Syaamil Quran

Sempurnakan Iman dengan Mencintai Rasul

syaamilquran.com – Sempurnakan Iman dengan Mencintai Rasul – Pada suatu ketika, di hadapan para sahabatnya, Rasulullah memegang tangan Umar Bin Khaththab dengan lembut. Mendapati hal itu, Umar lalu berkata, “Wahai Rasulullah, engkau pasti aku cintai melebihi segalanya kecuali diriku”.

[caption id="attachment_2262" align="aligncenter" width="409"]Sempurnakan Iman dengan Mencintai Rasul Sempurnakan Iman dengan Mencintai Rasul[/caption]

Nabi kemudian bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari, ‘tidak Demi Zat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, engkau tidak beriman sehingga engkau mencintaiku melebihi Dirimu sendiri.’

Umar lalu berkata, “Demi Allah, sekarang aku mencintaimu melebihi diriku sendiri.”

Setelah itu Rasulullah bersabda lagi, “Sekarang (telah sempurna imammu) wahai Umar.”

Kecintaan kepada Rasulullah memang Mutlak, sebagaimanacinta kepada Allah. itulah sebabnya jika kecintaan kita kepada selain keduanya melebihi kecintaan kita kepada keduanya melebihi kita kepada keduanya, maka Allah akan mengancam hal itu.

Allah berfirman :

Katakanlah, “jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cinta lebih dari pada Allah dan Rasul-nya, serta dari berjihad di jalan-nya maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (At-Taubah [9]:24)

KEGEMBIRAAN TERTINGGI

Allah sangat tahu fitrah manusia yang suka terhadap hal-hal yang menyenangkan, seperti cantiknya istri, gagahnya suami, lucu dan menggemaskannya anak darah dagingnya sendiri. Betapa beratnya seorang ketika suatu saat harus meninggalkan dan tinggalkan oleh orang-orang tercinta tambatabatan hatinya itu. Hatinya seakan tersayat perih, jiwa pun seakan turun terbang melayang.

Namun pernahkah perasaan seperti itu kita rasakan ketika ternyata kitapun meninggalkan ingatan kepada Rasulullah dan tak pernah menyempatkan untuk bershalawat atasnya?    

Allah  pun paham berapa besar kecintaan manusia terhadap benda, rumah-rumah, megah dan cantik. Apalagi jika merasa mendapatkannya melalui sangat menipu, bahkan visa memperbudak kita.       

Anas bin Malik menceritakan suatu cerita ketika seseorang bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, kapan akan terjadi hari Kiamat?”       

Beliau Bersabda, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?”          

Ia menjawab, “Kecintaan Kepada Allah dan Rasul-Nya.” lalu, beliau bersabda “Sesungguhnya engkau akan bersama-sama dengan orang yang kamu cintai.”   

Kemudian Anas berkata “Sungguh tidak ada kegembiraan setelah keislaman yang melebihi perkataan Nabi bahwa sesungguhnya engkau akan bersama-sama orang yang engkau cintai.”                 

Lalu, ia berkata lagi “Maka, aku mencintai Allah dan Rasul-nya, serta Abu Bakar bin Umar, dengan Harapan semoga aku akan bersama-sama dengan mereka (nanti di akhirat) sekalipun aku tidak bisa beramal seperti amal baik mereka.”

TANDA-TANDA KECINTAAN

Pertama, berkeinginan keras untuk bertemu dan menyertai Rasulullah. kehilangan kesempatan untuk bisa bertemu dan menyertai beliau bahkan lebih terasa berat baginya daripada kehilangan apapun diduniaini, inilah yang dirasakan Abu Bakar ketika mendapat kesempatan untuk menemani Rasulullah dalam perjalanan hijrah-Nya dari Makkah menuju Madinah.                           

Walaupun ia paham bagaimana beratnyatantangan dalam perjalanan ini, termasuk ancaman akan nyawanya, justru inilah yang membuatnya menangis bahagia saat diberi izin menemani perjalan Rasulullah dalam perjalanan Abu Bakar telah menunjukan Kecintaanya dengan cara mengobarkan keselamatannya sendiri dalam rangka menyelamatkan jiwa Rasulullah.

Begitu juga dirasakan oleh khaum Ashar yang begitu bergembira saat mendengar kabar hijrahnya Rasulullah setiap pagi hingga siang mereka keluar dari rumahnya menuju Hurrah dan rela terpanggang teriknya matahari disana demi menunggu kedatangan beliau.    

Saat Rasulullah telah benar-benar tiba, tidak kurang dari 500 orang penduduk Madinah keluar menyambutnya. 

Kecintaan kepada Rasulullah juga ditunjukkan oleh sahabat Ashar dalam peperangan Hunain. Ketika itu merekan tidak mendapatkan bagian harta rampasan pernah karena Rasulullah telah membagikan habis untuk para muallaf.               

Kejadian itu sempat meresahkan sebagian sahabat Anshar, apalagi setelah melihat para muallaf itu mendapat bagian kambing dan unta, sementara mereka tidak. Maka Rasulullah menghibur mereka dengan mengatakan “Apakah kalian tidak ingin kalau manusia pergi mebawa kambing dan unta, sedangkan kamu pergi mebawa Rasulullah ketempat kalian, seandainya manusia melewati lembah dan dataran, niscaya aku akan mengikuti lembah Anshar dan datarannya. Orang Anshar ibarat pakaiann dalam, sedangkan orang lain ibarat pakaiaan luar. Sesungguhnya kalian akan mendapati sesudahku rasa individualis. Maka bersabdalah sampai kalian menemuiku di Haudh (telaga Rasulullah di surga).”

Dalam riwayat Abu Sa’id, kalimat diatas ditambah dengan doa Rasulullah untuk kaum Anshar. “Ya Allah, kasihanilah kaum Anshar dan anak cucu mereka!”

Setelah mendengar itu semua, kaum Anshar pun menangis hingga basah jenggotnya. Mereka kemudian berkata. “Kami ridha terhadap Rasulullah dalam pembagian dan pemberiannya.”               

Kedua, siap mengorbankan apa saja demi membela Rasulullah, walaupun harus dengan harta dan jiwa. Hal ini pernah dilakukan Abu Thalhah saat menjadikan diri-Nya tameng hidup bagi Rasulullah . ketika mereka terdesak dalam perang Uhud, Thalhah tanpa ragu-ragu maju menerjang kaum musyrikin untuk melindungi Rasulullah hingga tangannya tertebas pedang musuh.                             

Ia pun merelakan tubuhnya mendapatkan lebih dari 70 luka luka tusukan Demi melindungi Rasulullah. Abu Bakar senatiasa menangis jika disebut tentang perang Uhud, dan mengatakan bahwa itu semua adalah harinya Thalhah.

Ketiga, menjalankan perintah dan sunnah beliau dan menjauhi larangannya. Beberapa kali terjadi peristiwa dimana Rasulullah merubah dengan drastis kebiasaan hidup yang sudah mengakar dalam kehidupan para sahabat. Namun, para pencinta Rasulullah ini sama sekali tidak merasa  enggan atau berat melakukannya walaupun itu bertentangan dengan kesukaan dan kebiasaan mereka.                                               

Ketika Rasulullah melarang memakan daging keledai, maka tanpa ragu-ragu para sahabat segera membuang panci-panci masakan yang berisi daging keledai. Begitu juga saat khamar diharamkan, begitu banyak sahabat yang  membuang khamar mereka sehingga jalan-jalan di Madinnah pun tergenang oleh Khamar.

Keempat, menolong sunnah dan membela syariat Rasulullah. Para pecinta Rasulullah tidak sekedar mengerjakan perintah-perintah beliau saja, melainkan membelanya dengan sepenuh hati hingga harus mengobankan jiwa raga sekalipun. Mereka tidak memilih-milih mana sunnah yang menguntungkan bagi mereka, namun mereka melaksanakan dan menghidupkan segala perilaku dan akhlaqul karimahbeliau hingga yang sekecil-kecilnya. (dikutip dari Majalah Hidayatulah)

]]>

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *