Syaamil Quran

Kisah: Malaikat Pun Harus Turun Tangan

Ibnu Abi Dunya meriwayatkan suatu kisah dari Al Hasan tentang sahabat Anshar, yaitu Abu Muallaq yang berprofesi sebagai pedagang. Selain menjalankan modalnya sendiri, Mu’allaq juga mendapatkan modal dari orang lain. Ia adalah pekerja keras, ahli ibadah, dan terjauh dari segala perbuatan haram (wara’). Di saat ia berkeliling menjual dagangannya, tiba-tiba sekawanan perampok menghentikan langkahnya.

“Letakkan bawaanmu, aku akan membunuhmu,” bentak perampok itu.

Abu Mu’allaq menjawab, “Apakah yang kau inginkan dari kematianku? Jika harta, ambillah seluruhnya.” “Hartamu itu untukku, dan aku tidak menginginkan apa-apa kecuali darahmu!” gertak sang perampok.

Abu Mu’allaq kembali menjawab, “Jika engkau menolak, berikan kesempatan kepadaku untuk melakukan shalat empat rakaat.”

Penjahat itu pun menyetujui, “Silakan sesukamu.”

Mu’allaq segera mengambil air wudhu, lalu shalat empat rakaat. Pada sujudnya yang terakhir ia berdoa, “Ya Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Ya Allah yang memiliki mahligai yang mulia.

Wahai yang bisa berbuat apa saja yang dikehendaki, hamba memohon kepada-Mu atas kemuliaan-Mu yang tiada bisa dipisahkan, dan dengan kerajaan-Mu yang tidak bisa dikurangi, dan dengan cahaya-Mu yang menerangi segala singgasana-Mu. Lindungi hamba dari perampok ini. Ya Allah yang Maha Penolong, tolonglah hamba.”

Doa tersebut dibaca tiga kali. Tiba-tiba ada seorang penunggang kuda datang. Di tangannya ada sebuah senjata yang diletakkan di antara kedua telinga kuda tersebut. Ia melihat perampok tersebut dan menusuknya hingga mati. Lalu, penunggang kuda itu mendekati si pedagang seraya berkata, “Bangunlah!”

Abu Mu’allaq bertanya, “Siapakah Anda?”

“Saya malaikat penghuni langit keempat. Engkau telah berdoa dengan doamu yang pertama dan saya mendengar di pintu-pintu langit suatu bunyi. Lalu engkau berdoa untuk kedua kalinya, maka saya mendengar derap langkah penghuni langit. Lalu engkau berdoa ketiga kalinya, maka dikatakan kepada saya, ’Doa itu dari orang yang ada dalam keadaan bahaya.’ Saya meminta kepada Allah agar Dia mengutus saya membunuh perampok itu.” Í

 

“Barangsiapa hatinya dihadirkan oleh Allah kala berdoa, niscaya doa itu tidak akan ditolak” — Yahya bin Mu’adz Ar Razi —

Sumber: Tauhid Nur Azhar & Sulaiman Abdurrahim. 114 Kisah Nyata Doa-Doa Terkabul. Arkanleema. 2009.

]]>

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *