Syaamil Quran

Berhaji Sebelum Tidur

Tidur menghabiskan sepertiga waktu hidup manusia. Alangkah ruginya apabila waktu yang banyak tersebut kita sia-siakan begitu saja. Oleh karena itu, kita harus berpikir bagaimana agar tidur tersebut menjadi ibadah. Setidaknya, ada dua ikhtiar yang dapat kita lakukan.

Pertama, meniatkan tidur sebagai ibadah. Niat adalah faktor fundamental dalam setiap gerak langkah seorang Muslim. Baik tidaknya sebuah amal sangat dipengaruhi lurus tidaknya niat yang diazamkan dalam hati. Bukankah Rasulullah saw. pernah bersabda, “Semua amal perbuatan bergantung pada niat, dan setiap orang akan memperoleh pahala sesuai dengan niatnya…” (HR Bukhari).

Tidur kita insya Allah bernilai ibadah apabila diniatkan sebagai ladang ibadah dan sarana syukur. Sebaliknya, tidur bisa menjadi dosa apabila diniatkan untuk bermaksiat kepada Allah Swt. Tidur pun tidak akan bernilai apa-apa di hadapan Allah bila kita memaknainya sekadar aktivitas harian belaka. 

Kedua, melakukan persiapan sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah saw. Sebuah riwayat dari Bara’ bin Azib menerangkan, bahwa Nabi bersabda, “Apabila kamu mendatangi tempat pembaringanmu maka berwudhulah seperti wudhumu untuk shalat, kemudian berbaringlah di atas sisi kananmu kemudian ucapkanlah: “Ya Allah, sesungguhnya aku menyerahkan hidupku kepada-Mu, dan aku hadapkan wajahku kepada-Mu, dan aku pasrahkan urusanku kepada-Mu, dan aku perlindungkan punggungku kepada-Mu, dengan penuh harap dan takut kepada-Mu, tidak ada tempat keselamatan dan perlindungan dari-Mu kecuali kepada-Mu. Aku berlindung kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan nabi-Mu yang telah Engkau utus’. Jika kamu mati malam itu, maka kamu berada di atas fitrah dan jadikanlah ia sebagai akhir dari apa yang kamu ucapkan” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah).

Dalam hadits ini, Rasulullah saw. menjelaskan adab-adab standar yang harus dilakukan seorang Muslim ketika hendak tidur, yaitu diawali dengan berwudhu (membersihkan diri dan hati dari segala kotoran dan dosa), kemudian berbaring di atas sisi kanan badan, lalu berzikir dan mengucapkan doa kepada Allah.

Hadits ini pun menyiratkan sebuah pesan bahwa manusia adalah makhluk lemah. Kelemahan tersebut makin terlihat saat ia tidur. Ia tidak sadar akan situasi di sekitarnya. Ia pun tidak lagi mampu menghindar dari bahaya sekecil apa pun sehingga wajib baginya untuk “menitipkan” penjagaan dirinya kepada Allah, Dzat yang menguasai hidup dan matinya.

Terkait persiapan menjelang tidur, Rasulullah saw. pernah berwasiat kepada istrinya, ‘Aisyah binti Abu Bakar tentang empat hal. “Wahai ‘Aisyah, janganlah engkau tidur sebelum engkau lakukan empat hal: mengkhatamkan Al Qur’an, memperoleh syafa’at dari para nabi, membuat hati kaum Mukminin dan Mukminat senang dan ridha kepadamu, serta melakukan haji dan umrah”.

‘Aisyah bertanya, “Ya Rasul, bagaimana mungkin aku melakukan itu semua sebelum tidur?”

Rasulullah saw. menjawab, “Sebelum tidur, bacalah Qul huwallâhu ahad tiga kali. Itu sama nilainya dengan mengkhatamkan Al Qur’an”. Yang dimaksud dengan Qul huwallâhu ahad adalah seluruh surat Al-Ikhlas, bukan ayat pertamanya saja. Dalam banyak hadits, sering kali suatu surat disebut dengan ayat pertamanya.  

Rasulullah saw. melanjutkan sabdanya, “Kemudian supaya engkau mendapat syafaat dariku dan para nabi sebelumku, bacalah shalawat: Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad wa ‘alâ âli Muhammad, kamâ shalayta ‘alâ Ibrâhim wa ‘alâ âli Ibrâhim. Allâhumma bârik ‘alâ Muhammad wa ‘alâ âli Muhammad, kamâ bârakta ‘alâ Ibrâhim wa ‘alâ âli Ibrâhim fil ‘âlamina innaka hamîdun majîd”.

“Sebelum tidur, hendaknya kamu lakukan haji dan umrah.” Bagaimana caranya? Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang membaca subhânallâh wal hamdulillâh wa lâ ilâha ilallâh huwallâhu akbar, ia dinilai sama dengan orang yang melakukan haji dan umrah”.

Niat dan persiapan bagaikan dua sisi mata uang. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Tidak akan sempurna yang satu tanpa pelaksanaan yang lain. Seperti itulah Rasulullah saw. yang mulia mencontohkan.

 

Janganlah makan dengan berlebihan, karena barangsiapa makan berlebih-lebihan akan tidur dengan berlebih-lebihan pula, dan barangsiapa tidur berlebih-lebihan akan sedikit berdoa, dan barangsiapa sedikit berdoa akan termasuk orang-orang yang lalai”

— Nabi Isa bin Maryam —

(dikutip dari Tauhid Nur Azhar & Sulaiman Abdurrahim. 114 Kisah Nyata Doa-doa Terkabul. Arkanleema. )

]]>

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *