Syaamil Quran

Hakikat Nikah

syaamilquran.com – Hakikat Nikah – “Pernikahan itu seperti gunung. Dari kejauhan, ia tampak indah dengan panorama ‘lautan hijau’ yang melambai-lambai. Kesejukan udaranya mulai terasa ketika telah berada di dekatnya. Hasrat hati ingin sekali segera mendaki dan singgah untuk beberapa lama. Ketika diri telah sampai, pemandangan indah itu kini menjadi beraneka. Ternyata, ada banyak tebing curam yang mengerikan dan tidak terbayang sebelumnya, ada binatang buas yang selalu mengintai dan siap memangsa tubuh ini, bahkan melihat jurang dan jalan setapak yang mengelilinginya, terkadang membuat hati jadi urung untuk terus menikmati keindahan gunung itu. Ketika duduk beristirahat, kedua mata ini sepintas melihat air terjun yang jatuh seperti sedang bunuh diri. Pemandangan ini membuat mata asyik masuk dan terbuai oleh kesejukannya. Muncullah hasrat kedua untuk mandi dan menikmati kesegaran airnya. Itulah gunung. Itulah pernikahan.”

(Ust. Didik Purwodarsono – Pimpinan Pondok Pesantren “Taqwinul Mubalighin” Yogyakarta)

Terkadang, pernikahan tidak selamanya indah. Laksana gunung tadi, pernikahan banyak dibayangkan sebagai suatu keindahan yang mampu mendorong seseorang menjadi tergebu-gebu sekali untuk segera menikah. Bayangan mereka tentang pernikahan mungkin sebatas adanya kemesraan yang terus mewarnai. Adanya teman baru yang selalu mendampingi. Ada yang memasakkan. Ada yang senantiasa menggoda kalau lagi “bete” dan lain-lain. Akan tetapi, jangan lupa bahwa di dalam pernikahan juga ada banyak kepahitan, seperti ketidakcocokan dengan mertua, intervensi pihak ketiga yang membuat tidak nyaman, cemburu berlebihan, perbedaan sifat dan karakter, perbedaan kebiasaan, perbedaan kegemaran makanan, bahkan perbedaan budaya keluarga yang membuat tidak nyaman dan tidak betah kalau berlama-lama silaturahmi ke rumah mertua.

Menikah adalah menyatukan dua insan yang berbeda latar belakang, nilai, budaya, dasar pendidikan, keluarga, dan lingkungan. Mudahnya, menikah adalah membenturkan antara idealisme dan realitas. Jika idealisme suami adalah membayangkan bahwa menikah itu akan memiliki istri yang selalu siap melayani suami, bisa menyenangkan hati, dan sebagainya, boleh jadi pada kenyataannya jauh berbeda karena realitasnya membuktikan bahwa istri sibuk dengan karier atau sekolah, tipe serius, atau tidak suka dengan hal-hal romantis.

Bukanlah maksud hati ini membuat Anda mengurungkan niat untuk menikah, melainkan sekadar untuk waspada dan bersiap-siap bahwa hidup ini beraneka warna: kadang senang, kadang susah, bahkan kadang susah terus-terusan, seperti tidak ada ujungnya. Manis atau pahitnya pernikahan itu sebenarnya bergantung dari siapa yang melihat dan bagaimana cara melihat permasalahan pernikahan. Kalau kami (penulis-red), alhamdulillah selalu melihat pernikahan dan liku-likunya sebagai suatu keindahan yang tidak ternilai. Coba bayangkan, setiap amal kebaikan kita untuk pasangan kita dihitung sebagai pahala dan sedekah. Tidak hanya itu, setiap kita mau bersabar atau mengalah ketika menghadapi perbedaan, sesunggunya kesabaran kita itu dihitung sebagai pahala dan menghapuskan dosa-dosa kecil. Sebagai contoh, berikut ini kisah pengalaman pengantin muda.

Suatu pagi, sang istri sedang malas untuk memasak. Alasannya lelah, bosan dengan kegiatan rutin masak, malas mencacah bawang merah karena bisa membuat mata menangis, dan masih banyak alasan lainnya.

Padahal, sang suami harus sarapan pagi. Kalau terlambat makan, magnya bisa kambuh. Warung nasi juga kebetulan jauh dari rumah dan masakannya tidak cocok karena pedas. Kalau suaminya adalah tipe orang yang senang dilayani, rumah tangga tersebut akan banyak menemukan masalah. Lantas bagaimana menyikapinya? Inilah langkah yang ditempuh oleh suami pasangan muda ini.

Suami itu sadar bahwa siapa pun pasti pernah jenuh dengan rutinitas. Manusia cenderung demikian, tetapi lama-kelamaan akan normal kembali atau kembali dengan rutinitasnya. Jadi, dalam hal ini jangan cepat emosi dan menyalahkan istri.

Suami segera berpikir untuk mencari solusi supaya pagi ini bisa sarapan. Jangan mencari-cari dan menuduh istri yang tidak-tidak, misalnya sampai menuduh selingkuh. Intinya adalah “stop memperpanjang masalah”.

Suami hunting bahan makanan yang ada di dapur. Semua bahan dapat dimanfaatkan. Kebetulan, mereka memiliki sisa nasi putih yang dimasak tadi malam. Selain itu, di dapur, ada bawang merah, kecap, garam, cabai rawit dua buah, dan dua buah telur mentah. Suami segera teringat untuk membuat nasi goreng. Jika ada buku resep di rumah, suami dapat mencari cara membuat makanan tersebut agar lebih enak.

Setelah nasi goreng matang, suami meletakkannya di atas piring besar, tempat yang biasa mereka gunakan untuk makan bersama. Lalu, suami memanggil sang istri untuk diajak makan bersama.

Setelah tahu bahwa suaminya membuat nasi goreng, besar sekali hasrat sang istri untuk mencicipi nasi goreng buatan suaminya. Ketika mereka sedang makan bersama, tampak sekali dua rona wajah yang menyimpan makna mendalam. Sang suami tampak merasa bersalah karena nasi buatannya tidak seenak yang digambarkan di buku resep. Sementara itu, sang istri tampak menyesal karena telah membiarkan pasangannya untuk memasak sampai menghabiskan sisa bahan yang ada dengan hasil yang sangat tidak memuaskan. Sang istri sadar tidak akan membiarkan suaminya ”menyentuh” dapur lagi tanpa didampingi.

Coba simak kisah sederhana itu. Banyak hikmah di balik cerita tersebut. Langkah yang dilakukan sang suami dengan bersabar itu ternyata menghasilkan banyak manfaat. Selain dosanya diampuni, ia tidak akan menemui istrinya “bete” lagi untuk memasak. Suami tidak dibiarkan ”menyentuh” dapur lagi tanpa didampingi. Selain itu, sang istri menjadi bangga dengan suaminya yang ternyata tidak manja. Hal yang pasti, masalah itu tidak berkepanjangan walaupun rasa lapar di pagi itu belum hilang.

[caption id="attachment_3645" align="aligncenter" width="325"]Hakikat Nikah Hakikat Nikah[/caption]

Hakikat nikah

Ustadz Didik Purwodarsono pernah menyampaikan dalam kajiannya bahwa menikah itu sebenarnya adalah pertemuan dua perbedaan yang membuatnya bekerja sama, bukan sama-sama kerja. Seorang teman juga memberi nasihat ketika ada perseteruan para aktivis dakwah yang saling mencela karena perbedaan fikrah (pemikiran atau cara melihat sesuatu). Begini katanya, “Mari kita saling bekerja sama dalam kesamaan dan menjunjung tinggi toleransi dalam perbedaan.”Jadi, jangan takut untuk menikah. Adanya kesempurnaan kita itu justru karena adanya perbedaan. Perbedaan-perbedaan itulah yang justru menyempurnakan segala kekurangan kita. Cobalah mulai saat ini untuk tidak melihat sesuatu hanya dari satu sisi, tetapi coba lihat dari banyak sisi sehingga segala persoalan insya Allah tidak akan jadi permasalahan.

Untuk meminimalisasi terjadinya perbedaan dan kekagetanatas perbedaan ekstrem antara suami dan istri, diperlukan persiapan matang dan keterbukaan ketika berkenalan demi terwujudnya budaya keluarga yang diinginkan.

Nikah adalah sunnahku, barang siapa tidak mau menikah atau menghindar dari pernikahan, mereka bukan pengikutku (bukan termasuk golonganku).

(H.R. Ibnu Majah)

]]>

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *