Abu Jahal pun Terpikat Bacaan Al Quran[/caption]
syaamilquran.com – Nabi saw. biasa membaca surat-surat Al Quran yang panjang-panjang dalam shalat malamnya. Saking panjangnya, kaki beliau pernah bengkak karena lamanya berdiri. Nabi saw. membacanya secara tartil (perlahan namun jelas) hingga enak didengar.
Pada malam itu tidak hanya Abu Jahal mengendap-endap di dekat rumah Rasulullah saw. Tanpa sepengetahuan Abu Jahal, ternyata Abu Sufyan bin Harb dan Akhnas bin Syuraiq juga melakukan hal sama. Padahal mereka bertiga tidak pernah berjanji untuk menguping di dekat rumah Nabi. Tapi mereka punya feeling yang sama.
Dengan duduk terpaku di samping rumah Nabi saw, masing-masing mendengarkan ayat-ayat suci yang dilantunkan Nabi saw. dalam shalat beliau yang panjang. Mereka asyik menyimak hingga menjelang fajar. Kemudian mereka pulang dengan menempuh jalan berbeda satu sama lain.
Tak disangka, mereka bertemu di suatu jalan. Lalu mereka saling bertanya. Akhirnya mereka mengaku kalau menguping bacaan Al Quran Nabi saw. Karena kuatir diketahui banyak orang, mereka sepakat untuk tidak saling menyebarkan kejadian ini. Mereka pun berjanji tak akan mengulanginya.
Namun, di malam berikutnya mereka masih tetap penasaran. Mereka tetap pergi. Masing-masing menyangka bahwa rekannya tak akan datang lagi. Begitu bertemu lagi, mereka pun berjanji lagi. Mereka kuatir kejadian ini membuat kekacauan di tengah warga Mekkah. Karena mereka termasuk tokoh yang disegani penduduk Mekkah.
Mukjizat Al Quran memang punya daya pikat yang sangat kuat dalam jiwa. Di malam ketiga, ketiganya tak tahan ‘berpuasa’ dari ayat-ayat Al Quran. Terpaksa mereka melanggar janji lagi. Tetapi, ketika saling bertemu di pagi harinya mereka kembali berjanji untuk tidak mengulanginya.
Kemudian Akhnas mengambil tongkat di rumahnya dan bergegas ke rumah Abu Sufyan. “Coba ceritakan padaku, hai Abu Handhalah, (julukan Abu Sufyan) tentang pendapatmu. Apa yang telah engkau dengar dari Muhammad?”
Abu Sufyan berkata jujur, “Sesungguhnya wahai Abu Tsa’labah (julukan Akhnas), aku telah mendengar beberapa perkara dari Muhammad yang aku ketahui maksudnya dan aku juga mendengar beberapa perkara yang tidak aku ketahui arti dan maksudnya.”
Akhnas berkata, “Demi yang kau sumpahkan itu, aku juga memiliki pendapat yang sama.”
Kemudian Akhnas meninggalkan Abu Sufyan dan bergegas menuju rumah Abu Jahal. “Wahai Abul Hakam (julukan Abu Jahal), bagaimana pendapatmu tentang yang telah kau dengar dari Muhammad?”
Abu Jahal termenung mendengar pertanyaan Akhnas. la balik bertanya, “Apa yang kau dengar?”
Kemudian Abu Jahal bicara ngelantur, tak sesuai pertanyaan Akhnas. Tapi akhirnya ia berkata jujur, “Demi Tuhan, sesungguhnya aku telah mengetahui bahwa ia (Muhammad) adalah seorang yang benar, tetapi beratnya hatiku disuruh menjadi keturunan dari Abdu Manaf.” Lantas Akhnas beranjak meninggalkan Abu Jahal.
Di riwayat lain, Abu Jahal berkata terus terang di hadapan Nabi saw, “Sesungguhnya kami sekalian tidak mendustakanmu, Muhammad. Tetapi kami tidak senang kepada apa-apa yang kamu datangkan itu.”
Allah Swt. merekam pernyataan ini, “Sesungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah” (QS. Al An’am 33). *** (sumber: Majalah Al Falah, Januari 2011)
]]>