Muhammad saw. adalah hamba Allah yang dipilih untuk menjadi Rasul akhir zaman. Allah memperjalankannya dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa. Kemudian, Allah membimbingnya untuk menuju Sidratul Muntaha, suatu tempat yang tidak dapat dituju makhluk apa pun kecuali hanya hamba-hamba pilihan Allah. Di tempat itu, Rasulullah saw. mendapatkan banyak informasi tentang keadaan umat-umat terdahulu. Pada peristiwa itu pula Rasulullah saw. menerima perintah cara beribadah shalat bagi dirinya dan bagi umatnya.
Rasulullah saw. adalah sosok hamba Allah yang pantas untuk dipilih oleh Allah sebagai utusan-Nya. Kepribadiannya yang luar biasa, sabar, tabah dan gigih dalam meniti keridhaan-Nya semata.
Salah satu karakteristik terpenting beliau adalah beliau hanya mempraktikkan apa yang diperintahkan dan diminta Allah dari beliau tanpa memedulikan apa yang akan dipikirkan orang lain. Tokoh-tokoh dan anggota-anggota penting dari agama-agama lainnya pada saat itu menginginkan agar beliau menetapkan hukum yang menguntungkan mereka.
Meskipun orang-orang seperti ini berada dalam jumlah yang banyak dan sangat berpengaruh, Rasulullah saw. tetap berpegang teguh pada perintah Allah dan Al-Quran.


“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata, ‘Datangkanlah Al-Quran yang lain dari ini atau gantilah dia”. Katakanlah, ‘Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya, aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar (kiamat)’.
Katakanlah, ‘Jika Allah menghendaki niscaya aku tidak membacakannya kepadamu dan Allah tidak (pula) memberitahukannya kepadamu”. Sesungguhnya, aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya. Maka apakah kamu tidak memikirkannya?’’ (QS Yunus: 15-16)
Beliau selalu berserah diri kepada Allah dalam segala hal. Rasa tawakalnya itu adalah contoh bagi kaum muslim. Beliau selalu berupaya sebaik mungkin apa pun situasinya. Beliau bergantung dan berserah kepada-Nya semata.
(dikutip dari Harun Yahya, Keikhlasan dalam Telaah Al-Quran, 2003)
]]>