Syaamil Quran

Shalat dan Doa: Kunci Kesabaran

Prof. Dr. Dadang Hawari, seorang psikiater yang mengembangkan psikoterapi holistik, berpendapat bahwa doa dapat melahirkan ketenangan. Dia menulis sebagai berikut: “Para peneliti seperti Harrington, A., Juthani, NV (1996) dan Monakov, V, Goldstein (1997) mencoba mencari hubungan antara ilmu pengetahuan (neuroscientific concepts) dengan dimensi spiritual yang hingga sekarang masih belum jelas, akan tetapi diyakini adanya hubungan tersebut.Dalam presentasinya yang berjudul Brain and Religion: Undigested Issues diyakini adanya God Spot dalam susunan saraf pusat (otak). Sebagai contoh misalnya orang yang menderita kecemasan, kemudian diberi obat anti cemas, maka yang bersangkutan akan menjadi tenang. Namun orang yang sama bila memanjatkan doa dan disertai zikir ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa juga akan memperoleh ketenangan. Oleh karena itu amatlah tepat apa yang dikatakan oleh Christy, JH (1998) yang menyatakan bahwa prayer as medicine; akan tetapi hal ini tidak berarti terapi dengan obat (medicine) diabaikan …”. (Hawari, 2002).

Dalam bahasa agama, doa yang dilakukan sesuai tuntutan Rasulullah saw. akan mampu melahirkan jiwa muthma’innah. Terlebih jika doa ini terintegrasi dengan shalat. Dalam shalat, proses doa terintegrasi dengan gerakan yang dilakukan secara rutin dan sistematis. Proses latihan ini meletakkan kendali diri secara proporsional, mulai dari gerakan (kecerdasan motorik), inderawi (kecerdasan sensibilitas), aql, dan pengelolaan nafs menjadi motivasi yang bersifat muthma’innah. Jiwa muthma’innah atau jiwa yang tenang inilah yang akan memiliki karakteristik malakut untuk mengekspresikan nilai-nilai kebenaran absolut. Allah Swt. berfirman,

89_27

89_28

Hai jiwa yang tenang (nafs yang muthmainah). Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang bening dalam ridha-Nya.” (QS Al Fajr, 89: 27-28)

Orang-orang yang memiliki jiwa muthma’innah pada akhirnya akan mampu mengaplikasikan nilai-nilai shalat dalam kesehariannya. Nilai shalat adalah nilai-nilai yang didominasi kesabaran paripurna. Praktiknya tercermin dari sikap penuh syukur, pemaaf, lemah lembut (hilm), penyayang, tawakal, merasa cukup dengan yang ada (qana’ah), pandai menjaga kesucian diri (‘iffah), konsisten (istiqamah), dan sebagainya.

Tak heran apabila Rasulullah saw., para sahabat dan orang-orang saleh menjadikan shalat dengan aktivitas doa di dalamnya sebagai istirahat, sebagai sarana pembelajaran, sebagai media pembangkit energi, sebagai sumber kekuatan, dan sebagai pemandu meraih kemenangan. Ketika mendapat rezeki berlimpah, shalat dan doalah ungkapan kesyukurannya. Ketika beban hidup semakin berat, shalat dan doalah yang meringankannya. Ketika rasa cemas membelenggu, shalat dan doalah yang membebaskannya.

Khubaib bin Adi dapat kita jadikan teladan. Ketika akan menjalani dieksekusi mati di tiang gantungan, seorang dedengkot kafir Quraisy memberi Khubaib kesempatan untuk mengungkapkan keinginan terakhirnya. Apa yang ia minta? Ternyata, Khubaib minta diberi kesempatan untuk shalat dan berdoa kepada Allah. Permintaan itu dikabulkan. Dengan khusyuk ia shalat dua rakaat. Ia panjangkan sujudnya dengan untaian pujian dan doa. Selepas itu pengagum berat Rasulullah saw. ini berkata, “Andai saja aku tidak ingin dianggap takut dan mengulur-ulur waktu, niscaya akan kuperpanjang lagi shalatku ini!”.

Shalat dan doa yang baik, ikhlas, dan tidak berbatas materi akan menghasilkan kemampuan bersabar. Sebaliknya kesabaran yang baik akan menghasilkan shalat yang berkualitas. Ciri shalat berkualitas adalah terjadinya dialog dengan Allah sehingga melahirkan ketenangan di hati. Komunikasi dengan Allah tidak didasari “titipan” kepentingan. Dengan terbebas dari gangguan “kepentingan” tersebut, shalat insya Allah akan mencapai derajat  komunikasi tertinggi. Komunikasi dengan Zat Yang Mahabesar, Pemilik Semesta Alam.

Siapa pun yang mampu merasakan nikmatnya berdialog dengan Allah Swt. sehingga berbuah pengalaman spiritual yang dalam, niscaya ia tidak akan sekali pun melalaikan shalat dan doa. Ia rela kehilangan apa pun, asal tidak kehilangan shalat dan kesempatan untuk berdoa, bahkan dalam kondisi paling kritis sekalipun. Jika sudah demikian, pertolongan Allah pasti akan datang.

2-155

Hai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS Al Baqarah, 2: 155).

(dikutip dari Tauhid Nur Azhar & Sulaiman Abdurrahim. 114 Kisah Nyata Doa-doa Terkabul. Arkanleema.)

]]>

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *