syaamilquran.com – Dikisahkan ada seorang lelaki berusia 30 tahunan, anak pertama dari tiga bersaudara, yang menjadi pengusaha sukses. Ia termasuk pengusaha super sibuk, yang jarang sekali bertemu ibunya. Kalaupun bertemu, hanya sebentar, tidak lebih dari 15 menit, karena ia harus segera pergi untuk rapat dengan karyawan maupun dengan klien atau partner bisnisnya. Ibunya tinggal bertiga dengan dua adiknya, karena sang ayah telah meninggal dunia.
Suatu hari, menjelang subuh, ia mendapat telpon dari adik perempuannya yang mengabarkan bahwa sang ibu penyakit sesaknya kambuh dan perlu segera di bawa ke rumah sakit. Ia pun bergegas ke rumah ibunya untuk membawa sang ibu ke rumah sakit. Dua adiknya pun, yang berusia 15 dan 20 tahun, dibawa serta.
Sesampainya di rumah sakit, setelah mendapatkan penanganan darurat dari dokter, sang ibu kondisinya terlihat membaik, meski belum kembali normal, sehingga ditempatkan di ruangan untuk mendapat perawatan lanjutan.
Merasa kondisi ibunya membaik, lelaki itupun meminta adiknya untuk menjaga ibu mereka. Ia tidak bisa menemani, karena harus persiapan rapat dengan karyawan dan partner bisnis yang berlangsung hari itu secara marathon. Ia merasa tidak ada orang yang bisa didelegasikan, sehingga harus ditangani sendiri. Lelaki itupun meninggalkan ibunya
Ia pulang ke rumahnya untuk mandi dan berpenampilan sebaik mungkin. Selesai mandi dan berpakaian rapi, lelaki itu menyempatkan diri bersantai sejenak di sofa ruang tamunya, karena rapat masih akan berlangsung satu jam lagi. Ada kesempatan untuk baca koran dan sarapan.
Saat membaca koran, tiba-tiba tubuh lelaki itu mengejang dan tidak lama kemudian, dia terkulai lemas di sofa dalam posisi punggung menyandar di sofa.
Ternyata, saat itu adalah duduk terakhir bagi lelaki tersebut. Karena Allah berkehendak agar nyawa lelaki itu meninggalkan raganya.
Lelaki tersebut meninggal, tanpa sempat menunggui ibunya di rumah sakit dan menghadiri rapat. Ia telah melewatkan waktu untuk menemani ibunya yang sangat jarang ia temui karena kesibukannya.
**
Dari kisah tersebut, ditunjukkan betapa berharganya waktu. Seringkali kita menyia-nyiakan waktu untuk bertemu dengan orang yang kita sayangi, hanya karena kita lebih mementingkan kesibukan di kantor yang sebenarnya masih bisa dilimpahkan kepada orang lain. Waktu terus berjalan, tanpa bisa kita hentikan. Untuk kita, kita harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, karena kita tidak akan pernah tau, kapan kematian menjemput kita, sebagai akhir dari menikmati waktu di dunia ini.
Rasulullah SAW bersabda, ”Ada dua nikmat, di mana banyak manusia tertipu di dalamnya, yakni kesehatan dan kesempatan.” (HR Bukhori). Hadits ini menjelaskan pentingnya memanfaatkan kesempatan (waktu), karena tanpa disadari banyak orang terlena dengan waktunya.
Dalam Al Quran, Allah Swt berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr [59] : 18)
Pun dengan kematian, akan mendatangi kita setelah hidup kita di dunia ini mencapai batasnya, tanpa kita pernah tau kapan.
“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS Al A’raaf 7: 34)
“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Munafiquun 63:11)
Sahabat Syaamil, marilah kita memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk bertemu dengan orang-orang yang kita sayangi. Jangan terlalu melarutkan diri kita dalam kesibukan pekerjaan. Luangkanlah waktu untuk mereka… orang-orang terkasih.
Jangan sampai ada penyesalan yang tak akan tergantikan…*** (roni ramdan)
]]>