Khalifah Mu’tashim Abbasi bersahabat dengan seorang penyair terkenal. Sang khalifah menjadikannya teman bicara dan penasihat. Sayang, persahabatan mereka tidak disukai oleh seorang menteri. Sang menteri takut si penyair akan merebut kedudukannya. Menteri yang dengki itupun menyebarkan berita bohong. Katanya, di penyair menuduh khalifah memiliki bau mulut yang tidak sedap.
Si menteri berusaha menjebak penyair itu. Dia mengundangnya makan. Semua makanan yang disajikan mengandung banyak bawang. Akibatnya, mulut si penyair menjadi bau bawang.
Sepulang dari jamuan makan, si penyair menghadap khalifah yang mencarinya. Karena takut bau mulutnya mengganggu, si penyair menutup mulutnya dengan tangan.Khalifah salah sangka. Dikiranya si penyair menutup hidung karena tidak tahan dengan bau mulut khalifah.
Khalifah memberikan sepucuk surat kepada penyair. Dia harus menyampaikannya kepada penjaga ruang harta. Namun, dia dihadang oleh menteri yang dengki kepadanya. Dia mengira kalau surat itu berisi pesan penting. Karena dipaksa, di penyair pun menyerahkan surat itu.
Apa yang terjadi kemudian? Si penjaga harta melaksanakan perintah khalifah. Si menteri pun celaka. Betapa terkejutnya khalifah ketika mengetahui apa yang terjadi. Ternyata dia selama ini telah ditipu oleh menterinya sendiri. Sang khalifah pun sadar. Dia menasihati rakyatnya agar menjauhi sifat dengki, sebab bisa merugikan orang lain dan diri sendiri.
(Ariyani Syurfah. Super Stories. Arkanleema, 2009)
]]>