Alhamdulillah, selama tiga tahun tersebut, saya berkesempatan bertemu dan berdialog dengan banyak orang, mulai dari orang biasa, artis, ustaz, pengusaha, dan orang-orang terkenal lainnya. Dari sekian banyak orang tersebut, ada seorang tokoh yang membuat hati dan kaki saya bergetar. Saat melakukan wawancara, tidak biasanya saya begitu merasa grogi. Padahal, saya senantiasa menempatkan semua yang diwawancarai sebagai rekan yang memiliki kedudukan yang sama. Tujuannya adalah agar saya tidak sampai kehilangan objektivitas atau penghormatan yang berlebihan kepadanya. Dengan tokoh yang satu ini ternyata lain. Dia terlihat sangat tenang, sopan, berwibawa, rendah hati, dan auranya sangat luar biasa. Kata-katanya berbobot. Sorot matanya lembut tetapi memancarkan kekuatan. Wajahnya pun begitu enak dipandang dan tampak bercahaya. Saya penasaran mengapa si bapak yang juga seorang ustaz ini begitu memesona. Ternyata, menurut informasi seorang kawan, dia adalah seorang ahli tahajud, ahli Al Qur’an, dan senantiasa menjaga wudunya, termasuk ketika hendak tidur. Setiap kali batal, dia berwudu sehingga dalam banyak waktu dia senantiasa siap melaksanakan shalat dan membaca Al Qur’an. Salah satu harapannya adalah meninggal dalam keadaan suci dan dalam ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Mengapa dengan senantiasa menjaga dan memperbaharui wudu seseorang jadi tampak bercahaya? Di dalam Al Qur’an, cahaya kerap dijadikan perumpamaan untuk menggambarkan kebaikan dan keburukan. Kebaikan disamakan dengan cahaya sedangkan keburukan disamakan dengan hilangnya cahaya. Di bawah cahaya itulah seorang beriman akan mampu melihat jalan menuju Tuhannya. Sedangkan orang yang berada dalam kegelapan tidak bisa melihat apa-apa sehingga mereka akan tersesat dan terhalang dari pertemuan dengan Tuhannya di dunia, terlebih lagi di akhirat. Allah Swt. berfirman sebagai berikut. “Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, sehingga dia tidak dapat keluar dari sana? Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS Al An’âm, 6: 122) Yang menarik, makna gelap terang ini tidak hanya sekadar perumpamaan. Istilah tersebut hadir pula dalam kenyataan. Orang-orang yang berbuat kebaikan akan menghasilkan cahaya di dalam dirinya, di dalam otaknya, dan di sekujur tubuhnya. Sebaliknya, orang yang berbuat maksiat akan kehilangan cahayanya. Cahaya itu kita kenal dengan istilah “aura”. Al Qur’an menyebutkan sebagai berikut. “Pada hari engkau akan melihat orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, betapa cahaya mereka bersinar di depan dan di samping kanan mereka, (dikatakan kepada mereka), ‘Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Demikian itulah kemenangan yang agung.’ Pada hari orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman, ‘Tunggulah kami! Kami ingin mengambil cahayamu.’ (Kepada mereka) dikatakan, ‘Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu).’ Lalu di antara mereka dipasang dinding (pemisah) yang berpintu. Di sebelah dalam ada rahmat dan di luarnya hanya ada azab.” (QS Al Hadid, 57: 12-13) Dalam ayat yang lain, Allah Swt. juga berfirman sebagai berikut. “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (kenikmatan melihat Allah). Dan wajah mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) dalam kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. Adapun orang-orang yang berbuat kejahatan (akan mendapat) balasan kejahatan yang setimpal dan mereka diselubungi kehinaan. Tidak ada bagi mereka seorang pelindung pun dari (azab) Allah, se-akan-akan wajah mereka ditutupi dengan kepingan-kepingan malam yang gelap gulita. Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS Yunus, 10: 26-27) Mengapa demikian? Terkait pembahasan ini, ada pendapat menarik dari Ustaz Agus Mustofa dalam buku Memahami Al Qur’an dengan Metode Puzzle (2008: 48-49). “Sebenarnya, tubuh manusia itu senantiasa memancarkan energi dari struktur atomiknya. Orang-orang yang berbuat kebajikan akan menghasilkan energi positif. Sedangkan orang yang berbuat kemaksiatan akan menghasilkan energi negatif dalam bentuk penyerapan cahaya. Karena itu, dia akan kelihatan gelap, kusam, dan tidak enak dipandang, bagaikan malam tanpa cahaya.” Oleh karena itu, sangat pantas apabila orang yang senantiasa berwudu dan istikamah menjaga wudunya akan terlihat bercahaya. Betapa tidak, dengan menjaga wudu, apalagi jika wudunya penuh keikhlasan, selain kulit wajahnya akan bersih dari kuman dan kotoran sehingga selalu segar, tubuhnya pun akan memancarkan energi positif dalam bentuk aura terang berenergi tinggi walau intensitasnya tidak begitu kuat untuk bisa ditangkap mata telanjang. Menurut Rasulullah saw., cahaya terang di mereka akan terlihat sangat jelas saat di akhirat nanti ketika Allah Swt. membuka hijab sehingga pandangan manusia ketika itu menjadi sangat kuat dan jelas.[1] Rasulullah saw. bersabda sebagai berikut. “Sesungguhnya, umatku akan dipanggil pada hari Kiamat dalam keadaan bercahaya wajahnya dan sangat putih bersih tubuhnya oleh sebab bekas-bekas wudu. Oleh karena itu, barang siapa di antara kamu hendak memperpanjangkannya (menambah cahaya), maka baiklah dia melakukannya dengan sempurna.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits lain, beliau pun bersabda, “Tidak ada seorang pun dari umatku kecuali aku mengenalnya pada hari Kiamat kelak.”
Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana Anda mengenali mereka di tengah banyaknya makhluk?”
Beliau menjawab, “Tidakkah engkau lihat, jika di antara sekumpulan kuda yang berwarna hitam terdapat seekor kuda yang berwarna putih di dahi dan kakinya, bukankah kamu dapat mengenalinya?”
Para sahabat mengiyakan.
“Sesungguhnya, pada hari itu umatku memancarkan cahaya putih dari wajahnya bekas sujud dan bekas air wudu’.” (HR Ahmad dan At Tirmidzi)
Ada banyak kisah luar biasa tentang orang-orang yang senantiasa menyucikan dirinya dengan wudu. Salah satunya adalah kisah Abu Khalid Al Qatari, seorang mujahidin yang syahid di Bosnia tahun 1993 yang saya kutip dari buku Biografi dan Karomah Syuhada Jihad Bosnia.
Abu Khalid adalah seorang anggota tim nasional bola tangan Qatar. Dia datang ke Bosnia pada akhir 1992. Dia sangat menyukai tugas jaga (ribath). Dia biasa mengambil tugas jaga double shift selama empat jam di tengah cuaca yang dingin.
Di antara rekan-rekannya, Abu Khalid dikenal sebagai seorang mujahid yang sangat tawadhu dan saleh. Kulitnya hitam karena dia keturunan negro. Walau demikian, para mujahidin melihat cahaya pada wajahnya. Ada dua buah tanda bekas sujud di kening Abu Khalid akibat lamanya dia bersujud dalam shalat-shalat malamnya.
Suatu hari, dia pernah ditanya, “Kapan engkau akan kembali ke negaramu, Abu Khalid?”
Abu Khalid menjawab, “ Saya ingin syahid di sini!”
Abu Khalid pernah berkata kepada seorang mujahid, “Dulu, ketika di Qatar, saya telah membeli pakaian tempur untuk pergi dan berperang di Afghanistan. Akan tetapi, ibu saya mencegah kepergian saya. Tetapi, insya Allah, kali ini, dengan pakaian tempur yang sama, saya akan syahid di Bosnia.”
Sebelum sebuah operasi melawan Kroasia, saat menerima pembagian kelompok oleh pemimpin para mujahidin, dia berbisik kepada seorang mujahid di sampingnya, “Insya Allah, kali ini Allah akan mengambil saya menjadi seorang syahid.”
Kemudian dia melakukan perjalanan dengan mobil bersama lima orang mujahidin lainnya. Salah satunya adalah Wahiuddin Al Misri, pimpinan pasukan mujahidin. Mereka tersesat dan masuk sejauh tujuh kilometer ke dalam wilayah musuh. Pasukan Kroasia menembaki mereka dengan senjata anti pesawat hingga mobil mereka terpental enam meter ke udara. Semua mujahidin di dalamnya keluar dan bertempur hingga mendapatkan mati syahid.
Dua bulan kemudian, saat jenazah mereka dikembalikan, para mujahidin dapat mengenali mereka, kecuali jenazah Abu Khalid Al Qatari. Jenderal Bosnia yang mengantarkan para jenazah mengeluarkan jenazah yang terakhir. Jenazah itu berkulit putih dan wajahnya juga berwarna putih. “Ini saudara kalian yang terakhir.”
Para mujahidin mengatakan, “Ini bukan saudara kami. Saudara kami punya kulit yang hitam.”
Para mujahidin pun memeriksa lebih lanjut jenazah itu. Mereka membuka bajunya dan menemukan bahwa dari bagian leher ke bawah, kulit jenazah itu berwarna hitam. Kemudian mereka membuka lengan bajunya dan menemukan bahwa dari siku ke atas, kulit jenazah itu berwarna hitam, sedangkan pada bagian lengan dan tangannya berwarna putih.
Kemudian mereka menggulung celana panjangnya dan menemukan bahwa kakinya berkulit putih, tetapi dari tumit ke atas berwarna hitam. Salah satu mujahid yang menyaksikan berkomentar bahwa sesuai dengan hadits Rasulullah saw. tentang ciri-ciri orang beriman pada hari Kiamat ialah bahwa anggota tubuh mereka yang dibasuh air wudu akan bercahaya. Demikianlah yang terjadi pada jenazah Abu Khalid Al Qatari. Semoga Allah Swt. menerimanya di antara barisan para syuhada. r
“Sesungguhnya, umatku pada hari Kiamat dikenal sebagai
ghurrah muhajallin (putih semua bagaikan anggota wudunya) dari bekas wudu, maka yang suka memperlebar putih mukanya, hendaklah dia melakukannya (berwudu).”
— HR Bukhari muslim —
Buku : AGAR PARA MALAIKAT BERDOA UNTUKMU Penulis : Sulaiman Abdurrahim Penerbit : Arkanleema
