Syaamil Quran

Hakikat Mengucapkan Insya Allah

Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini.” (QS Al-Kahf 23-24)

syaamilquran.com – Hakikat Mengucapkan Insya Allah – Ayat ini seakan berbicara kepada Rasulullah saw. agar jangan mengucapkan sesuatu yang telah ditekadkan untuk dikerjakan, semisal, “Saya akan mengerjakan besok” kecuali menyertainya dengan kehendak Allah ta’ala, yaitu ucapan “Insya Allah”. Hal ini sebagaimana sabda Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah yang terungkap dalam Ash Shahihain, bahwa, “Nabi Sulaiman as. pernah mengatakan, ‘Aku pastikan akan menggilir tujuh puluh istriku dalam satu malam (dalam satu riwayat seratus istri) dan masing-masing akan melahirkan anak yang berjuang di jalan Allah’. Kemudian ada yang berkata kepadanya (dalam satu riwayat adalah malaikat) ucapkanlah, “Insya Allah”, lalu dia tidak mengucapkannya. Nabi Sulaiman as. pun menggilir seluruh isterinya dan tidak ada yang melahirkan dari mereka kecuali seorang saja; itupun setengah manusia (cacat). “ Nabi saw. kemudian bersabda, “ Di jiwaku yang berada dalam genggaman-Nya andaikan dia mengucapkan insya Allah, niscaya dia tidak termasuk melanggar sumpah dan bahkan keinginannya akan dipenuhi. “ Dalam satu riwayat, “Mereka semua menjadi penunggang kuda hebat yang berjuang di jalan Allah”.

[caption id="attachment_4121" align="aligncenter" width="400"]Hakikat Mengucapkan Insya Allah Hakikat Mengucapkan Insya Allah[/caption]

Ibnu Jarir Ath Thabari menjelaskan bahwa apabila seseorang lupa mengucapkan “Insya Allah” dalam pembicaraan atau sumpahnya, kemudian dia mengingatnya walaupun setelah satu tahun berlalu, disunnatkan bagi dia untuk mengucapkan kata tersebut agar mengikuti aturan (bahkan setelah melanggar sumpahnya), dan ucapan ini tidak dimaksudkan untuk membatalkan sumpah dan menggugurkan kifarat. (Tafsir Al Munir, Wahhab Az Zuhaili dan Tafsir Al Qur’an Al ‘Adhim, Ibnu Katsir)

Khasanah Pengetahuan

Ucapan “insya Allah” secara bahasa bermakna “ jika Allah menghendaki”. Zat yang Mahakuasa memerintahkan hamba-Nya untuk mengucapka insya Allah ketika bertekad untuk melakukan suatu pekerjaan pada masa yang akan datang (QS Al Kahfi, 18:23-24). Ucapan ini sangat penting diungkapkan karena tidak seorangpun memiliki jaminan untuk bisa melakukan sesuatu pada masa yang akan datang, kecuali dengan kehendak Allah Ta’ala (masyiatullah). Sebab hanya Allah Yang Mahatahu segala sesuatu, termasuk yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Dalam QS Luqman, 31-34, Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya, hanya disisi Allah ilmu tentang Hari Kiamat; dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam Rahim. Dan tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan meninggal. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal.”

Atas dasar hal ini, ucapan insya Allah menunjukkan pula kemahatahuan Allah Ta’ala dan kekuasaan-Nya, sekaligus menyatakan ketidaktahuan dan kelemahan manusia. Oleh karena itu, orang-orang yang mengucapkan insya Allah pada tempatnya, telah menunjukkan ketawadhuan dan harapannya agar Allah Ta’ala berkenan mengzinkan serta meridhai apa yang akan dilakukannya.

Panduan Amal

Panduan agar dapat mengucapkan kalimat insya Allah dengan tepat.

  1. Insya Allah diucapkan apabila kita telah bertekad untuk melakukan suatu hal pada masa yang akan datang (QS Al Kahfi, 18:23-24).
  2. Insya Allah diucapkan apabila kita mengungkapkan sesuatu yang belum diketahui kebenarannya (seperti perawi dalam meriwayatkan hadis, HR Muslim, No. 216).
  3. Insya Allah boleh tidak diucapkan walaupun dikaitkan dengan masa yang akan datang, yaitu apabila ada sebuah harapan atau rencana akan tetapi bukan sesuatu yang pasti akan dilakukan. Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh besok aku akan memberiakan bendera ini kepada seorang lelaki yang dicnintai oleh Allah dan rosul-Nya … “ (HR Muslim, No. 4424).
  4. Insya Allah atau Insyi’ta tidak boleh diucapkan pada saat memohon sesuatu kepada Allah Ta’ala. Sesungguhnya, seorang mukmim harus yakin bahwa Allah Azza w Jalla pasti akan mengabulkan permohonan yang kita panjatkan (HR Abu Dawud, No. 1268).
(dikutip dari Al-Qur’an Miracle the Reference)]]>

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *