Syaamil Quran

Sejarah Qurban, Antara Cinta dan Ketaatan

Sejarah Qurban, Antara Cinta dan Ketaatan

Pada suatu hari, Nabi Ibrahim as menyembelih qurban fisabilillah berupa 1.000 ekor domba, 300 ekor sapi, dan 100 ekor unta. Banyak orang yang mengaguminya, bahkan para malaikat pun terkagum-kagum atas qurbannya.

Qurban sejumlah itu bagiku belum apa-apa. Demi Allah! Seandainya aku memiliki anak lelaki, pasti akan aku sembelih karena Allah dan aku kurbankan kepada-Nya,” kata Nabi Ibrahim AS sebagai ungkapan karena Sarah, istri Nabi Ibrahim belum juga mengandung. Kemudian Siti Sarah menyarankan kepada Nabi Ibrahim untuk menikahi Siti Hajar seorang budak dari Ethiopia. Nabi Ibrahim pun akhirnya menikahi Siti Hajar.

sejarah qurban

Ketika berada di daerah Baitul Maqdis, beliau berdoa kepada Allah SWT. agar dikarunia seorang anak, dan doa beliau dikabulkan oleh Allah SWT. Anak itu pun diberi nama Isma’il yang artinya “Allah telah mendengar”. Sebagai ungkapan kegembiraan karena akhirnya memilki putra, seolah Ibrahim berseru: “Allah mendengar doaku.”

Ketika itu Nabi Ibrahim bermimpi diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyembelih putranya Nabi Ismail as. Keesokan paginya Nabi Ibrahim memberitahukan kepada anaknya Nabi Ismail as. “Wahai Ismail anakku, sesungguhnya aku (Nabi Ibrahim as) melihat dalam mimpiki bahwa aku menyembelihmu (nabi Ismail as), maka pikirkanlah apa pendapatmu.”  Pada saat itu Nabi Islamil as baru berusia 14 tahun.

Mendengar perkataan Nabi Ibrahim as tentang mimpinya, Nabi Ismail as tanpa keraguan sedikitpun mengatakan, “kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah Swt.”

Ketika Nabi Ismail AS akan disembelih oleh Nabi Ibrahim AS, ternyata Malaikat Jibril mengangkat Nabi Ismail AS dan mengganti tubuh Nabi Ismail AS dengan seekor domba yang besar lagi gemuk. Dari kisah Nabi Ismail AS dan Nabi Ibrahim AS inilah kemudian dijadikan oleh umat islam sebagai hari raya Idul Adha. Dimana ummat islam yang mampu disunatkan untuk mengorbankan binatang sembelihan untuk di sembelih pada hari raya Idul Adha.

Sembelihan itu kelak akan menjadi kendaraan bagi mereka yang telah berkorban di saat melintasi jembatan Shiratal Mustaqiim, titian amat panjang yang membentang diatas api neraka.

Nabi Ismail AS mendapat julukan Sadiqul-wa’di, sebagai manusia yang selalu menepati janjinya walaupun untuk menepati janji itu Nabi Ismail as harus mengorbankan jiwanya. Nabi Ismail AS ialah seorang Nabi dan Rasul yang ditugaskan menyampaikan risalah yang dibawa oleh ayahnya, Nabi Ibrahim AS. Nabi Ismail juga termasuk manusia yang tinggi derajatnya.

]]>

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *