وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين حنفاء ويقيموا الصلاة ويؤتوا الزكاة وذلك دين القيمة
Allah Swt. berfirman, Padahal, mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus (QS Al Bayyinah, 98: 5).
Dalam firman-Nya yang lain diungkapkan, Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwan dari kamulah yang dapat mencapainya (QS Al Hajj, 22: 37).
Ibnu Abbas r.a. menuturkan bahwa maksud ayat ini. “… tetapi niat-niat kalian yang dapat mencapainya.”
Riwayat dari Imam Al Hafidz Abu Al Baqa Khalid bin Yusuf bin Al Hasan bin Sa’ad bin Al Hasan bin Al Mufarrij bin Bakar Al Muqaddasi An Nablasi bersumber dari Ad Damsyiqi r.a.; kabar dari Abu Yaman Al Kindi, Muhammad bin Abdul Baqi Al Anshari, Abu Muhammad Al Hasan bin Ali Al Jauhari, Abu Husain Muhammad bin Al Mudhfir Al Hafidz, Abu Bakar Muhammad bin Sulaiman Al Washithi; cerita Abu Nu’aim ‘Ubaid bin Hisyam Al Halabi dan Ibnu Al Mubarak dengan isnad dari Muhammad bin Ibrahim At Taimi, dari ‘Alqamah bin Waqash, dari Umar bin Khathab r.a., Rasulullah saw. bersabda, Sesungguhnya, segala amal perbuatan bergantung pada niat; dan setiap orang bergantung pada sesuatu yang sudah menjadi niatnya. Barang siapa hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, dia telah hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa hijrah untuk urusan dunia yang dialaminya atau untuk wanita yang dinikahinya, hijrahnya adalah untuk perkara yang menjadi tujuan hijrahnya.
Hadits ini adalah hadits sahihyang telah disepakati kesahihannya. Hadits ini memiliki posisi yang mulia dan terhormat. Hadits ini juga termasuk satu di antara hadits-hadits pokok dalam hukum Islam. Para ulama salaf ataupun ulama modern sangat senang menjadikan hadits ini sebagai pembuka kitab karangan-karangan mereka dengan tujuan sebagai peringatan kepada para pembaca agar selalu berniat baik dan memerhatikan niat baik dengan sungguh-sungguh.
Imam Abu Sa’id Abdurrahman bin Mahdi berkata, “Barang siapa yang bermaksud mengarang kitab, hendaknya dimulai dengan hadits ini.”
Imam Abu Sulaiman Al Khathabi juga berucap, “Guru-guru kami yang terdahulu sangat senang membuka karya ciptaan dan karangan mereka dengan hadits tentang niat karena niat memang sangat dibutuhkan dalam segala hal.”
Ibnu Abbas r.a. berucap, “Seseorang mendapat perlindungan sesuai dengan kadar niat hatinya.”
Ada pula yang mengatakan, “Manusia mendapat anugerah sesuai dengan kadar niat mereka.”
As Sayyid Al Jalil Abu Ali Al Fudhail bin ‘Iyadh r.a. mengatakan, “Meninggalkan suatu perbuatan karena manusia adalah ria. Melakukan suatu perbuatan karena orang lain adalah syirik. Sementara itu, ikhlas adalah jika engkau menjaga kedua hal itu (meninggalkan dan melakukan suatu perbuatan) hanya karena Allah.”