syaamilquran.com – Bagi Allah Swt, kemuliaan manusia dinilai berdasarkan ketakwaannya, bukan status-status yang sifatnya duniawi, seperti kekayaan, pendidikan, maupun jabatan. Seseorang yang berharga di hadapan Allah Swt adalah mereka yang mampu menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dengan baik.
Lantas bagaimana ketakwaan seseorang dapat dikenali?
Dalam Al Quran surat Adz Dzariyat, ayat 15-19, Allah Swt mengemukakan beberapa sifat orang bertakwa:
“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air. Sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Rabb mereka. Sungguh, sebelum itu, mereka ketika di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah Subhanahu Wata’ala) Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang menjaga dirinya dari meminta-minta.”
Berdasarkan keterangan tersebut, maka, dapat disampaikan bahwa orang yang bertakwa dicirikan dengan adanya kecerdasan yang melekat pada dirinya, yaitu kecerdasan sosial, kecerdasan ruhaniah, kecerdasan emosional dan kecerdasan finansial.
1. Kecerdasan Sosial
Ditandai dengan selalu berbuat baik kepada orang lain karena ia yakin kebaikan itu kembali kepada dirinya sendiri, tanpa salah alamat.
إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذلِكَ مُحْسِنِينَ.
“Sungguh, sebelum itu, mereka ketika di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik.”
Kebaikan seseorang tidak semata-mata diukur dari hablun minallah, rajinnya ibadah ritual, tetapi harus diimbangi dengan hablun minannas. Shalat dimulai dengan takbir, dan diakhiri dengan salam mengajarkan kepada kita untuk menjaga keseimbangan dan kesinambungan hubungan vertikal dan horizontal. Manusia yang terbaik adalah yang paling banyak memberikan manfaat kepada orang lain. Manusia yang paling baik adalah manusia yang bergaul dengan manusia lain dan sabar atas gangguan mereka. Orang yang baik adalah yang shaleh ritual dan shaleh sosial. Sholihun linafsihi wa sholihun lighoirih (sholih untuk dirinya dan sholih untuk orang lain).
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan berbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (QS. Al Hajj (22) : 77)
Spirit untuk berbuat baik tidak akan pernah padam, hingga ajal menjemput. Karena ia yakin pasti mendapat balasan yang lebih baik dari Allah Subhanahu Wata’ala. Dan balasan itu akan dia panen baik secara kredit ataupun kontan. Secara langsung maupun tidak langsung. Di dunia ini dan di akhirat kelak.
2. Kecerdasan Ruhaniah
Ditandai dengan rajin mengerjakan shalat malam secara konsisten.
انُوا قَلِيلاً مِّنَ الَّيْلِ مَايَهْجَعُونَ
“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam.”
Orang bertakwa rajin shalat malam atau shalat tahajjud untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wata’ala.
Itulah sebabnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam menginformasikan kepada sahabatnya bahwa bangun malam adalah perilaku dan kebiasaan rutin orang-orang shalih dahulu, sebagai taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Subhanahu wata’ala, membentengi diri dari perbuatan dosa, menghapuskan kesalahan dan dapat menghilangkan penyakit dalam tubuh.
[caption id="attachment_2203" align="aligncenter" width="300"]
Empat Indikator Ketakwaan[/caption]
Shalat tahajjud merupakan saat yang tepat untuk bermuhasabah dan menyadari bahwa banyak persoalan kehidupan ini yang tidak dapat dipecahkan hanya dengan menonjolkan ikhtiar lahiriyah dan kecerdasan intelektual. Manusia memiliki keterbatasan. Tidak semua persoalan bisa diselesaikan oleh manusia. Hanya kepada Allahlah kita serahkan penyelesaiannya. Karena Allah adalah Sang Maha Pencipta yang memiliki segala yang diperlukan hamba-Nya.
Perbanyaklah berzikir kalimat tasbih, hamdalah, takbir dan tahlil dengan sepenuh hati, untuk lebih menguatkan keimanan dalam hati kita. Shalat malam mendidik seluruh anggota tubuh kita untuk tunduk kepada Allah Subhanahu wata’ala secara serentak.
3. Kecerdasan Emosional
Ia selalu muhasabah dengan memohon ampun (beristighfar) kepada Allah Subhanahu wata’ala di waktu sahur (di penghujung malam). Orang yang cerdas adalah orang yang selalu intropeksi diri dan beramal untuk kehidupan sesudah mati. Dengan banyak muhasabah, hisab di akhirat lebih ringan. Karena ia selalu minta ditutupi, dihapus kelemahannya oleh Allah Subhanahu wata’ala .
Semakin banyak mengucapkan kalimat istighfar sepatutnya makin banyak kelemahannya yang dihapus, sehingga yang menonjol adalah kebaikannya.
وَبِاْلأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
Mereka beristighfar di waktu sahur. Waktu sahur ini memiliki keutamaan dan kemuliaan karena ia termasuk sepertiga malam terakhir.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam pernah bersabda :
“Allah Subhanahu Wata’ala setiap malam turun ke langit dunia ketika sepertiga malam yang terakhir masih tersisa. Kemudian Dia berfirman, “Siapa yang berdoa kepada-Ku akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku akan Aku beri. Dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku akan Aku ampuni.”
Orang yang memiliki kecerdasan emosional hatinya mudah empati melihat penderitaan orang lain, dan mudah menerima kebenaran orang lain. Maka ia berjiwa besar dan jauh dari sikap kerdil. Berbagai penelitian mutakhir menunjukkan bahwa kecerdasan emosional penentu keberhasil hidup seseorang.
4. Kecerdasan Finansial
Ia senang berbagi dan memberi orang-orang yang membutuhkannya.
وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّآئِلِ وَالْمَحْرُومِ
“Dan dalam hartanya ada hak bagi peminta-minta, dan orang miskin yang menahan diri dari meminta”.
Maksudnya, ia gemar bersedekah dan memberikan sebagian rizki yang diberikan Allah Subhanahu wata’ala kepadanya untuk orang lain yang membutuhkan. Ia yakin dengan memberi, sesungguhnya rezeki yang dimilikinya tidak akan berkurang. Malah, akan mendapat balasan berlipat. Orang inilah yang bermental kaya.
Orang bertakwa tidak terjangkiti penyakit materialis, yaitu, ketika memberi selalu mempertimbangkan untung/rugi. Ia percaya bahwa Allah Subhanahu wata’ala yang melapangkan dan menyempitkan rezeki seseorang.
Demikian diantara sifat orang bertaqwa yang dijanjikan Allah Subhanahu Wata’ala sebagai balasan sesuai dengan apa yang telah dikerjakan selama mereka hidup di dunia. Kenikmatan yang tidak terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas oleh manusia.
Semoga kita dan keluarga kita dimudahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala untuk mengikuti jejak Ahlul Jannah, penghuni surga. Amin ya Rabbal ‘Alamin.* (roni ramdan/ sumber: hidayatullah.com)
]]>