Syaamil Quran

Mencapai Keikhlasan

syaamilquran.com – Mencapai Keikhlasan – Dalam persiapan untuk menjumpai Tuhan semesta alam, tidak ada yang lebih penting daripada mengecek keikhlasan kita. Allah SWT berfirman:

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (QS Al-Kahf:110)

Ayat ini merupakan perwujudan dari dua pilar tentang penerimaan. Siapapun yang berharap untuk dirahmati oleh Tuhan-nya, dan berharap untuk dapat hidup abadi sebagai hamba-Nya, harus lah memenuhi dua hal sebagai berikut:

– Keikhlasan: yaitu bahwa tidak ada sesuatu pun yang terlibat dalam motivasi dan niat kita selain Allah SWT.

– Amal salih: yaitu sesuatu yang didefinisikan sebagai sesuatu yang baik dan benar sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW

[caption id="attachment_3381" align="aligncenter" width="400"]Mencapai Keikhlasan Mencapai Keikhlasan[/caption]

Dari refleksi di atas, hal itu disadari sebagai dasar dari Islam, yang merupakan esensi dari pilar yang pertama: Tidak ada tuhan selain Allah (keikhlasan), dan Muhammad adalah utusan Allah (amal salih)

Bagaimana pun, yang paling penting dari dua pilar di atas adalah keikhlasan, yang biasanya berkompensasi dengan hal-hal lain, tetapi tidak akan ada yang dapat mengompensasi keikhlasan. Sebagaimana yang dikatakan oleh ulama, “Allah mungkin akan menerima setengah dari amalanmu, tetapi tidak akan menerima setengah dari niatmu.” Yang lainnya meilustrasikan perbedaan hal itu dengan mengatakan, “Amalan yang tidak sempurna yang dilakukan dengan keikhlasan, seperti halnya nelayan yang membawa jaring rusak ke dalam sebuah kolam yang ada ikannya. Dan sebuah amalan yang sempurna yang dilakukan tanpa keikhlasan, seperti halnya seorang nelayan yang membawa jaring yang sempurna ke dalam sebuah kolam yang tidak ada ikannya.” Perkara pertama, orang tersebut mungkin akan mendapatkan ikan, walaupun jaring yang ia pakai rusak, tetapi tidak akan ada kesempatan untuk perkara kedua untuk menangkap ikan, walaupun peralatan memancing yang digunakannya sempurna.

Tetapi, itu bukan berarti menjadi hal yang melemahkan pilar kedua, tetapi menjadi hal yang harus dipahami bahwa kita harus membangun pilar pertam sebaik mungkin. Faktanya, keikhlasan yang benar adalah kewajiban yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Jika seseorang hanya berharap pada ridho Allah, dia akan menyelidiki apa yang dia lakukan hanyalah untuk mengharap ridho-Nya, dan pasti akan diikuti pula bahwa semuanya adalah jalan terbaik yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.

Definisi Keikhlasan

Secara bahasa, ikhlas berarti memisahkan dan membedakan. Yahya bin Mu’adh ar-Razi berkata, “Ikhlas adalah menyaring setiap amalan dari setiap keburukan, seperti halnya menyaring susu dari darah dan kotoran.” Beliau mereferensikan perkataannya dari firman Allah:

Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. (QS An-Nahl 16:66)

Manfaat dari mengetahui arti dari istilah tersebut, dan tidak hanya terpaku pada arti ikhlas yang berarti “ketulusan,” terdapat pada kesadaran bahwa ikhlas adalah proses yang aktif dan tugas yang cukup berat. Secara literal arti dari ikhlas adalah mengupas niat kita dari apapun yang menghalangi dari pencapaian terhadap ridho Allah SWT, dan terus terang, hal tersebut bukanlah hal alami yang dapat dilakukan manusia. Karena sesungguhnya, natur kasar dari seorang manusia adalah menggapai sesuatu berdasarkan kepentingan pribadi, dan sangat suka untuk diakui, dan menikmati pada saat namanya disebut. Oleh karena itu, mengekstrasi hasrat keegoisan dapat disamakan dengan menarik keluar gigi yang paling ujung, yang secara natural sudah berada di sana sejak awal. Jadi, seorang salaf biasanya mengatakan, “Tidak ada hal di dalam diri yang lebih sulit daripada keikhlasan, karena sejatinya tidak ada bagian ikhlas di dalam diri sendiri.” Dengan kata lain, batin melihat bahwa tidak ada tempat untuk keikhlasan di dalam diri, oleh karena itu mengapa setuju pada hal tersebut?

Menyadari Kesulitannya

Oleh karena itu, langkah pertama untuk mencapai keikhlasan adalah menyadari bahwa ikhlas adalah perkara yang sulit, dan mengakui bahwa memperoleh, menjaga, dan mencapai keikhlasan adalah misi seumur hidup yang berakhir sampai napas terakhir kita. Hal ini merupakan pendekatan yang membuat generasi terbaik berjaga-jaga. Coba pertimbangkan bagaimana Sufyan ath-Thawri, yang telah mengisi planet ini dengan pengetahuan, ibadah, pengabdian, dan kesolehan berkata, “Aku tidak pernah mengatasi sesuatu yang lebih sulit daripada niatku, niatku terus menerus berganti di dalam diri ini.” Sama halnya saat Imam Ahmad bin Hanbali ditanyakan perihal perjalanannya yang tidak terhitung dan cobaan yang dihadapi untuk mencapai dan melindungi ilmu agama, dia berkata, “Menyerahkan segalanya hanya kepada Allah, adalah hal yang sulit.” Seorang salaf pun mengatakan, “Momen ikhlas memerlukan sebuah keabadian dan keselamatan, tetapi pencapaian terhadap ikhlas itu sulit.”

Konspirasi dengan Batin

Dalam mengilustrasikan kesulitan dalam ikhlas, ada banyaknya lapisan niat-niat yang salah yang dikonspirasikan oleh batin kita; dan banyak dari lapisan tersebut yang tidak dapat dideteksi. Seorang ulama pernah menyebutkan, kalau tidak salah Abu Hamid al-Ghazali – sebagaimana kebanyakan orang menganggap bahwa ketidakikhlasan dalam melakukan sesuatu terletak pada saat kita justru mencari pujian dari orang lain, tetapi justru hal tersebut merupakan bentuk sederhana dan paling jelas dari, “riya’.” Dia menyatakan, bahwa kenyataannya, riya’ (pamer) datang dari empat derajat, yang setiap derajatnya akan jadi semakin buruk dan tersembunyi daripada derajat di atasnya.

– Beraksi di depan orang lain, untuk mendapatkan pujian. Contohnya adalah, memperindah sholat saat dilihat orang lain. Dan orang yang riya’ akan berhenti dan berubah pada saat tidak ada orang yang melihat.

– Beraksi pribadi, di mana berharap akan dilihat orang lain. Sebagai contoh, seseorang melaksanakan ibadah sholat malam dalam kesendirian, tetapi ia berharap seseorang akan mendapatinya melaksanakan sholat. Dan orang riya’, dia akan menjadi senang jika amalannya diketahui orang lain, dan berhenti saat tidak ada orang yang melihatnya.

– Beraksi pribadi, dengan alasan agar merasa menjadi orang yang benar. Sebagai contoh, seseorang akan memperpanjang sholatnya dalam kesendirian, sehingga tidak akan merasa bersalah dan hipokrit seperti orang lain yang memperindah ibadah saat orang lain melihat. Orang riya’ adalah saat orang tersebut hanyalah rajin melakukan ibadah saat terlibat dalam mitra masyarakat.

– Beraksi pribadi, untuk mendapatkan status di dalam hati. Sebagai contoh, seseorang akan sholat di malam hari, sehingga  berharap Allah akan memberikan penghormatan terhadap dia di siang hari. Orang riya’ adalah orang yang akan merasa marah karena tidak merasa berbeda pada perilaku sholat malamnya, karena hatinya menjadi sombong karena ia merasa berhak untuk dihormati karena ia tampak “dekat” dengan Allah.

Hal di atas bukan keikhlasan, di mana tiga hal pertama yang dicantumkan adalah berusaha untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain dan diri sendiri, dan yang keempat adalah menjadikan Allah SWT sarana agar orang lain menghormatinya (yang membuat perkara keempat sebagai bentuk riya’ yang paling menyedihkan).

Hancur tanpa ar-Rahman (Yang Maha Penyayang)

Setelah mengetahui hal-hal riya’ tersembunyi yang mengalir melalui pembuluh darah manusia, maka dari itu kita perlu memahami betapa pentingnya doa Rasulullah terkait hal ini:

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik (menyekutukan-Mu) sedangkan aku mengetahuinya. Dan aku memohon ampun kepada-Mu terhadap kesyirikan yang tidak aku ketahui.” (HR Bukhari)

Hadis luar biasa di atas di dalamnya terdapat dua hal yang harus diambil pelajarannya demi melalui perjalanan untuk mencapai keikhlasan:

  1. Rasa takut: dengan selalu mengingat bahwa akan ada masa di mana kita akan melakukan sesuatu tanpa mengingat Allah, dengan kita tidak sadar melakukannya.
  2. Rasa harap: dengan selalu berharap bahwa dengan bersungguh-sungguh terus memanggil Allah dalam doa ini, maka racun-racun tidak terlihat yang mengotori niat kita dapat diampuni.

Maka dari itu, biarkan itu menjadi langkah kedua kita mencapai keikhlasan, dengan mengandalkan Allah SWT, untuk melepaskan kita dari jaring kusut yang mencegah kita untuk mendapatkan manisnya rasa untuk mencapai ridho-Nya, rasa bahagia dalam mendekat kepada-Nya, dan perasaan luar biasa karena kita pada akhirnya berhasil melihat-Nya dalam keikhlasan kita. (diterjemahkan dari : http://muslimmatters.org/2014/03/07/in-pursuit-of-ikhlaas/)

]]>

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *