syaamilquran.com – Tidak Ada Perantara dalam Beribadah – Allah Ta’ala memerintahkan Nabi Muhammad saw. beserta umatnya untuk menyambut Allah dengan ikhlas. Maksud ikhlas di sini adalah bersihnya hati dan perilaku dari syirik and riya atau ingin dilihat orang serta pamer. Sesungguhnya, hanya kepada Allah-lah kita mengkhususkan dan memurnikan segala bentuk ibadah agama. Dengan demikian, Allah Ta’ala akan menunjukkan kemuliaan dan keindahan sifat ikhlas dalam ibadah. Beberapa mufasir mengartikan kata ad din sebagai taat. Dengan kata lain, hanya kepada Allah-lah ketaatan yang murni diberikan.
Allah Ta’ala pun menegaskan tentang kebenaran tauhid dengan membatalkan (menolak) segala bentuk syirik melalui berbagai perantara. Salah satu bentuk syirik adalah menjadikan dan menyembah makhluk sebagai sarana pendekatan diri kepada Allah Ta’ala. Kaum musyrik pada zaman Nabi saw. berdalih bahwa apa yang mereka sembah adalah sebagai sarana pendekatan diri kepada-Nya. Maka, Allah Ta’ala membatalkan argument tersebut bahwa ibadah kepada-Nya harus dilakukan dengan murni tanpa perantara siapapun dan apapun.
[caption id="attachment_2708" align="aligncenter" width="300"]
Tidak Ada Perantara dalam Beribadah[/caption]
Dalam Tafsir Al-Khazin disebutkan bahwa makna ad dinul khalish adalah kalimat syahadat, yang menyaksikan bahwa tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Allah yang mencakup segala praktik aspek ketauhidan. Kalimat syahadat tersebut membatalkan keyakinan-keyakinan dan prasangka orang musyrik yang menyembah berhala, patung, kuburan orang-orang saleh, dan pohon-pohon yang mengatakan bahwa mereka melakukan hal tersebut hanya sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah, padahal sejatinya Allah tidak pernah memerintahkan hal tersebut.
Khasanah Pengetahuan
“Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya,” merupakan perintah memurnikan dan mengikhlaskan agama, baik yang terlihat seperti praktik ibadah, maupun yang tidak terlihat, yaitu Islam, iman, dan ihsan dengan tujuan hanya untuk Allah Ta’ala, tidak untuk yang lainnya. Ibadah harus benar-benar murni karena Allah Ta’ala, yaitu sesuai dengan perintah dan ketentuan dalam Al-Qur’an maupun yang dijelaskan oleh Nabi saw.
Pada ayat ketiga disampaikan, “Ingatlah, hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik),” merupakan pengokohan terhadap perintah ikhlas. Ikhlas adalah mengerjakan segala sesuatu hanya karena Allah, praktiknya sesuai dengan yang diajarkan dalam Al-Qur’an dan sunnah. Ayat ini merupakan penjelasan akan kemahasempurnaan Allah Ta’ala dan keagungan-Nya di atas makhluk-Nya dari segala aspek. Bagi Allah-lah agama yang murni dan bersih dari kotornya keyakinan, yaitu agama Islam.
Adapun orang-orang yang menyekutukan Allah Ta’ala dengan menyembah, beribadah, dan meminta kepada selain Allah, mereka mengira bahwa dengan melakukan hal tersebut permintaan mereka akan cepat dikabulkan and mereka akan mendapatkan syafaat. Padahal, sejatinya mereka telah terjerumus kepada kesalahan yang paling besar, yaitu perbuatan syirik.
Orang-orang yang menganalogikan Allah Ta’ala seperti seorang raja pun termasuk orang yang sesat. Mereka berdalih dengan akal yang rusak dan pikiran yang sesat bahwa tidak akan sampai permintaan kepada seorang raja kecuali melalui para pembantunya, para perantara, dan mentri-mentri yang bisa membantunya memberikan rezeki. Mereka mengira bahwa permintaan mereka kepada Allah tidak akan sampai kecuali dengan melibatkan perantara-perantara.
]]>