“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Qur’an itu sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu. Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. Sesungguhnya telah ada segolongan manusia sebelum kamu menanyakan hal-hal yang serupa itu (kepada Nabi mereka), kemudian mereka tidak percaya kepadanya”.
(QS Al Maidah, 5: 101-102)
syaamilquran.com – Etika Bertanya – Bertanya sering diidentikkan sebagai salah satu ciri orang yang cerdas. Alasannya, dengan bertanya, berarti si penanya adalah orang yang berpikir dan tidak menerima begitu saja apa-apa yang didengarnya. Bahkan saling pentingnya bertanya, ada pepatah yang menyebutkan “Malu bertanya sesat di jalan”.
Meski demikian, tidak selalu bertanya itu baik. Terutama, bila bertanya hal-hal yang tidak ada manfaatnya dan bertujuan untuk menentang atau mencari-cari kesahalan. Dalam ayat yang disebutkan di awal, Allah Swt melarang untuk menanyakan hal-hal yang tidak ada manfaatnya. Karena sesungguhnya, apaila perkara-perkara yang dipertanyakan itu ditampakkan kepada merak, niscaya hal tersebut akan menjelekkan dan mebuat susah mereka untuk mendengar atau memahaminya.
[caption id="attachment_3085" align="aligncenter" width="347"]
Etika Bertanya[/caption]
Bahkan pada zaman sebelum Rasulullah, sebagaimana disampaikan dalam Surat Al Maidah ayat 102, ada golongan umat terhadulu yang pernah bertanya kepada nabi-nabi mereka, lalu pertanyaan mereka dijawa. namun, mereka tiak mempercayainya sehingga mereka menjadi kafir dan mengingkari apa yang telah dijelaskan kepadanya. Mereka pun tidak mengambil manfaat dari jawaban itu, karena pertanyaan yang mereka ajukan bukan untuk meminta petunjuk, melainkan untuk mengejek. (Tafsir Al Munir, Wahbah Az Zuhaili dan Tafsir Al Quran Al ‘Adhim, Ibnu Katsir)
Karena itu, dalam Islam, umat muslim dilarang bertanya dengan tujuan untuk menentang atau mencari-cari kesalahan, atau menanyakan suatu perkara yang tida penting dan meninggalkan pertanyaan yang lebih penting dan bermanfaat. Disarankan umat muslim bertanya untk mencari kebenaran agama, baik ushul maupun furu’nya atau perkara-perakara ibadah maupun muamalah, termasuk hal yang diperintahkan oleh agama. Allah Swt berfirman, “Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.” (QS Al Anbiya’, 21: 7).
Allah pun berfirman “Dan tanyakanla kepada rasul-rasul kami yang telah kami utus sebelum kamu, ‘Adakah Kami menentukan tuhan-tuhan untuk disembah selain yang Maha Pemurah?” (QS. Az Zukhruf, 43:45).
Semua itu dapat diperoleh melalui jalan at tafaqquh fid din (memahami ilmu agama), baik melalui penelitian, belajar, maupun bertanya. Bertanya dalam kebaikan justru sangat dianjurkan oleh Rasulullah. Akan hal tersebut, Rasulullah saw bersabda, “Mengapa mereka tidak bertanya jika tidak mengerti? Sesunggunya obat dari kebodohan adalah bertanya.” (HR Ibnu Majah). *** (sumber: Miracle Hijaz the Practice, Syaamil Quran)
]]>