Mereka yang mencari ridha Allah pada masa-masa susah, lebih utama dan unggul daripada mereka yang tidak berupaya apapun. Pegangan erat kepada agama mereka dalam masa-masa susah menyingkapkan kebesaran iman mereka. Sukar menilai ketulusan seseorang yang berkorban di masa-masa mudah.
Menempatkan manusia di dalam cobaan melalui kesukaran adalah cara Allah membedakan antara mereka yang bersungguh-sungguh dan mereka yang pendusta.
Cobaan Allah pada mukmin dengan kesukaran-kesukaran memiliki maksud lain. Telah mengalami kesukaran membuat seseorang menghargai lebih baik nilai suatu nikmat dan membuatnya merasa lebih bersyukur. Ini karena kesukaran dan kesakitan mendewasakan jiwa manusia.
Kesukaran-kesukaran di dunia ini membuat manusia mampu membuat pembandingan antara yang baik dan yang buruk, kelebihan dan kekuragan, kenyamanan dan keresahan.
Hanya melalui pembandingan-pembandingan ini seorang manusia menhargai nilai nikmat lahirian dan batiniah yang dirasakannya. Lebih penting lagi, kesukaran-kesukaran ini membuatnya mampu sungguh-sungguh mengerti bagaimana ia membutuhkan Allah dan memahami kelemahannya di hadapan-Nya (lihat QS Al Baqarah: 155) (Harun Yahya, Iman yang Sempurna, 2005)
(dikutip dari Al-Qur’an Miracle the Reference)
]]>