Berikut ini akan dibahas mengenai tata cara dan adab yang baik dalam menjenguk orang yang sedang sakit, baik di rumah maupun di rumah sakit. Pada umumnya, orang yang sakit akan memiliki suatu perubahan sikap dari keadaan normalnya. Sikap yang berubah itu bisa bermacam-macam, bisa menjadi lebih sensitif, mudah marah, abai, menjadi lebih sopan, dan sebagainya. Selain itu, mungkin di sekitar orang yang sakit terdapat orang lain seperti orang tua, saudara, teman, kekasih, tetangga, tamu dan sebagainya, baik yang sudah kita kenal maupun yang belum dikenal. Oleh sebab itu, sudah sepatutnya kita menjaga sikap dan sopan santun selama mengunjungi saudara kita yang sakit agar tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. Adapun adab-adab mengunjungi orang sakit di antaranya adalah sebagai berikut.
- Bersikap sopan dan ramah.
- Memakai pakaian yang layak, sopan, dan tidak mengundang syahwat.
- Memberikan bantuan jika dibutuhkan.
- Tidak mengganggu pasien dan penunggunya di rumah sakit atau klinik.
- Jangan berkunjung jika yang sakit sedang tidur atau istirahat.
- Mendoakan si sakit agar cepat lekas sembuh.
- Niat berkunjung dengan ikhlas dan dengan itikad yang baik pula.
- Tidak membawa makanan yang dilarang bagi si sakit.
- Tidak menakut-nakuti yang sedang sakit akan penyakit yang diderita.
- Memberinya nasihat yang baik, di antaranya nasihat untuk bersabar, berbaik sangka kepada Allah Swt., dan menasihatinya agar selalu mengharapkan ridha dan kasih sayang-Nya.
- Menghadapkannya ke kiblat sekiranya si sakit akan mengakhiri hidupnya.
- Menalqinkannya dengan kalimat lâ ilâha ilallâhu. Apabila orang yang kita kunjungi sedang sekarat dan dia seorang muslim, ada baiknya kita bantu mengingatkan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Rasulullah saw. pernah bersabda, ”Talqinkanlah orang yang akan meninggal di antara kamu dengan lâ ilâha ilallâhu.” (HR Muslim)
- Membacakan Al Qur’an surat Yâsîn. Rasulullah saw. bersabda, ”Bacakan surat Yâsîn olehmu kepada orang yang tengah sakit keras.” (HR Abu Dawud dan An Nasa’i).
- Meminta berdoa kepada yang hadir untuk si sakit.
- Membangkitkan semangat dan harapan positif.
- Mendampinginya.
- Memberinya air minum.
- Aisyah berkata, “Jika Rasulullah saw. mendatangi salah seorang keluarganya yang tengah sakit, beliau akan mengusap-usap si sakit dengan tangan kanannya sambil membaca doa, ‘Allahuma Rabbanâ adz hibil ba’sa isyfi Anta syâfi’ la syifâ’an illâ syifâuka, syifâ’an lâ yughâdiru saqaman; Ya Allah, Tuhan sekalian manusia, hilangkanlah segala penyakit, sembuhkanlah, hanya Engkau yang dapat menyembuhkan, tiada kesembuhan kecuali (kesembuhan) dari-Mu, sembuh yang tidak dihinggapi penyakit lagi’.” (HR Bukhari dan Muslim)
- Abu Abdillah bin Abil Ash pernah mengeluhkan penyakit yang dideritanya kepada Rasulullah saw. Beliau kemudian berkata kepada Abu Abdillah, “Letakkanlah tanganmu di tempat yang sakit, lalu bacalah basmallah (tiga kali), kemudian bacalah, ‘A’ûdzu bi izzatillâhi wa qudratihi min syarri mâ ajidu wa uhâ dzîru’(tujuh kali); Aku berlindung pada kemuliaan dan kekuasaan Allah dari bahaya yang aku rasakan dan aku khawatirkan’.” (HR Muslim)
- Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Ketika Rasulullah saw. menjengukku, beliau berdoa, ‘Allahumma syâfi’ Sa’da, Allahumma syâfi’ Sa’da, Allahumma syâfi’ Sa’da’; Ya Allah, sembuhkanlah Sa’ad; ya Allah, sembuhkanlah Sa’ad; ya Allah, sembuhkanlah Sa’ad’.” (HR Muslim)
- Ibnu Abbas berkata bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Barang siapa menjenguk orang sakit yang belum sampai tiba ajalnya, lalu membacakan kepada si sakit doa ini tujuh kali, pasti Allah akan menyembuhkan penyakit si sakit itu.[1]
- Ibnu Abbas berkata bahwasanya Rasulullah saw. pernah menjenguk seorang Arab gunung (Badui). Seperti biasanya, setiap kali Rasulullah saw. menjenguk orang sakit, beliau berkata, “La ba’sa, thahûrun insya Allah; Tidak apa-apa. Semoga penyakit ini menjadi pembersih dari dosa-dosa, insya Allah.” (HR Bukhari)
- Abu Said Al Khudri berkata bahwa Jibril mendatangi Rasulullah saw. dan bertanya, “Muhammad, apakah engkau sakit?”
- Abu Said Al Khudri dan Abu Hurairah menyaksikan Rasulullah saw. berkata sebagai berikut.
“Tidaklah ada perkataan Ibnu Adam yang diucapkannya, kecuali perkataan itu pasti dihisab oleh Allah Swt. termasuk rintihannya ketika dia sakit.”
— Thawus bin Kaisan Al Khaulani —