Salah satu amalan yang sangat dianjurkan dilakukan kaum muslimin adalah membaca Al Quran dan menghafalnya. Anjuran tersebut bukan tanpa alasan. Sebagai kitab penyempurna kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya, Al Quran memiliki beberapa keistimewaan, salah satunya sebagai pemberi kehidupan pada jiwa, akal dan jasad manusia.
Tentang peran Al Quran bagi jiwa, Sayyid Quthb, dalam Fi Dzilal, juz 5 hal 3171, mengatakan:
“Di dalamnya terdapat kehidupan yang dapat menyebarkan, mendorong, menggerakkan dan mengembangkan kehidupan di dalam hati dan realitas aktivitas yang dapat disaksikan.”
Sering kita dengar, Al Quran adalah Ghidza Ruhi (santapan rohani). Artinya, ayat-ayat Al Quran sangat dibutuhkan rohani kita, sama seperti tubuh yang membutuhkan makanan. Jika tubuh bisa sakit kalau tidak diberi makanan, maka rohani pun akan sakit kalau santapannya tidak terpenuhi.
Rohani yang sehat dan kuat terkadang melebihi kekuatan tubuh yang sehat dan kekar, apalagi kalau kedua unsur tersebut sehat, maka sempurnalah manusia itu dalam hidupnya.
Wujud dari mukmin yang Qurani salah satunya adalah bersemangat untuk berjihad di jalan Allah. contohnya adalah Amr bin Al Jamu, seorang sahabat Rasulullah yang kakinya pincang. Secara syar’i, karena keadaannya beliau diperbolehkan untuk tidak berangkat jihad. Namun, karena ruhiyahnya menyatu dengan surga Allah, ia memaksa Rasulullah agar diizinkan ikut berjihad, dengan mengatakan “Demi Allah, sungguh aku berharap dapat menginjakkan kepincanganku ini di Al Jannah.”
Orang-orang yang menghafalkan Al Quran sesungguhnya bukan sedang menghafal kata-kata yang tidak memiliki misi khusus, sebagaimana orang yang mghafalkan syair-syair atau puisi yang ditulis manusia. Melainkan, sedang menghafalkan sesuatu yang memberi kehidupan pada jiwa, akal dan jasadnya.
Tilawah Al Quran, apalagi menghafalnya merupakan upaya yang sangat efektif untuk memperoleh ruh Al Quran sehingga ruh kita penuh dengan ayat-ayat Allah, yang menjadikannya kuat dalam mengarungi kehidupan, yang tidak pernah lepas dari ujian. Karena itu… Ayo, ngaji tiap hari!*** (roni ramdan/ sumber: Kiat Sukses menjadi Hafizh Qur’an Da’iyah)
]]>