syaamilquran.com – Al Qur’an dan Stabilitas Mental – Sebuah studi mengkonfirmasi dampak besar dari tekanan psikologis yang dialami seseorang akan berpengaruh pada kinerja sistem kekebalan tubuh. Penelitian yang di terbitkan jurnal Proceeding of the National Academy of Science membuktikan bahwa sel-sel kekebalan tubuh yang dimiliki perempuan lebih rentan bila ia menderita tekanan psikologis yang tinggi.
[caption id="attachment_3697" align="aligncenter" width="339"]
Al Qur’an dan Stabilitas Mental[/caption]
Hasil ini menambahkan dimensi baru terhadap efek stres yang sebelumnya terbatas pada efek fisiologis, sebab menyebutkan adanya efek yang jelas pada sistem kekebalan tubuh. Penelitian ini di fokuskan pada Telomeres yang ada dalam gen sel-sel kekebalan tubuh 58 orang perempuan, yang berusia antara usia 20-50 tahun. Telomeres merupakan ujung kromosom yang mengurangi produksi sel, dimana dalam kedokteran faktor produksi sel tersebut menjadi rujukan perkiraan hidup seseorang.
Studi ini juga menyimpulkan bahwa telomere dalam sel tubuh perempuan, bila terkena terkena tekanan psikologis yang kuat bisa mengurangi usia kehidupannya 10 tahun dibandingkan dengan mereka yang tidak mengalaminya. Tekanan psikologi yang terjadi terus menerus bisa memperpendek usia sel-sel tubuh dan yang terpenting adalah sel yang berfungsi sebagai daya kekebalan tubuh. Itulah yang dikatakan peneliti Elisa Apia, asal University of California, San Fransisco. Para peneliti mengatakan, bahwa mekanisme yang menghubungkan antara akal pikiran dan sel tubuh masih belum diketahui. Namun kini mereka terus bekerja untuk melihat apakah ada jenis sel lain yang dapat di pengaruhi oleh tekanan psikologis.
Stress dan Serangan Jantung
Sebuah studi baru memberi bukti ilmiah bahwa tingkatan stress atau tekanan mental atau fisik secara ekstrim bisa memacu rasa nyeri di dada dan serangan jantung. Kondisi seperti ini akan semakin besar peluang terjadinya terutama bagi mereka yang sedikit bergerak dan yang memiliki faktor resiko tinggi. Para peneliti merujuk beberapa penelitian yang di terbitkan tentang subjek ini, dan mereka menemukan bukti bahwa tekanan secara fisik, stress, kemarahan dan letupan emosi yang kuat, semua menginduksi adanya gejala serangan jantung yang bisa dalam bentik gagal jantung. Gejala-gejala itu sudah dapat terjadi hanya dalam waktu satu atau dua jam dari peristiwa yang dialami.
Sejumlah peneliti dalam studi yang dipublikasikan jurnal Psychosomatic Medicine menyampakan kesimpulan mereka seputar faktor-faktor eksternal yang mengakibatkan serangan dan gagal jantung. Mereka menyebutkan bahwa kondisi emosi dan psikologis seseorang dapat mengakibatkan perubahan yang mengarah langsung pada serangan jantung dan lain-lain. Studi ini mengambil referensi banyak studi sebelumnya yang dilakukan sepanjang tahun 1970 dan 2004 terkait rangsangan perilaku dan emosi. Disebutkan dalam penelitian itu, sejumlah penyakit yang tercantum tadi biasanya merupakan akibat peristiwa bencana alam, perang dan pertandingan olah raga.
Faktor-faktor yang merangsang efek nyeri di dada secara tiba-tiba, bisa juga disebabkan aktifitas seksual, minum alkohol, kegelisahan saat tidur, makan makanan berlemak dan lain sebagainya. Akan tetapi penelitian ini masih harus diperluas untuk memperkuat pembuktiannya.
Tekanan Psikologis dan Kangker Kulit
Para peneliti melakukan eksperimen terhadap binatang, dan melansir penelitiannya melalui Journal of American Academy of Dermatology. Mereka menyebutkan bahwa tikus yang mengalami tekanan psikologis, dan dengan bersamaan dengan radiasi sina UV, akan lebih cepat mengalami kangker kulit dibandingkan dengan tikus yang hanya terkena sinar UV saja.
Para peneliti juga menyimpulkan bahwa efek yang sama juga akan terjadi pada manusia. Mereka menyebutkan bahwa program pengurangan stress mental bisa dilakukan melalui yoga, atau latihan meditasi, yang dianggap dapat mengurangi resiko kangker kulit sekaligus mengurangi tekanan stress. Itulah yang di sampaikan oleh Francisco Tusk, asisten profesor di Departemen Dermatology, Hopkins lembaga Johns Medis.
Penelitian itu dilakukan pada 40 tikus. Salah satu tikus yang mengalami kangker kulit adalah tikus yang mengalami tekanan mental dan terkena radiasi UV selama delapan minggu. Dan setelah melewati 21 minggu tikus yang mengalami tekanan mental dan radiasi UV, 14 tikus diantaranya menderita kangker kulit parah dari total 40 tikus. Dibandingkan hanya ada 2ekor tikus saja yang terkena kangker kulit, yang hanya terkena radiasi UV tanpa tekanan mental.
Sebagian besar kangker kulit merupakan jenis sel tumor berduri, sejenis tumor ganas berpigmen yang sangat bisa menyebar ke bagian lain dari tubuh. Para peneliti mengatakan, mereka akan melakukan tes tambahan, untuk menentukan sejauh mana pengaruh tukanan psikologis dalam konteks kangker kulit pada manusia.
DR Tusk mengatakan ada banyak bukti dari efek negatif dari stress yang kronis terhadap sistem kekebalan tubuh dan bagian lain dari tubuh manusia. Akan tetapi untuk membantu menemukan strategi terapi yang baik, kita perlu memahami lebih jauh mekanisme tekanan mental yang mempengaruhi terjadinya terjadinya kangker.
Tekanan Psikologis Memicu Kolesterol
Sebuah penelitian baru menunjukan adanya hubungan antara tingkat kolesterol dalam darah, dan tekanan psikologis yang dialami seseorang, sekaligus bagaimana cara penanganannya. Diantara keseimpulan penelitian tersebut, tingkat kolesterol orang yang mengalami tekanan mental dan stress jauh lebih tinggi dan memburuk selama beberapa tahun, dibandingkan dengan orang yang tidak mengalami stress.
Penelitian yang dipimpin oleh Andrew Steptoe dari University College London, melibatkan 200 orang pria dan wanita, usia pertengahan. Tidak satupun dari mereka yang mengalami masalah jantung atau tekanan darah tinggi. Sampel darah mereka diambil dan dilakukan penelitian tingkat tekanan psikologis yang mereka alami. Selanjutnya dilakukan dua jenis tes psikologi dan jumlah kolesterol dalam darah mereka juga di ukur. Dari data itu di peroleh pertambahan kolesterol normal.
Ketika kalibrasi ini di ulang kembali tiga tahun kemudian, hasilnya kenaikan kolesterol dalam tingkat yang sama baik pada objek pria maupun wanita, seperti penelitian sebelumnya. Namun penelitian ini menangkap perubahan faktor-faktor tertentu, seperti ukuran dan berat tubuh, merokok, terapi hormon, dan konsumsi alkohol.
Dibagian akhir penelitian yang disebarkan melalui Health Psychology, peneliti mengatakan bahwa terjadi reaksi meningkatnya kolesterol akibat adanya tingkatan terterntu tekanan psikologis seseorang. Meningkatnya kolesterol merupakan respon dari tekanan psikologis yang dialami terus menerus, akan menyebabkan meningkatnya kolesterol dalam tiga tahun berikutnya.
“Kita harus tahu bahwa interaksi seseorang dengan peristiwa yang memberi tekanan mental merupakan salah satu mekanisme yang dapat meningkatkan tingkat kolesterol dalam darah,” ujar Andrew Steptoe. Tekanan psikologis yang dialami seseorang pun berbeda-beda bentuknya, ada tekanan yang terjadi akibat menderita penyakit kronis, akibat suatu pekerjaan, karena ujian, khawatir terhadap kerugian finansial, jumlah rekening uang di bank. Setiap orang mengalami tekanan yang berbeda-beda terhadap masalah-masalah yang dihadapinya.
Bagaimana dengan seorang mukmin?
Seorang mukmin, sejatinya adalah manusia yang jauh dari tekanan psikologis atau stress. Mengapa? Sebab Allah swt telah membekali mereka dengan terapi luar biasa, yakni kesabaran. Allah swt berfirman, “Dan jika kalian bersabar dan bertakwa, maka sesengguhnya itu urusan yang patut diutamakan.” (QS. Ali Imran:186)
Orang yang tak kenal dan meyakini adanya Allah, memandang dunia adalah akhir segalanya. Tak ada lagi kehidupan setelah kematian. Inilah yang menambah beban dan tekanan psikologis mereka, sebab mereka ternyata tak mampu menemukan solusi atas berbagai persoalan hidup dan obsesi yang mereka alami.
Sedangkan orang mukmin, melandaskan segala hidupnya untuk mencari keridhaan Allah swt. Mereka juga mengatasi tekanan psikologis dan stress yang mungkin melandanya, dengan ketenangan, sikap ridha dan bahagia. Lihatlah, berapa banyak orang beriman yang terlihat menghadapi situasi yang begitu sulit dan mengguncangkan jiwa, tapi ia tetap tampil bersahaja, tenang, dan ridha pada keputusan Allah swt.
Sebab itu, Rasulullah saw bersabda, “Menakjubkan perkara orang beriman. Bila di timpa kesulitan, ia bersabar, dan itu baik baginya. Dan bila mengalami kesenangan, ia bersyukur, dan itupun baik baginya.”
Dari sini kita pun mengerti sejauh mana urgensi keimanan kepada Allah swt. Para ilmuan Inggris telah meneliti bahwa keimanan seseorang kepada Allah swt mengurangi rasa sakit yang dirasakannya. Dalam harian Daily Mail yang diterbitkan di Inggris, disebutkan bahwa para akademisi Inggris di Oxford Centre of Science telah menguji 12 orang beragama Katolik dan 12 orang atheis untuk memeriksa perbandingan rasa sakit yang mereka alami melalui sengatan listrik. Ternyata hasilnya, orang yang beragama Katolik yang percaya pada Tuhan, memiliki kemampuan untuk menahan rasa sakit yang disebabkan kejutan listrik dan mereka mampu mengaktifkan salah satu bagian dari otak yang mengontrol rasa nyeri.
Para peneliti menemukan bahwa bagian kanan merupakan mekanisme saraf yang aktif sehingga mampu mengontrol rasa nyeri. Sedangkan orang-orang yang tak percaya tuhan, mekanisme saraf di sisi kanan otak mereka tidak memiliki kemampuan mengontrol rasa sakit. Kondisi ini terus menerus terjadi, selama percobaan berlangsung.
Perhatikanlah bagaimana keimanan kepada Allah swt memberikemampuan sabar dan kemampuan menanggung kesulitan bagi kita. Sayangnya, kebanyakan percobaan itu masih dilakukan oleh dan dengan orang Non Muslim. Tak mengapa kita mengetahui hal ini, karena Islam merupakan agama yang sangat kuat. Jika orang Non Muslim yang percaya tuhan bisa mendapat manfaat sedemikian rupa, apalagi seorang Muslim yang mengikuti agama yang haq? Tentu saja pengaruh keimanannya bisa seratus kali lebih kuat.
Renungkanlah bagaimana Allah swt memerintahkan kita untuk bersabar. Dan Dia menegaskan bahwa Dia bersama kita selama kita bersabar. “Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. (QS. Al Anfal:46) (sumber: Tarbawi. Edisi 292 Th.14, Rabiul Akhir 1434, 7 Maret 2013)
]]>