Segala sesutu ada aturannya, ada takaran dan kapasitasnya. Ketika kita melanggar aturan atau berbuat melebihi takaran yang semestinya, kemudharatan dan kecelakaanlah yang akan kita dapatkan. Hal ini berlaku pula dalam hal makan. Allah Swt. telah mendesain perut kita sedemikian rupa, termasuk kapasitas dan cara kerja.
Karena itu, Rasulullah saw. memberikan teladan tentang cara memperlakukan perut kita secara baik. Beliau bersabda, “Tidak ada satu tempat pun yang dipenuhi Anak Adam yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi ia beberapa suap makanan saja, asal dapat menegakkan tulang rusuknya” (H.R. Ahmad dan at-Tirmidzi).
Terlampau banyak makan akan menutup hati dan pikiran, mendatangkan kemalasan, hilangnya sensitivitas, serta akan memupuk egoisme. Yang tidak kalah ”menyeramkan”, terlalu banyak makan berpotensi mendatangkan penyakit. Coba kita urut penyakit-penyakit degeneratif yang ada sekarang. Sebagian besar bersumber dari perut yang tidak diatur dengan baik. Benar apabila ada yang mengatakan bahwa “sumber segala penyakit adalah memasukkan makanan di atas makanan”. Karena perut bisa menjadi “rumah penyakit”, berpantang dan tidak berlebihan adalah pangkal segala obat.
Tidak melampaui batas berarti pula proporsional dan seimbang. Baik menurut kita belum tentu baik menurut orang lain. Baik bagi bayi belum tentu baik menurut orang dewasa. Baik menurut orang sakit belum tentu baik menurut orang sehat. Es jeruk itu baik bagi orang yang kekurangan vitamin C, tetapi buruk bagi orang yang terkena serangan asma atau sakit gigi. Daging kambing itu baik bagi orang yang kurang darah, tetapi sangat berbahaya bagi penderita darah tinggi, dan sebagainya. Seimbang artinya sesuai dengan kebutuhan, tidak terlalu berlebihan atau berkekurangan, komposisi gizinya mencukupi, tidak pula melampaui batas kewajaran. Allah Swt. berfirman, ”Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (Q.S. Al A’raaf: 31).
]]>