syaamilquran.com – 1 Jam Ekstra, Agar Allah Tertawa – Kita seringkali rela menambah jam kerja beberapa jam untuk datang tepat waktu ke kantor atau menghindari kemacetan di jalan raya saat pulang kantor. Jika kita rela menambahkan waktu ekstra untuk pekerjaan kita, bisakah kita meluangkan satu jam ekstra di waktu yang lain, yaitu waktu sahur untuk shalat malam. Saat tersebut adalah waktu terbaik untuk berdoa dan mendekatkan diri kepadaNya. Bila kita rela membuang waktu kita beberapa jam setiap hari di jalan raya, mengapa tidak melakukannya secara sukarela menggunakan 1 jam saja di waktu sahur untuk bangun, sholat dan berdo’a?
[caption id="attachment_3347" align="aligncenter" width="343"]Menurut Muhaimin Iqbal, Direktur Gerai Dinar, satu jam untuk sholat malam adalah waktu yang cukup untuk bisa menikmati raka’at-raka’at dan sujud-sujud panjang dalam 11 raka’at shalat malam kita. Waktu yang cukup untuk mengungkapkan segala kegalauan hati kita kepadaNya, memohon pertolongan dan solusi atas segala permasalahan hidup kita hanya kepadaNya.
“Sesungguhnya di malam hari terdapat waktu tertentu, yang bila seorang muslim memohon kepada Allah dari kebaikan dunia dan akhirat pada waktu itu, maka Allah pasti akan memberikan kepadanya, dan hal tersebut ada di setiap malam.” (HR. Muslim)
Dalam sejarah banyak contoh-contoh fenomenal yang menunjukkan telah dipenuhi janjiNya kepada orang-orang yang secara konsisten melakukan sholat malam.
Salahuddin Al-Ayyubi berani berangkat menaklukkan (kembali) Jerusalem dan berhasil – setelah dia dapati pasukannya melakukan shalat malam di tenda-tendanya. Muhammad Al-Fatih tidak pernah meninggalkan sholat malamnya sejak dia baligh, sekitar separuh dari pasukannya-pun melakukan hal yang sama. Hasilnya adalah penaklukkan Constantinopel dengan strategi perang yang tidak terbayangkan sebelumnya – bahkan sulit diulangi untuk jaman modern ini sekalipun.
Kita sekarang memang tidak sedang berperang secara fisik melawan siapapun, tetapi justru itulah umat ini sedang ‘kalah’ dalam berbagai ‘medan peperangan’ yang bersifat sistematis. Kita sedang ‘kalah’ dalam peperangan pemikiran dan budaya, sehingga sebagian kita harus bekerja dengan irama yang membuatnya sulit untuk bisa sholat lima waktu dengan khusyu dan tepat waktu. Bagaimana bisa sholat tepat waktu dengan khusyu bila waktu adzan Maghrib dan Isya’ masih di tengah kemacetan lalu lintas?
Dalam skala pribadi-pun kita lebih banyak ‘kalah’ dengan sistem yang ada, misalnya ketika kita berusaha membangun usaha yang bebas riba, riswah dan sejenisnya; Kita sering ‘kalah’ ketika berusaha membangun lingkungan kerja yang bersih dari apa-apa yang tidak diridhoiNya.
Banyak sekali ‘peperangan’ yang masih harus kita menangkan, sedangkan kita amatlah lemah kecuali bila kita bisa menghadirkan pertolonganNya. Sholat malam adalah salah satu jalan untuk menghadirkan pertolonganNya. Hanya pertolonganNya-lah yang bisa menyempurnakan segala usaha kita. Bila untuk ini diperlukan 1 jam ekstra di waktu sahur, apakah terlalu berat untuk mendapatkan satu jam ekstra yang sangat berharga tersebut?
Bukan hanya berharga untuk kehidupan kita di dunia tetapi juga yang lebih utama tentu untuk kehidupan kita di akhirat nanti. Sholat malam kitalah yang insyaAllah bisa membuat Allah tertawa, dan bila Allah tertawa pada kita selagi hidup di dunia – insyaAllah kita tidak akan dihisabnya di akhirat kelak. Dalilnya adalah dua hadits berikut :
“Ketahuilah, sesungguhnya Allah tertawa terhadap dua orang laki-laki: Seseorang yang bangun pada malam yang dingin dari ranjang dan selimutnya, lalu ia berwudhu’ dan melakukan shalat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada para Malaikat-Nya, ‘Apa yang mendorong hamba-Ku melakukan ini?’ Mereka menjawab, ‘Wahai Rabb kami, ia melakukan ini karena mengharap apa yang ada di sisi-Mu dan takut dari apa yang ada di sisi-Mu pula.’ Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Aku telah memberikan kepadanya apa yang ia harapkan dan memberikan rasa aman dari apa yang ia takutkan.” (HR. Ahmad).
Dari Nu’aim bin Hammaar : “Bahwasannya ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam: “Syuhadaa’ apa yang paling utama?”. Rasulullah bersabda: “Orang yang apabila masuk di barisan perang/jihad, maka mereka akan memfokuskan wajah-wajah mereka hingga terbunuh. Mereka itulah orang-orang yang pergi menempati kamar-kamar di surga yang tinggi. Rabb mereka tertawa kepada mereka. Dan apabila Rabb mu tertawa kepada seorang hamba di dunia, maka ia kelak tidak akan dihisab.” (HR. Ahmad).
Mari kita luangkan 1 jam di malam hari untuk membuat Allah tertawa selagi kita hidup di dunia ini, agar kita juga bisa terus tertawa di dunia ini sampai akhirat nanti. Kita sudah rela membuang waktu kita berjam-jam setiap hari untuk berbagai aktivitas kita yang lain, mengapa tidak meluangkan yang 1 jam di waktu sahur ini untuk beribadah dan memohon pertolonganNya ? Insya Allah kita bisa!*** (syaamilquran.com/ sumber: hidayatullah)
]]>