
“Hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang terbatas rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak membebani seseorang melainkan (sesuai) dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan.”
Sikap seorang muslim ketika dalam kesempitan adalah tawakal. Tawakal adalah bergantung dan berserah diri hanya kepada Allah Swt., menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi, ada di bawah kendaliNya, serta merasa yakin bahwa tidak seorang pun dapat menolong atau mencelakakan orang lain tanpa seizin-Nya.
Orang-orang beriman mengetahui bahwa Allah Mahakuasa dan segala yang dikehendakiNya akan terjadi hanya dengan mengatakan “Jadilah!”. Mereka pun tidak pernah khawatir dalam menghadapi kesulitan. Mereka tahu bahwa Allah akan menolong mereka dan yakin bahwa Allah akan memberikan kemudahan di dunia ini dan di akhirat kelak. Menyadari hal itu, hati mereka selalu tenteram dan gembira.
Yang harus dilakukan seseorang yang beriman hanyalah merespons segala kejadian dengan sikap terbaik, dengan perbuatan yang disukai Allah dan menanti hasilnya yang ditentukan sesuai iradah (kehendak)Nya pula.
Rahasia besar yang hanya dipahami orang-orang yang beriman ini, dijelaskan dalam firman Allah yang lain, sebagai berikut,


“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia memberikan kepadanya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah niscaya Allah mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah menyempurnakan kehendak-Nya. Dan Allah telah mengadakan ketentuan atas segala sesuatu.”(QS At-Talaq, 65: 2-3)
(dikutip dari Harun Yahya. Cara Cepat Meraih Keimanan. 2005)
]]>