Sifat yang paling mendasar dari orang-orang kafir adalah ketidakikhlasan mereka. Mereka tidak ikhlas kepada Allah, orang lain, dan bahkan kepada diri mereka sendiri. Meski mereka berlaku hangat ketika berhadapan dengan orang lain demi kepentingan mereka, pada saat yang sama mereka merasa benci atau cemburu kepadanya. Meskipun mereka tahu kesalahan dan kejahatan perbuatan mereka sendiri, mereka menyembunyikan kenyataan ini di alam bawah sadar mereka dan berbuat layaknya orang yang benar dan sempurna.
Ketidakikhlasan ini berasal dari anggapan bahwa tidak seorang pun mengetahui rahasia di dalam hati mereka sehingga orang bersalah tersebut dapat berbuat layaknya mereka yang tidak bersalah meski telah melakukan dosa atau kesalahan. Sesungguhnya, mereka benar-benar tidak mengetahui apa yang dipikirkan orang lain dan mereka tidak pernah menyadari bahwa Allah mengetahui semua yang dipikirkan dan semua rahasia hati, termasuk pikiran alam bawah sadar yang mereka sendiri tidak mengetahuinya.
Perilaku orang beriman haruslah benar-benar didasari keikhlasan dan kerendahan hati di hadapan Allah karena Allah yang menciptakan dan mengetahui segala sesuatu sehingga tidak mungkin kita berpurapura di hadapan-Nya. Seseorang harus mengakui semua kelemahan, kesalahan, dan kekhilafannya, meninggalkan kemaksiatan dan kembali kepada Allah, serta meminta pertolongan dan ampunan-Nya.
Sebelum seseorang memahami kelemahan dan ketergantungannya kepada Allah, dia tidak dapat memiliki sifat tabah, rendah hati, beriman, dan berani hanya dengan berpurapura bersifat demikian karena “Manusia dijadikan bersifat lemah”(QS An-Nisa’, 4: 28) agar mengerti kelemahannya di hadapan Allah. Oleh karena itu, seseorang harus percaya dan berserah diri kepada Allah serta mengungkapkan kesalahan dan dosanya sebelum memohon ampunan.
(dikutip dari Harun Yahya. Nilai-Nilai Moral Al-Qur’an, 2004)
]]>