Makna Qurban[/caption]
syaamilquran.com – Sahabat Syaamil, tidak lama lagi, kita akan bertemu dengan Idul Adha, hari raya umat muslim terbesar kedua setelah Idul Fitri. Idul Adha disebut juga Idul Qurban, karena didalamnya terdapat pengorbanan yang dilakukan umat muslim sebagai bentuk kasih sayang sekaligus menumbuhkan rasa rela berkorban dan keikhlasan menyerahkan sebagian hartanya dalam bentuk hewan qurban untuk disembelih dan dibagikan kepada sesama.
Secara harfiyah, qurban berasal dari kata qarraba-yuqarribu, yang bermakna mendekatkan, yaitu mendekatkan diri kepada Allah Swt, dengan melaksanakan segala syariat dan perintah-Nya, dan dengan mendekatkan diri kepada sesama manusia, terutama kepada mereka yang dhuafa.
Qurban sudah berlangsung sejak zaman Nabi Adam as. Pada saat itu, qurban dijadikan batu ujian dalam menyelesaikan ‘sengketa’ dua bersaudara, Habil dan Qabil. Allah menerima qurban Habil, berupa hewan terbaik yang disertai keikhlasan. Sedangkan qurban Qabil tidak diterima, karena dilandasi rasa ingin mengalahkan saudaranya demi kepentingan pribadi. Peristiwa ini mengisyaratkan bahwa kita harus memberikan qurban yang terbaik dan melandasinya dengan keikhlasan hati.
Di masa Nabi Ibrahim as. Allah memerintahkan untuk mengurbankan anaknya Ismail as. Setelah mendapat persetujuan Ismail, Nabi Ibrahim tanpa ragu melaksanakan prosesi qurban. Namun, saat pedang telah diletakkan di tenggorokkan Ismail as. dan proses qurban akan dimulai, Allah Swt menggantinya dengan seekor hewan qurban yang gemuk.
Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as. lulus dari ujian cinta dan keterikatan duniawi. Cinta kepada Allah, ketaatan dan pengabdian kepada Allah Swt. diletakkan diatas cinta kepada apa pun dan siapaun di dunia ini . Allah Swt telah menjadi muara awal dan akhir kehidupan. Ini menjadi salah satu hikmah dari peristiwa ini.
Semangat berbagi dalam qurban dicontohkan dengan jelas oleh Rasulullah Saw. Setiap Idul Adha, Nabi Muhammad saw. menyembelih dua ekor domba gemuk, bertanduk dan berbulu putih bersih. Setelah mengimami shalat dan berkhutbah, beliau melaksanakan sendiri prosesi qurban. Saat domba pertama dibaringkan untuk disembelih, beliau berdoa, “Ya Allah, terimalah ini dari Muhammad dan umat Muhammad.” Kemudian mengambil domba satunya, membaringkannya dan berdoa, “Ya Allah, terimalah ini dari umatku yang tidak mampu berqurban” (HR Ahmad, Ibnu Majah, Abu Dawud, At Tirmidzi, dll)
Sebagian daging untuk keluarga beliau, sedangkan sisanya dibagikan kepada orang-orang miskin. Melalui ibadah qurban, Nabi Muhammad saw. mendidik dan mengisyarakatkan kepada kita agar peduli dan mau berbagi kepada sesama yang membutuhkan.
“Daging-daging unta dan darahnya sekali-kali tidak akan mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang yang berbuat baik” (QS. Al Hajj: 37)
Lalu, bagaimana menghayati makna Idul Qurban dalam kehidupan kita? Qurban akan melatih kita untuk menjadikan Allah Swt sebagai tujuan awal dan akhir kita, serta mewujudkan rasa taqwa, cinta dan kasih itu ke dalam kehidupan nyata, alam semesta dan sesama manusia.*** (roni ramdan/ sumber: majalah Al Falah, November 2010)
]]>