduan yang ditugaskan bukan sekadar menyanyi, melainkan juga menyediakan makanan dan minuman serta merayu mereka yang telah masuk Islam. Tugas utama mereka, bagaimana orang yang telah bertauhid kembali murtad, mengikuti agama nenek moyang.
Mereka berkata, “Duhai, kembalilah kepada ajaran nenek moyang kalian. Ajakanku lebih menarik dari pada ajaran Muhammad yang menyeru shalat, shaum dan perperang untuk kemenangannya.”
Untuk menjawab seruan para biduan ini, Allah menurunkan ayat di atas, sebagai peringatan kepada kaum Muslimin agar waspada terhadap bujuk rayu mereka.
Ayat ini tentu saja tidak hanya berlaku bagi para sahabat Nabi saja, bahwa orang-orang yang berusaha membelokkan kaum Muslimin yang gigih menegakkan syari’at masih banyak, bahkan belakangan, jumlahnya makin meningkat. Karenanya, kita harus waspada.
Orang Munafiq
Orang-orang munafiq paling pandai membuat argumentasi untuk melemahkan tekad kaum Muslimin. Ketika akan terjadi Perang Badar, mereka menyeru kaum Muslimin agar menghindari perang itu. Mereka katakan, utamanya kepada mereka yang lemah imannya, bahwa musuh terlalu kuat. Dari pada mati sia-sia lebih baik mengurungkan niat saja. Al-Qur’an mengabadikan perilaku mereka,”..(yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang yang berkata,’Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena takutlah kepada mereka.’ Maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah sebagai Penolong kami, dan Allah sebaik-baik Pelindung.” (Ali Imran [3]: 173).
Kegagalan mereka mempengaruhi kaum Muslimin pada saat perang Badar, tidak lantas membuat mereka berputus asa. Bahkan dalam perang berikutnya, mereka berusaha dengan lebih keras lagi. Itulah kerja kaum munafiq dalam menyesatkan manusia dari jalan Allah. Usaha mereka kadang sendiri-sendiri, tapi tidak jarang pula dikelola dalam perusahaan yang rapi.
Orang yang bernama Nadr bin Kharb memang sejak lama sudah meninggal dunia, namun profesinya dilanjutkan oleh generasi dibelakangnya. Malah sekarang lebih pandai, sejalan dengan kemajuan sarana teknologi seperti CD, TV, internet, HP dan seterusnya.
Betapa saat ini teramat banyak sarana yang bisa dipakai untuk melenakan kaum Muslimin dari kewajibannya. Apa yang sering disebut orang sebagai sarana hiburan, merupakan alat empuk untuk tujuan itu. Wanita, salah satu alat paling ampuh. Sekian juta manusia telah tertekuk lutut dalam pelukan wanita.
Apalagi di zaman emansipasi seperti ssekarang ini, begitu gampang mendapati kaum wanita yang bukan saja memancing, melainkan juga mendorong syahwat kita. Dengan penuh rasa percaya diri seorang wanita yang kerap tampil bak telanjang di depan kita (lewat TV dan media cetak), berkata, “Zaman emansipasi seperti ini biarkan kami berkreasi. Pejabat, lakukanlah tugas Anda. Adapun tugas kami adalah menghibur. Ini jalan rezeki dari Allah SWT untuk saya,” katanya.
Walhasil, untuk melalaikan kaum Muslimin dari agamanya tak perlu yang professional sebagaimana yang dibeli Nadr bin Kharb, yang amatiranpun sudah banyak yang memakan korban. Kita tersentak ketika mendengar info bahwa dari 4 juta situs porno di internet, satu jutanya adalah buatan anak-anak negeri ini. Dan yang lebih mencengangkan lagi, gambar-gambar porno yang tampil dalam situs-situs tersebut, adalah anak-anak gadis kita, yang rela tampil dengan tanpa selembar benangpun di badan, dan bahkan, tidak dibayar. Betapa mengerikannya bila harga diri sudah diobral sedemikian rupa.
Bila pada zaman Nabi SAW yang meracuni umat jelas-jelas orang kafir, maka pada zaman ini pelakunya adalah orang Islam sendiri, entah Islam model apa.
Dengan gerakan emansipasi, wanita betul-betul dieksploitasi. Mereka banyak dijadikan barang dagangan, yang tentunya ada penjual ada pembelinya. Dagangan jenis ini amat laris dan banyak diminati. Semua yang dimiliki wanita bisa dijual, mulai dariujung kaki sampai ujung rambut. Ada yang menjual suaranya, ada yang menjual keindahan betisnya, bahkan kukunya. Rambut, perut, paha, dan dada merupakan komoditi yang laris manis sekarang ini.
Bukan berarti Islam menganjurkan umatnya untuk menjauhi wanita, tapi Islam mengatur agar umat Islam tidak terjerumus dalam kemaksiatan gara-gara wanita. Itulah sebabnya Islam sangat ketat mengatur pola hidup umatnya.
Tertarik pada wanita itu fitnah, merupakan sesuatu yang azali. Tapi, manusia bukan binatang yang tak tahu aturan kapan dan dimana harus berhubungan. Allah SWT berfirman: “Dihiasi manusia itu dengan cinta kepada wanita…”(Ali Imran [3]: 14)
Ayat ini jangan disalahartikan. Juga sama sekali bukan berarti memberikan kebebasan kepada kaum lelaki untuk bergaul dan menikmati wanita sesuka hati. Ayat ini justru memberi peringatan agar kecantikan itu dapat diatur sesuai dengan syari’at Islam.
Selain wanita, masih banyak yang disebut sebagai lahwun, satu di antaranya adalah musik dan lagu-lagu erotis.
Terkait dengan ayat ini, Ibnu Mas’ud mengatakan, “perkataan yang tidak berguna, lahwun adalah nyanyian.” Demikian pula menurut pendapat Ibnu Abbas, Jabir, Ikrimah, dan yang lainnya. Sedangkan menurut adh-Dhahak yang dimaksud dengan “perkataan yang tidak berguna” ialah syirik. Penafsiran ini dipilih oleh Ibnu Jarir. Perkataan yang tidak berguna ialah ungkapan-ungkapan yang memalingkan manusia dari ayat-ayat Allah dan jalan-Nya, dan itu termasuk syirik.
Terkait lahwun sebagai music, dalam hal ini ulama berbeda pendapat. Ada yang membolehkan selama musik itu tidak menjadikan peminatnya lupa terhadap dzikir kepada Allah, satu lagi mengharamkan secara mutlak semua jenis musik.
Meski terdapat dua pendapat demikian, tapi keduanya sepakat bahwa yang menyebabkan umat Islam terbuai dan lupa terhadap zikir kepada Allah, itu haram hukumnya.
Apakah dengan demikan Islam mematikan kreativitas dan karya seni manusia? Tentu saja tidak! Bahkan dianjurkan. Yang dilarang Islam adalah membuat karya seni atau melagukan hal-hal yang menyebabkan manusia terlena sehingga lengah dari zikir kepada Allah, padahal umat Islam tidak boleh lepas dari zikir. Zikir adalah urusan utama. Wala dzikrullahi akbar. Zikir adalah urusan yang besar. Kalau karya seni menyebabkan bertambahnya zikir kepada Allah, jelas tidak dilarang. Malah tersedia baginya ganjaran yang berlipat ganda dari Allah SWT. Setiap orang zikir kepada Allah lantara karya itu, maka Allah akan menambah ganjarannya, meskipun ia sudah mati.
Sayangnya, apa yang kita saksikan sekarang ini adalah karya seni yang menjurus kepada dekadensi. Nyanyian cabul, perselingkuhan, goyang erotik, propaganda-propaganda emosional dan film-film rusak yang menjurus pada kehancuran kehormatan dan merangsang timbulnya perbuatan keji dan zina.
Dua hal tadi, wanita perayu dan lagu-lagu erotis adalah “lahwal haditsi” dalam konteks ayat 6 surat Luqman ini. Namun bukan tentu saja bukan hanya itu alias masih banyak jenis lainnya. Karya sastra yang isinya tidak mengajak kepada yang makruf, termasuk juga jenis ini. Termasuk para penceramah dan juru kampanye yang menyesatkan umat dengan gayadan retorikanya. Semua jenis manusia ini diancam azab oleh Allah kelak di akhirat.
*Abu Ismail Hania/Suara Hidayatullah
]]>