Syaamil Quran

Peringatan untuk Sang Imam

Suatu hari, seorang laki-laki datang ke masjid sambil menuntun dua ekor unta. Dia meninggalkan untanya di halaman masjid lalu melaksanakan shalat Isya. Saat itu, Mu’adz bin Jabal sedang mengimami shalat. Laki-laki itu pun segera bergabung dengan jamaah Mu’adz. Namun, ketika Mu’adz membaca surat Al Baqarah, laki-laki itu segera memisahkan diri dari jamaah dan melakukan shalat sendiri.

Setelah shalat selesai, orang-orang di masjid memberi tahu Mu’adz tentang apa yang dilakukan laki-laki itu. Mu’adz pun berkata, “Sesungguhnya, dia orang munafik.”

Ucapan Mu’adz tadi sampai ke telinga laki-laki itu. Dia merasa sedih. Kemudian, laki-laki itu menghadap Rasulullah.

“Ya, Rasulullah,” katanya, “tadi malam saya ikut berjamaah shalat isya. Mu’adz yang menjadi imamnya. Namun, ketika dia membaca surat Al Baqarah, saya memisahkan diri dan memilih shalat sendiri. Saya melakukannya karena saya adalah orang yang bekerja menyiram tanaman dengan menggunakan unta. Itu sebabnya saya harus segera menyelesaikan shalat. Tetapi, Mu’adz malah menyebut saya orang munafik.”

Nabi pun memanggil Mu’adz. Beliau berkata, “Wahai Mu’adz, apakah engkau orang yang suka menyebabkan kesulitan? Alangkah baik jika engkau membaca sabbihisma Rabbikal A’la, wasy syamsyi wa dhuhaaha, wallaili idzaa yaghsyaa,” Nabi menyebut tiga surat pendek, “sebab, dalam jamaahmu ada orang tua, orang yang sakit dan lemah, serta orang-orang yang memiliki keperuan,” tambah Nabi lagi.

Nabi mengatakan itu sampai tiga kali. Nabi ingin Mu’adz menyadari kekeliruannya. Dia telah menuduh orang lain munafik, padahal orang itu hanya sedang terburu-buru.

Mendengar nasihat Nabi, Mu’adz pun sadar. Sejak saat itu, Mu’adz selalu memerhatikan keadaan jamaahnya ketika menjadi imam shalat.

***

Seorang imam harus mengerti keadaan makmumnya. Jadi, dia bisa menyesuarikan surat yang dibacanya dalam shalat. Tidak terlalu lama atau terlalu singkat. 

]]>

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *