syaamilquran.com – Dicari, Orang Kaya Berjiwa Pejuang – “(Yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada akhirat dan menghalang-halangi dari jalan Allah dan menginginkanmenjadi bengkok mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh.”(Ibrahim:3).
[caption id="attachment_1426" align="aligncenter" width="640"]
Dicari, Orang Kaya Berjiwa Pejuang[/caption]
Ayat diatas menjelaskan tentang orang-orang yang sepenuh hati mencintai kehidupan dunia dibanding kehidupan akhirat. Mereka adalah orang yang memperturutkan nafsu untuk memuaskan kehidupan duniyanya dan mengorbankan kehidupan akhiratnya. Mereka pulalah yang menghala-halangi manusia dari jalan Allah swt yang lurus. Pasti mereka bakal mengalami siksa yang pedih.
Dalam kehidupan manusia seperti ini, memang sangat sulit membelokkan dari cinta kepada cinta dunia akhirat. Cinta akhirat memerlukan petunjuk dari Allah, yang harus diupayakan dengan sungguh-sungguh dan penuh mujahadah. Cara itu perlu dilakukan, karena kemewahan dunia sungguh mempesona dan penuh daya tarik.
Tidak heran, bila kehidupan orang kaya raya yang dapat memenuhi semua keinginannya, menjadi dambaan hampir semua orang. Apalagi orang yang sedang dibelit materi, biasanya di dalam hatinya selalu berbisik “Alangkah bahagianya orang yang mempunyai banyak harta dan uang.”
Kalu seseorang tidak memiliki pemahaman tentang hakikat hidup, wajar sekali kalau apa yang disaksikan pada kehidupan orang kaya menjadi cita-cita dalam harapannya. Namun, kalau sudah diberikan petunjuk oleh Allah sehinga memiliki pemahaman terhadap apa arti sebenarnya kehidupan dunia akhirat, niscaya pandangannya akan lain. Dia akan mengambil pelajaran berharga dari sandiwara dunia yang telah berjalan.
Ada seseorang berupaya keras untuk dapat duduk di atas takhta yang bergelimang kemewahan. Lalu kemewahan itu dipertontonkan kepada orang-orang yang selalu ngiler pada kehidupan seperti itu. Namun tidak lama sesudah itu, sungguh tragis nasibnya. Dia diperiksa gara-gara terlibat tindakan pindana korupsi. Dan masuklah dia dalam kerangkeng besi. Dia menjalani kehidupan seperti maling yang melakukan pencurian, dia bagai preman yang berbuat kejahatan karena akibat pengangguran.
Dalam kehidupan-kehidupan seperti itu barulah dia mensyukuri keberadaannya yang serba kekurangan namun bahagia, dan tentram jiwanya karena selalu beribadah dekat dengan Allah. Orang yang seperti ini hanya iri kepada orang kaya yang dermawan, seperti yang disampaikan Nabi Muhammad Saw dalam hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim beikut ini:
Abu Hurairah Radiyallah hu’anhu berkata: Orang-orang fakir miskin dari kaum muhajirin datang kepada Rasulullah saw lalu menyampaikan kepada nabi, ”Orang-orang kaya telah meninggal dunia dengan menduduki derajat yang tinggi dan kenikmatan yang abadi”
Nabi bertaya “apa itu?”
Mereka menjawab ”Mereka shalat sebagaimana kita shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, mereka berzakat tapi kita tidak berzakat, mereka memerdekakan budak tapi kami tidak memerdekakan budak”.
Rasulullah bersabda, ”Maukah kalian kalian saya ajari sesuatu yang dapat menjadikan kalian sederajat dengan orang-orang yang telah mendahului kalian; menjadikan kalian lebih mulia dibandingkan kaum sesudah kalian, dan tidak ada seorang pun yang lebih utama dibandingkan kalian, kecuali orang melakukan perbuatan seperti yang kalian lakukan?
Mereka menjawab ”Kami mau ya Rasulullah!”
Beliau bersabda “Bacalah tasbih,tahmid dan takbir sesudah shlat sebanyak 33 kali”
Selang beberapa hari orang-orang itu datang lagi kepada Rasulullah dan berkata, “Teman-teman dari kalangan orang-orang kaya mendengar apa yang kami perbuat lalu mereka juga melakukannya”.
Rasulullah menjawab ”Itu adalah karuniya Allah yang diberikan kepada siapa yang dikehendakinya”.(Mutafaqqun ‘alai).
Kita semestinya iri dengan orang kaya seperti yang diceritakan orang-orang kafir itu. Memang Rasulullah juga pernah bersabda “Tidak ada sifat iri melainkan dua hal, yang pertama, Orang yang diberi hafalan Al-Qur’an lalu dia baca pada setiap shalat pada malam hari. Kedua, orang yang diberi rezeki oleh Allah lalu dia infakkan pada malam dan siang harinya”.
Seperti kehidupan para sahabat di zaman Nabi. Mereka sangat giat beribadah melakukan shalat sunnah sekaligus juga hartanya melimpah.
Seperti Abdurrahman bin ‘Auf yang pernah menyumbang perjuangan sebesar 40.000 dinar. Jumlah itu bula dirupiahkan sekarang sama dengan 34.000.000.000 (tiga puluh empat milyar).
Dan lain waktu iya menyumbangkan 1500 ekor kuda. Ia juga pernah menyumbang kepada veteran perang badar yang masih hidup sejumlah 100 orang masing-masing orang diberi 50.000 dinar, yang bila dirupiahkan sama dengan 42.500.000.000 !
Kalau dipikir bagaimana cara Abdurrahman mencari rezeki sementara ibadah-ibadah mahdhah tetap dijalankan dengan baik? Bahkan tidak ada ibadah sunnah yang ditinggalkan.
Itu membuktikan bahwa ada berkah dibalik usaha, yang mereka giatkan. Karena sebelum meraih keuntungan mereka sudah berniat akan memberikan sebagiana dari keuntungannya untuk fii sabilillah.
Bukan sekedar berniyat, tapi langsung menemui nabi dan menanyakan jumlah yang semestinya dikeluarakan sebelum dibawa pulang kepada keluarganya, Demikian halnya Ustman bin Affan dan sahabat-shabat lain. Subhanallah!
Itulah perjuangan nabi yang tidak pernah kehabisan dana. Dari pundi-pundi para milyader di kalangan para sahabat inilah semua maneuver yang dilakukan para nabi tidak pernah macet karena persoalan dana.
Manusia-manusia seperti inilah yang sangat diperlukan saat sekarang untuk mensukseskan perjuangan islam. Harta berlimpah sekaligus semangat juangnya tak pernah lemah.
(Sumber: SUARA HIDAYATULLAH | Agustus 2007 | Rajab 1428)
]]>