“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu; dan ika kamu kufur (mengingkari nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS Ibrahim: 7)
Di suatu negeri, hiduplah seorang raja yang memiliki seorang pembantu. Jika terkena musibah, pembantu tersebut tidak lupa berucap “Al khair mukhtarallah..”, yang bermakna “Yang terbaik adalah pilihan Allah”.
Suatu hari, ketika sedang asyik menikmati makanannya, tanpa disadar, salah satu jari tangan sang raja terpotong. Raja mengaduh kesakitan. Sontak, semua yang ada di ruang makan tersebut terkejut mendengar jerit kesakitan sang raja. Sang pembantu, yang juga berada di ruangan dan menyaksikan peristiwa tersebut, spontan berujar “Al khair mukhtarallah…”.
Mendengar perkataan itu, sang raja naik pitam. Pembantunya tersebut akhirnya dijebloskan ke penjara. Saat akan dimasukkan ke penjara, pembantunya berkata lagi, “Al khair mukhtarallah”. Tentu saja, sang raja semakin marah dan kalap kepada pembantunya tersebut.
Hari terus berlalu, hingga suatu hari, raja pergi berburu bersama pengawal dan anak buahnya. Saking asyiknya berburu, tanpa disadari, raja dan rombongan keluar dari wilayah kerajaannya sangat jauh. Sampai akhirnya mereka bertemu kaum Majusi, kaum yang menyembah api dan dewa. Kaum Majusi itu lalu menangkap sang raja beserta rombongannya untuk dijadikan persembahan bagi dewa mereka. Satu per satu mereka dibunuh, hingga tiba giliran sang raja.
Ketika raja akan dipenggal, salah seorang kaum Majusi melihat jari sang raja yang terpotong. Melihat kondisi tangan raja yang cacat, kaum Majusi tidak lagi antusias. Pasalnya, persembahan bagi dewa mereka haruslah sempurna. Sedangkan sang raja memiliki cacat pada tangannya.
Sang raja pun urung dibunuh. Kaum Majusi lalu melepaskan raja dalam keadaan hidup-hidup. Raja tentu saja gembira bukan kepalang. Ia pun segera teringat pembantunya yang ia penjarakan. Raja itu kembali ke istana dan segera menemui si pembantu untuk ia bebaskan. Setelah membebaskan pembantunya, raja lalu bertanya kepada pembantunya,
“Mengapa saat akan dipenjarakan, engkau malah mengatakan Al khair mukhtarallah?” tanya sang raja
Sangat pembantu pun menjawab, “Jika tidak dipenjara, aku mungkin sudah dibunuh pula seperti pengawal dan anak buah raja di luar sana”.
Subhanallah. Itulah ganjaran bagi orang yang selalu berprasangka baik dan senantiasa bersyukur atas nikmat yang Allah Swt berikan. Sesungguhnya kita tidak akan mampu menghitung nikmat Allah. Mengapa demikian? Karena nikmat Allah itu terlalu besar untuk dihitung, akan selalu datang setiap saat sebelum kita sempat mensyukuri nikmat yang telah datang sebelumnya. Allah Swt berfirman,
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya…” (QS An Nahl : 18).
Sungguh betapa besar nikmat Allah. Namun, sayangnya, orang-orang yang bersyukur itu tidaklah banyak. “Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang pandai bersyukur.” (QS. Saba’: 13). Manakah yang akan Sahabat Syaamil pilih, menjadi orang yang pandai bersyukur atau kurang bersyukur? *** (roni ramdan/ berbagai sumber)
]]>

