“Demi fajar, demi malam yang sepuluh, demi yang genap dan yang ganjil, demi malam apabila berlalu. Adakah pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) bagi orang-orang yang berakal? (“QS Al-Fajr, 89: 1-5)
Film-film yang bisa dan biasa diputar mundur memungkinkan kita untuk membayangkan sebuah dunia berjalan mundur dan kembali ke masa lampau. Namun, kenyataan di dunia ini tidaklah mungkin hal seperti itu dilakukan. Waktu memiliki segi-segi yang berlawanan. Nah, jika kita membandingkan proses-proses di dalam otak kita dan cara memori kita mengumpulkan informasi, akan serupa itu pula fungsinya dengan berjalan mundur.
Hal yang sama juga berlaku bagi masa lalu dan masa depan dan dunia ini akan tampak bagi kita sama persis sebagaimana halnya yang tampak sekarang ini. Karena otak kita bekerja dengan mengatur berbagai hal dalam sebuah urutan, namun kita tidak percaya bahwa dunia ini bekerja sebagaimana digambarkan di atas tadi; kita berpikir bahwa waktu senantiasa bergerak maju, waktu yang kita rasakan sekarang bukanlah waktu yang telah kita lalui kemarin maupun yang akan datang.
Akan tetapi, ini adalah sebuah keputusan yang dibuat oleh otak kita, dengan demikian sama sekali relatif sifatnya. Andaikata informasi di dalam otak kita diatur seperti sebuah film yang sedang diputar mundur tadi, waktu pun bagi kita akan seperti sebuah film yang sedang diputar mundur pula. Dalam situasi ini, kita akan mulai berpikir bahwa masa lalu adalah masa depan dan masa depan adalah masa lalu, dan kita akan mengalami kehidupan yang sama sekali terbalik daripada apa yang kita lakukan sekarang ini, namun tidaklah demikian kenyataannya.
(dikutip dari Harun Yahya, Hakikat di Balik Materi)
]]>