syaamilquran.com – Keteduhan Itu Bernama Ketaatan – “Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan Kami, anugerahkanlah kepada pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang bertakwa.” (Al-Furqan [25]: 74)
MUQADDIMAH
Abdurrahman bin Jubair bercerita, “Suatu ketika kami duduk bersama al-Aswad. Tiba-tiba seorang lelaki berlalu di hadapan kami sambil berkata, ‘Duhai, alangkah beruntungnya kedua mata yang sempat melihat Nabi Muhammad. Sekiranya kami juga bisa menyaksikan apa yang ia saksikan.’ Mendengar hal itu, Sahabat al-Miqdad terlihat geram. Saya merasa heran, sebab apa yang orang itu katakana tak lain semuanya benar.”
[caption id="attachment_3205" align="aligncenter" width="500"]
Keteduhan Itu Bernama Ketaatan[/caption]
Al-Miqdad lalu menjelaskan, “Apa yang membuat orang itu berharap hadir ketika Allah telah menetapkan baginya untuk tidak hadir. Padahal ia tidak tahu apakah jika ia hidup bersama Nabi Muhammad maka ia pasti beriman. Demi Allah begitu banyak kaum yang hidup bersama Nabi Muhammad, tapi mereka justru tak beroleh hidayah hingga akhirnya tergelincir dan masuk ke dalam jurang neraka. Mereka kalian tak bersyukur telah dicukupkan dari ujian berat yang dialami oleh kaum terdahulu. Kalian lahir dalam keadaan beriman kepada Allah dan mempercayai Nabi Muhammad utusan Allah.
Sungguh Allah mengutus Nabi Muhammad pada masyarakat jahiliyah yang sangat bobrok. Mereka menyembah berhala dan menganggapnya lebih baik dari pada beribadah kepada Allah. Hingga datang Nabi utusan Allah sebagai pembeda antara yang haq dan batil. Nabi bahkan menjadi pemilah antara anak dan orangtuanya disebabkan urusan keimanan yang begit pokok ini. Sungguh mereka benar-benar tidak sampai hati jika mengetahui ada di antara saudara dan keluarga mereka yang masih kafir. Untuk itu, para Sahabat lalu saling berlomba memperbanyak doa yang terdapat dalam ayat ini. (Musnad Ahmad, dengan sanad yang sahih)
MAKNA QURRATU A’YUN
Suatu hari Imam al-Hasan al-Bashir ditanya tentang ayat di atas. Ia lalu menjawab, “Semoga Allah berkenan menampakkan pada seorang hamba ketaatan istrinya, saudara, serta anak-anaknya. Demi Allah tiada yang lebih mahal dan teduh dalam pandangan seorang Muslim (qurratul a’yun) kecuali melihat orang-orang yang dicintainya juga taat beribadah kepada Allah.
Ikrimah menambahkan, bukan kegagahan rupa yang menjadikan pandangan mata itu teduh, namun keteduhan itu diperoleh dengan ketaatan seorang hamba dan orang-orang yang dicintainya.
Selain menjadi harapan melihat ketaatan orang-orang yang dicintainya, mereka juga pada dasarnya adalah menjadi objek dakwah yang paling dekat. Lebih jauh Sayyid Quthub menerangkan, keluarga memiliki hak yang paling besar mendapatkan dakwah dari seseorang dan hendaknya amanah itu ditunaikan sebelum ia dimintai pertanggungjawaban kelak. Allah mengingatkan:
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…” (At-Tahrim [66]: 6)
Tak heran, Nabi Muhammad bersedih hati ketika menyaksikan kematian Abu Thalib yang begitu tragis. Meski dengan gigih Nabi Muhammad berusaha menuntun pamannya berucap kalimat syahadat. Tapi rupanya takdir berkehendak lain, Abu Thalib justru memilih mati dalam keadaan kufur.
Nabi Muhammad bersedih, sebab beliau sangat paham, apalah arti sebuah kebaikan jika tak berbalut keimanan kepada Allah. Nabi Muhammad menyadari jika pundaknya memikul amanah mendakwahi Abu Thalib, sosok pengganti kedua orangtuanya.
BERKAH MENDAPAT KETURUNAN BAIK
Anak saleh adalah harta yang tak ternilai harganya. Bisa dijamin setiap orangtua social,pendidikan, serta kekayaan. Mereka semua punya keinginan yang sama, mendamba lahirnya anak dan keturunan yang saleh. Sebab anak saleh berguna di dunia, terlebih lagi ia menjadi bekal tabungan orangtua di hari Kiamat kelak.
Suatu kebaikan yang berlanjut tentu lebih utama dari pada amalan yang terputus. Semakin langgeng suatu amalan maikn banyak pula orang yang mecicipi kebaikan itu. Karenanya, mufassir ternama Abdurrahman
Dalam syariat Islam, jabatan pemimpin bukanlah sesuatu yang layak dikejar dan diminta. Ia juga tidak perlu diklaim oleh seseorang. Sebab, pemimpin yang benar justru lahir ketika nilai-nilai ketakwaan itu bersemi dalam diri seorang Muslim.
As-Sa’diy dengan terang menyatakan, sesungguhnya doameminta keturunan yang baik bukan ditujukan kepada orang lain. Sebab sejatinya pahala kebaikan tersebut niscaya berpulang kepada orangtua itu sendiri. Hal ini sebagaimana dikuatkan dalam Hadits Rasulullah, “Jika seorang anak Adam meninggal maka terputuslah amalannya, kecuali pada tiga perkara. Sedekah jariyah (yang mengalir, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang senantiasa mendoakan kedua orangtuanya,” (Riwayat Muslim)
KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM
Dalam syariat Islam, jabatan pemimpin bukanlah sesuatu yang layak dikejar dan diminta. Ia juga tidak perlu diklaim oleh seseorang. Sebab, pemimpin yang benar justru lahir ketika nilai-nilai ketakwaan itu bersemi dalam diri seorang Muslim. Abdullah bin Abbas berkata, seseorang disyariatkan berdoadan meminta dengan doa tersebut, sebab di sana terkait dengan pemimpin yang senantiasa mendapatkan hidayah. Sesuatu yang mahal dan sangat dibutuhkan di tengah masyarakat.
Senada dengan yang di atas, Ibrahim An-Nakha’I juga menjelaskan, seorang Muslim tidaklah pantas meminta kepada Allah untuk dijadikan sebagai pemimpin. Kecuali ia meminta dijadikan sebagai qudwah (panutn) bagi orang-orang beriman dalam urusan agama.
Inilah rahasia kepemimpinan di era para ulama saleh terdahulu (as-salaf ash-shalih). Meski di antara mereka bukanlah sebagai pemimpin di tengah masyarakat, namun kiprah keteladanan mereka di tengah umat menjadikan kaum Muslimin tak ragu menyematkan gelar imam kepada Imam asy-Syafi’i, Imam ath-Thabari, Imam al-Bukhari, dan Imam Ibnu Taimiyah. Mereka semua bergelar “imam” bukan karena mereka seorang pemimpin secara jabatan. Namun lebih disebabkan akan keilmuan dan keteladanan mulia yang melekat kuat pada dirinya.
PENUTUP
Bagi seorang Muslim, meraih predikat takwa bukanlah semudah membalik telapak tangan, doa saja tak cukup untuk itu. Terlebih jika ingin memperoleh gelar imam (pemimpin) di kalangan orang-orang yang bertakwa. Hal itu merupakan puncak kenikmatandalam kehidupan ini. Sebab di saat seorang Muslim asyik beramal saleh untuk dirinya, niscaya ketaatan dan keteladanan itu juga memantul kepada keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Mereka tak lagi rishi mencontoh kebaikan tersebut karena ia memang layak ditiru. Alhasil, akan lahir “persaingan” saling berlomba menebar kebaikan yang berujung pada pahala yang mengalir kepadanya tanpa kenal kata putus. * Pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Balikpapan
]]>