![]()
![]()
![]()

Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Rukuklah, niscaya mereka tidak mau ruku’. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. Maka kepada perkataan apakah selain Al Quran ini mereka akan beriman? (QS Al-Mursalat 47 – 50)
Allah Swt. mengaburkan pemahaman orang-orang kafir. Orang-orang ini, betapapun cerdasnya otak mereka, tidak dapat memahami prinsip-prinsip agama yang sangat jelas karena sudah menolak kebenaran sejak awal. Orang-orang seperti itu, bahkan tidak menyadari keadaan mereka. Misalnya, mereka menganggap bahwa mereka adalah sumber kekuasaan dan kekayaan, lalu menjadi sombong.
Sesungguhnya, anggapan dan sikap seperti ini menunjukkan bahwa ia tidak memiliki hikmah karena jika memiliki hikmah, ia akan menyadari bahwa tidak ada sesuatu pun yang berkuasa, kecuali kehendak Allah.
Hikmah adalah sifat istimewa yang dimiliki orang-orang yang beriman. Sebagian besar manusia menganggap bahwa kecerdasan otak dan hikmah itu memiliki makna yang sama. Padahal, kecerdasan otak adalah kemampuan pikiran yang dimiliki oleh setiap orang. Misalnya, menjadi seorang ilmuwan ahli atom atau jenius di bidang matematika menunjukkan kecerdasan otak.
Sementara itu, hikmah adalah hasil dari ketakwaan seseorang kepada Allah dan digunakannya hati nurani, sama sekali tidak ada hubungannya dengan kecerdasan otak. Bisa saja seseorang sangat cerdas otaknya, tetapi ia tidak akan menjadi orang bijak selagi ia tidak bertakwa kepada Allah.
Oleh karena itu, hikmah adalah rahmat dari Allah yang dikaruniakan kepada orang-orang yang beriman. Allah mengaruniakan pemahaman kepada orang-orang beriman melalui keimanan mereka. Jika mereka merasa semakin dekat kepada Allah, pemahaman mereka pun meningkat dan mereka menjadi lebih memahami rahasia-rahasia ciptaan Allah.
Hanya orang-orang beriman yang bertakwa kepada Allah yang memiliki pemahaman seperti ini sehingga mereka tidak tertipu oleh kehidupan dunia. Mereka menghabiskan hidup mereka dengan memahami hakikat segala sesuatu. (Harun Yahya. Beberapa Rahasia dalam AlQur’an, 2004)
]]>