Keikhlasan sejati membutuhkan ketundukkan dengan penyerahan total kepada Allah. Akan tetapi, ketundukan ini haruslah tidak bersyarat. Seseorang yang ridha kepada ketentuan Allah, tetapi hanya bersyukur dan berserah diri kepada Allah dalam kondisi tertentu saja, tidak dapat dikatakan berserah diri jika ia menjadi pemberontak dan tidak patuh saat kondisinya berubah. Sebagai contoh, orang yang memiliki hubungan bisnis yang baik dan mendapatkan sejumlah uang sering mengatakan bahwa Allah-lah yang mengizinkan kondisi kekayaan dan keberuntungannya. Namun, saat segalanya memburuk, ia tiba-tiba berbalik dan melupakan kepatuhannya kepada Allah.
Dengan rasa takut kepada Allah, setiap mukmin sejati ingin selalu menyucikan diri dari sisi jahat jiwanya. Ia berusaha untuk mendapatkan keagungan akhlaq dengan menggunakan kesadaran dan kecerdasannya dengan sebenar-benarnya.

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharapkan keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS Al-Kahf, 18: 28)
Jika seseorang dengan tulus meyakini keberadaan Allah dan hari Akhir, ia tidak akan berbuat sebaliknya. Karena itu, ia tahu pasti bahwa ia bertanggung jawab akan setiap detik kehidupannya di dunia dan ia layak mendapatkan kehidupan yang abadi di surga-Nya.
(dikutip dari Harun Yahya, Keikhlasan dalam Telaah Al-Qur’an, 2003)
]]>