syaamilquran.com – Memaafkan Orang Lain Meningkatkan Produktivitas – Bayangkan perasaan seseorang saat melihat orang lain yang telah membunuh pamannya sendiri, yang membelah organ tubuhnya, dan memakannya – tetapi ia malah memaafkannya. Bayangkan seseorang disakiti dan dicela, dan saat diberikan kesempatan untuk membalas, dia malah memaafkannya. Orang tersebut adalah Rasulullah SAW, seseorang yang disebutkan di dalam Al-Qur’an sebagai “…suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab 33:21)
[caption id="attachment_2159" align="aligncenter" width="620"]
Memaafkan Orang Lain Meningkatkan Produktivitas[/caption]
Banyak dari kita yang tidak bisa memaafkan orang tua atau teman atau pasangan setelah mereka mengatakan sesuatu yang menyakiti perasaan kita dan membuat kita marah. Kita menahan perasaan tersebut bertahun-tahun, tidak mampu melupakan apa yang telah orang tersebut lakukan terhadap kita. Di satu sisi, kita merasa tidak bermasalah dalam merasakan perasaan ini. Tetapi setelah kita sadar, kita lah yang bersalah. Di sisi lain, menyimpan semuanya di dalam diri merupakan sesuatu yang tidak sehat, baik dalam tingkat spiritual dan psikologis.
Merupakan hal yang sangat natural untuk merasa kesal pada seseorang setelah mereka menyakiti kita. Rasulullah SAW memberitahu kita bahwa Muslim tidak seharusnya memutus tali silaturahmi dengan Muslim yang lain selama lebih dari tiga hari, dan pahami bahwa kita butuh waktu untuk menenangkan diri. Namun yang tidak sehat dan bahkan merusak, adalah ketidakmampuan untuk memaafkan dan melangkah untuk maju terhadap hidup kita.
Maka dari itu, apakah arti dari memaafkan?
Memaafkan artinya tidak membawa beban di dalam hati terhadap orang tersebut. Memaafkan adalah saat kita memiliki kesempatan untuk membalas, kita memilih untuk tidak membalas. Memaafkan artinya tidak mengharapkan keburukan terjadi para orang lain, baik secara terang-terangan dan secara rahasia. Artinya kita bisa melanjutkan agar kita bersikap biasa-biasa saja terhadap mereka, dan dengan itu kita bisa memohon doa dan berharap agar mereka terus berada dalam kebaikan dan petunjuk-Nya.
Bagaimana pun, memaafkan tidak berarti kita tidak bisa belajar dari masa lalu. Hal ini bukan berarti orang tersebut tidak melakukan kesalahan, dan tidak berarti kita membenarkan apa yang mereka lakukan. Jika kita mempercayai seseorang dan orang tersebut mengkhianati kepercayaan kita, memaafkan bukan berarti kita akan membentuk kepercayaan baru terhadap mereka jika mereka tidak memberikan alasan. Kita boleh memperlakukan mereka secara benar, tanpa merasa dendam di dalam hati Anda, tetapi jika Anda telah belajar tentang karakter mereka, tetap harus diingat bagaimana berhadapan dengan mereka di masa depan.
Maka, apa manfaat yang bisa kita dapatkan dari memaafkan seseorang? Bagaimana hal ini dapat membantu kita menjadi Muslim produktif?
1. Produktivitas spiritual: mendapatkan ridho Allah
Saat kita malah disibukkan dengan kesalahan yang orang lain lakukan pada kita, kita akan kehilangan fokus pada cara untuk lebih dekat dengan Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, “Ada seorang pedagang yang selalu memberikan utang terhadap orang lain. Dan pada saat ia melihat salah satu konsumennya untuk ditagih utangnya, dia akan berkata pada asistennya, “Maafkan lah dia dengan mata uang, niscaya Allah pun akan memaafkan kita.” dan Allah memaafkannya.” (HR Bukhari)
Terdapat hubungan langsung bagaimana kita memperlakukan orang lain dan bagaimana Allah SWT memperlakukan kita.
Tindakan yang baik akan membawa kita semakin dekat kepada Allah SWT, terutama jika kita melakukan kebaikan terhadap orang lain. Kita harus menunjukkan kebaikan kepada seluruh makhluk di muka bumi termasuk manusia, apakah kebaikannya datang dalam bentuk tingkah laku personal kita, bagaimana kita membagi harta kita, memberikan bantuan dengan kemampuan kita dan juga pengaruh kita, atau berdoa kepada Allah untuk mereka. Kita pun perlu memberikan pertimbangan khusus kepada orang-orang yang kehilangan haknya, para janda dan anak yatim, serta orang miskin.
Kita semua mengetahui Rasulullah SAW bersabda, “Kasihanilah mereka di bumi, dan Allah di surga akan mengampunimu.” (HR Tirmidzhi). Tentu, Allah SWT tidak bisa dibandingkan kebaikannya dan tentu lebih penyayang daripada kita. Tetapi bagaimanapun, apa yang kita lakukan untuk orang lain, Allah akan melipatgandakan pahalanya kepada kita. Jika kita ikhlas mengharap Allah SWT memaafkan kita pada setiap kesalahan dan dosa, kita harus mempersiapkan diri kita juga untuk memaafkan orang lain.
Maaf, toleransi, dan kemurahan hati seharusnya menjadi sikap yang kita lakukan terhadap orang lain. Kita seharusnya mau untuk mengabaikan kesalahan orang lain. Kita seharusnya mulai membebaskan diri dari beberapa hak kita. Kita seharusnya tidak selalu menuntut segala hal untuk kita. Semua hubungan adalah urusan memberi dan menerima.
Hal ini berlaku untuk setiap orang yang berurusan dengan kita. Berlaku untuk hubungan suami dan istri, antara orang tua dan anak, antara guru dan murid, dan antara pemimpin dan orang-orang yang dipimpin. Pada setiap hubungan-hubungan ini, ke semuanya menjelaskan dengan jelas hak dan kewajiban, dan kita harus sebaik mungkin untuk memenuhi semuanya. Bagaimana pun, pada setiap hubungan, orang-orang sering kali gagal. Memaafkan dan kesabaran membawa pada keharmonisan dan cinta pada setiap hubungan.
Bayangkan jika pernikahan hanya dilandasi oleh hak dan kewajiban. Akankah ada cinta atau kasih sayang dalam pernikahan tersebut, adakah ruang untuk kelembutan dan kasih sayang?
Toleransi dan kemurahan hati, menstabilkan hubungan-hubungan dan meningkatkan penghargaan dan kelayakan antar manusia. Oleh karena karunia Allah, kualitas ini membuat hubungan dan urusan kita lancar juga sukses, dan tentunya akan membuat setiap urusan kita diridhoi oleh Allah SWT.
Rasulullah SAW, pada saat dia duduk di masjid bersama dengan sahabat, menunjuk seseorang di dalam masjid sebagai orang yang akan memasuki Surga. Beliau melakukannya selama tiga hari lamanya, dan Beliau menunjuk pada orang yang sama. Abdullah bin ‘Amr (ra) ingin mengetahui kualitas apa yang dimiliki orang tersebut, dan dia menyempatkan tiga malam lamanya bersama dengan orang tersebut. Abdullah bin ‘Amr tidak melihat ibadah lebih pada sholat malamnya, tetapi setiap ia terbangun di saat malam, orang tersebut akan menyebut nama Allah. Dan sebelum ia meninggalkan orang tersebut, Abdullan bin ‘Amr bertanya apa yang membuatnya begitu istimewa sehingga Rasulullah mengidentifikasikannya sebagai orang yang akan masuk surge. Orang tersebut menjawab, “Amalanku tidak lebih daripada apa yang kau lihat.” Dan saat Abdullah (ra) meninggalkannya, orang tersebut memanggilnya kembali dan berkata, “Amalanku tidak lebih daripada apa yang kamu lihat, tetapi apa yang aku lakukan adalah aku tidak menyimpan dendam terhadap setiap Muslim dan menyimpan rasa iri pada berkah yang Allah berikan kepada mereka.” (HR Ahmad)
Hal tersebutlah yang seharusnya menjadikan seseorang sejatinya beriman. Fokus kita tidak hanya ada pada ibadah kita, tetapi bagaimana kita menempatkan ibadah tersebut. sebaliknya kita terlalu fokus mendapatkan keridhoaan Allah, sehingga kita merasa kesalahan kita terhadap orang lain jadi tidak penting. Oleh karena itu Allah berfirman kepada orang-orang yang beriman, “Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf.” (QS Ash-Shuraa 42:37)
2. Produktivitas Psikologis: Mendapatkan Kekuatan
Psikolog mengatakan bahwa setiap orang yang tidak mampu memaafkan orang lain, akan membuat orang tersebut mengulangi kemarahan yang sama pada hubungan yang lain dan pengalaman yang baru. Rasa sakit dan tidak aman yang dilakukan oleh orang lain pada kita, nantinya akan kita lakukan pula pada orang lain, hanya karena kita tidak mampu untuk melangkah dari pengalaman kita sebelumnya.
Kita tidak diminta untuk sekedar memaafkan apa yang orang lain lakukan terhadap kita, tetapi kita harus mengetahui bahwa mereka menyakiti kita dan itu salah. Kita harus mulai merenung mengapa rasanya sakit, dan apakah motif dari orang tersebut menyakiti kita, dan kita harus belajar dari hal tersebut. Lalu kita harus melangkah, karena kita tidak bisa mengubah masa lalu, tetapi kita bisa mempergunakannya untuk menguatkan diri kita dan berubah menjadi orang yang lebih baik, Insya Allah.
Pada saat kita mengambil langkah dari pengalaman yang menyakitkan, kita harus mencegah diri kita dari melakukan tindakan yang sama terhadap orang lain. Sering kita mengutuk apa yang orang lakukan terhadap kita – kita merasa tersakiti jika ada yang menggunjingkan diri kita di belakang, tetapi kita pun bergunjing sepanjang waktu. Kita akan merasa kesal saat orangtua kita tidak menghargai kita, tetapi tidak sedikit pun kita menyadari dan berterimakasih pada apa yang orang lain lakukan terhadap kita. Introspeksi seperti ini seharusnya membantu kita untuk membangun kejelasan yang lebih besar jika kita berurusan dengan orang lain.
Efek psikologis dari memaafkan orang lain adalah mengajarkan kita rasa simpatik. Pada saat kita melepaskan kemarahan kita, kita akan bisa memahami orang lain yang mengalami siatuasi yang sama dengan kita. Terkadang hal itu membantu kita untuk tidak mengutuk orang yang menyakiti kita; hal tertentu yang mereka lakukan terhadap kita mungkin buruk, tetapi pada saat kita melangkah mundur, kita terkadang akan mendapatkan pelajaran bahwa orang lain pun memiliki beban yang membuat mereka berlaku seperti itu. Hal ini bukan berarti kita membenarkan apa yang mereka lakukan, tetapi kita akan paham bahwa dunia ini tidak selalu hitam dan putih saja.
3. Produktivitas Fisik: Pikiran yang sehat, tubuh yang sehat
Ketidakmampuan kita dalam memaafkan seseorang akan berdampak pada aspek spiritual dan psikologis, dan yang nantinya akan memiliki efek yang merugikan pada kesehatan kita. Sebuah studi menunjukkan bahwa seseorang yang terlalu fokus pada dendam pribadi, akan meningkatkan tekanan darah dan juga detak jantung, yang tentunya akan meningkatkan tingkat stress terhadap otot dan perasaan yang kurang terkontrol. Beberapa orang yang berpartisipasi dalam studi ini disuruh untuk membayangkan untuk memaafkan orang yang menyakiti mereka, dan mereka mengatakan bahwa mereka merasa lebih positif dan tenang.
Jika kita ingin Allah memaafkan kita, kita haruslah memaafkan orang lain dan melupakan kesalahn mereka. Hal ini termasuk dalam berbuat baik kepada orang lain. Allah menjelaskan kepada hambanya yang beriman, “dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS Ali-Imran 3:134)
Allah berfirman, “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS An-Nuur 24:22)
Semoga Allah selalu memberikan kita kekuatan untuk memaafkan kesalahan orang lain, dan senantiasa memaafkan kita. Aamiin. (diterjemahkan dari http://idealmuslimah.com/character/walaa/3440-forgiving-others-enhancing-personal-productivity)
]]>