Pada dasarnya, manusia itu “pelupa”. Inilah sebabnya, Allah memerintahkan kepada orang beriman untuk menulis perjanjian di antara mereka, dengan dihadiri para saksi. Hal ini seperti difirmankan Allah Swt. dalam surah Al-Baqarah ayat 282.
Bagi mereka yang lupa bahwa dunia merupakan tempat sementara dan mereka yang tidak memperhatikan ayat-ayat Allah, tetapi merasa puas dengan permainan dunia dan kesenangan hidup, menganggap memiliki diri mereka sendiri, serta menuhankan diri sendiri, Allah akan memberikan hukuman yang berat. Al-Qur’an menggambarkan keadaan orang yang demikian.
Tidak sedikit manusia yang lebih mengejar keduniawian dan melupakan akhirat. Mereka lebih senang untuk menumpuk harta dan lupa untuk menegakkan shalat, memberi sedekah kepada kaum miskin, dan menjalankan ibadah yang akan menyejahterakan mereka pada hari Kemudian. Mereka berkata, “Saya punya sesuatu untuk dikerjakan”, dan “Saya punya cita-cita”, “Saya bertanggung jawab”, “Saya tidak punya cukup waktu”, “Saya punya sesuatu untuk diselesaikan”, dan “Saya akan lakukan nanti”. Mereka menghabiskan kehidupannya hanya untuk memenuhi kehidupan dunia.
Inilah penyebab banyak orang membodohi diri sendiri ketika mereka menimbun harta dan kekayaan atau “kapal yachts, helikopter, saham, rumah, dan tanah”seolah-olah benar-benar ada. Mereka lupa bahwa akan ada hari perhitungan kelak.
(dikutip dari Harun Yahya, Memahami Allah Melalui Akal, 2005)
]]>