Menjaga Abad-Adab Makan – Rasulullah saw. mencontohkan serangkaian adab makan yang layak kita tiru, baik itu sebelum, ketika, maupun sesudah makan. Ketika kita bisa istiqamah menjalankan sunnah-sunnah Rasulullah saw. ini, insya Allah keberkahan dari makanan yang dikonsumsi akan kita dapatkan.
Menjaga Abad-Adab Makan
Berikut ini beberapa adab makan yang dicontohkan Nabi saw.
- Hendaknya mencuci tangan terlebih dahulu sebelum makan jika tangannya kotor.
- Niatkan makan dan minum yang kita lakukan adalah untuk memperkuat tubuh agar bisa menjalankan tugas beribadah kepada Allah Swt. Rasulullah saw. bersabda, “Setiap amal perbuatan bergantung pada niat dan setiap orang akan memperoleh pahala sesuai dengan niatnya …” (H.R. Bukhari).
- Mengawali dan mengakhiri makan dengan doa, minimal basmalah di awal dan hamdalah di akhir. Diriwayatkan dari Jabir bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Apabila seseorang masuk ke dalam rumahnya dengan mengucapkan ‘bismillah’ dan ketika hendak makan, maka setan akan berkata kepada temannya, ‘Tiada tempat tinggal dan tiada pula bagian makanan untuk kita di sini’. Namun, apabila orang itu masuk tanpa menyebut nama Allah, setan akan berkata, ‘Kita dapat bermalam di rumah ini’. Lalu ketika makan tidak menyebut nama Allah, setan pun berkata, ‘Kita dapat bermalam dan makan di sini’.”(H.R. Muslim).
- Jika lupa membaca doa pada awalnya, segeralah membaca ketika ingat. Rasulullah saw. bersabda, “Jika seseorang di antara kamu hendak makan, sebutlah asma Allah. Jika lupa menyebut asma Allah pada saat hendak makan, hendaklah mengucapkan bismillaahi awwalahu wa aakhirahu” (dengan nama Allah awal dan akhirnya). (H.R. Abu Dawud dan Tirmidzi).
- Makan dengan tangan kanan dan mengambil makanan yang terdekat. Umar bin Abu Salamah berkata, “Ketika saya masih kecil dan berada di rumah Nabi, saya pernah makan dengan tangan ke sana kemari mengambil makanan dari piring, lalu beliau menegurku, ’Wahai anakku, sebutlah asma Allah dan makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari apa yang terdekat darimu.’ Cara makanku pun berubah sejak saat itu” (H.R. Bukhari).
- Jangan makan sambil berdiri atau berjalan-jalan. Diriwayatkan dari Qatadah, dari Anas bin Malik, dari Rasulullah saw., “Sesungguhnya Rasul melarang seseorang minum sambil berdiri.” Lalu, Qatadah bertanya, “Bagaimana dengan makan?” Ia pun menjawab, “Hal itu lebih busuk dan jahat lagi!”(H.R. Muslim, Ahmad, dan Tirmidzi).
- Tidak menghina atau mencela makanan. Jika sesuai dengan selera, silakan makan; jika tidak sesuai, tinggalkan.Dari Abu Hurairah, bahwa ia berkata, “Rasulullah saw. tidak pernah mencela makanan sekali pun. Jika beliau menginginkannya, beliau pun makan; jika beliau tidak suka, beliau pun meninggalkannya” (H.R. Bukhari).
- Tidak terlalu kenyang,tetapi sesuai dengan proporsi dan kebutuhan tubuh. Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada satu tempat pun yang dipenuhi Anak Adam yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi ia beberapa suap makanan saja, asal dapat menegakkan tulang rusuknya” (H.R. Ahmad dan Tirmidzi).
- Tidak memaksakan diri menyantap makanan (minuman) yang masih terlalu panas, tunggulah hingga dingin. Tidak pantas pula meniup makanan (minuman), apalagi sampai bernapas dalam gelas atau mangkok.Dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata, “Sesungguhnya, Rasulullah saw. melarang bernapas dalam wadah (minuman) atau meniupnya” (H.R. Tirmidzi).
- Tidak terlalu banyak memasukkan makanan ke dalam mulut.Kecilkan suap ke mulut dan kunyahlahsampai lembut dan tidak terlalu cepat. Jangan sisakan makanan sedikit pun dari piring atau dari tangan karena kita tidak tahu bagian makanan mana yang paling diberkati Allah. Dari Jabir, bahwa Rasulullah saw. memerintahkan untuk menjilat jemari dan piring seraya bersabda, “Sesungguhnya, kalian tidak tahu keberkahan ada pada makanan yang mana” (H.R. Muslim).
- Jika sedang makan bersama, jangan melakukan sesuatu yang membuat orang lain merasa jijik dan risih, termasuk tidak membicarakan hal-hal yang dapat menghilangkan selera makan orang lain.
- Mengambil makanan secukupnya untuk menghindari kemubaziran karena kekenyangan atau kita tidak menyukainya, sebagaimana sering terjadi dalam pesta-pesta. Allah dan Rasul-Nya sangat mengecam orang yang berlebihan dan memubazirkan rezeki dari Allah. “…dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya, pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya” (Q.S. Al Israa’: 26-27).
- Jika makanan itu merupakan jamuan, berdoalah untuk tuan rumah yang menjamunya. Rasulullah saw. mencontohkan sebuah doa, “Allâhumma at`im man at`amani wa asqi man saqani.” Artinya, “Ya Allah berilah makanan kepada orang yang telah memberikan makanan kepadaku dan berikanlah minuman kepada orang yang telah memberikan minuman kepadaku” (H.R. Muslim).
Walaupun terkesan mudah dan simpel, tidak semua orang mampu mempraktikkan adab-adab makan tersebut. Ada beragam sebab, mulai dari tidak tahu, tidak mau, hingga perbedaan latar belakang budaya dan agama sehingga adab-adab makan ini tidak teraplikasikan. Perbedaan budaya dan agama ini akan terasa apabila kita berada di negara-negara Barat atau di lingkungan yang heterogen dan tipis nilai-nilai keislamannya.
]]>