Nabi Ibrahim sering disebutkan di dalam Al-Qur’an dan mendapat tempat yang istimewa di sisi Allah sebagai contoh bagi manusia. Dia menyampaikan risalah Allah kepada umatnya yang menyembah berhala dan mengingatkan mereka agar takut kepada Allah. Kaum Ibrahim tidak mendengarkan peringatan itu, bahkan menentangnya. Ketika penindasan kaumnya meningkat, Ibrahim terpaksa menyingkir bersama istrinya, Nabi Lut, dan beberapa orang pengikutnya.
Ibrahim adalah keturunan Nuh. Al-Qur’an mengemukakan bahwa dia mengikuti ajaran Nabi Nuh. Kaum Nabi Ibrahim adalah penyembah langit dan bintang-bintang. Dewa yang terpenting adalah “Sin”, sang dewa bulan. Ia digambarkan sebagai sesosok manusia berjanggut panjang, memakai pakaian panjang bergambar bulan sabit. Mereka juga membuat gambar-gambar timbul dan patung-patung dari tuhan mereka dan menyembahnya.
Mereka terus menyembah tuhan-tuhan tersebut hingga sekitar tahun 600 M. Akibatnya, di daerah yang membentang dari Mesopotamia hingga ke kedalaman Anatolia, banyak terdapat bangunan yang dikenal sebagai “zigurat”, yang digunakan sebagai pengamat bintang sekaligus kuil peribadatan dan di sinilah beberapa tuhan, terutama dewa bulan yang bernama “Sin”disembah. Bentuk kepercayaan ini sekarang hanya dapat ditemukan dalam penggalian arkeologis.
Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, Ibrahim menolak penyembahan tuhan-tuhan tersebut dan menyembah Allah semata, satu-satunya Tuhan yang sebenarnya. Nabi Ibrahim menyeru mereka untuk beribadah hanya kepada Allah dan mengesakan-Nya karena tuhan-tuhan kecil yang mereka sembah adalah berhala-berhala yang tidak memiliki manfaat atau bahaya apa pun. Ibrahim berkata, “Mengapa kalian menyembah tuhan selain Allah yang tidak bermanfaat dan membahayakan kalian sedikit pun?” Ibrahim juga menyampaikan seruan itu kepada ayahnya.
(dikutip dari Harun Yahya,Jejak Bangsa-Bangsa Terdahulu, 2007)
]]>