syaamilquran.com – Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa barang siapa yang ketika sakaratul mautnya mengucapkan kalimat thayyibah, laa ilaaha illalaahu, niscaya dia akan masuk surga. Semudah itukah? Cerita berikut mungkin bisa memberikan gambaran mengenai pengucahan kalimat thayyibah.
Ada seorang pria kaya yang tengah sakit keras. Detik-detik menuju pintu kematiannya pun seakan semakin dekat, istri, anak, cucu, dan keluarganya sudah berkumpul di dekatnya. Dia pun dibimbing untuk mengucapkan kalimat laa ilaaha illalaahu. Namun aneh, menjelang kematiannya, yang dia ucapkan malah nama beberapa orang wanita yang tidak dikenal oleh keluarga itu. Bapak itu pun meninggal tanpa sempat mengulang kata-kata tahlil yang dibacakan di telinganya. Usut punya usut, ternyata nama-nama yang disebutkan dalam proses sakaratul mautnya itu adalah nama-nama wanita simpanannya. Na’ûzubillâhi min dzâlik. Saat kematian menjadi saat terbukanya perselingkuhannya dengan beberapa wanita muda.
Dalam kisah lainnya, seseorang yang sakit keras, kondisinya memburuk dan kritis. Anak, istri, cucu, dan semua saudaranya sudah berkumpul. Sebagian ada yang menangis karena sadar bahwa tidak lama lagi orang tua mereka akan meninggalkan dunia untuk selamanya. Seorang ustaz segera memimpin orang-orang untuk membacakan ayat-ayat suci Al Qur’an. Dia sendiri membacakan doa-doa talkin dan membimbing si sakit untuk mengucapkan kata-kata tahlil. Anehnya, walaupun dibacakan kalimat thayyibah berkali-kali, si sakit tetap saja sulit mengulang kata-kata yang sebenarnya sangat mudah untuk diucapkan. Sampai akhirnya maut menjelang, dia tidak juga kunjung mengucapkan kata-kata “pembuka pintu surga” tersebut.
Berdasarkan dua kisah ini, tampak bahwa mengucapkan kalimat thayyibah pada akhir kehidupan bukanlah hal yang mudah dilakukan. Kalimat tersebut akan mudah diucapkan apabila telah menjadi sumber energi dan orientasi dalam hidupnya.
Sejatinya, kata-kata pada akhir kematian adalah cerminan dari orientasi hidupnya selama di dunia. Dengan demikian, proses panjang yang bisa menjadi penyebab akhir kematian seseorang adalah zikir. Kecil kemungkinan bagi seorang yang sehari-harinya bergumul dengan kemaksiatan akan menutup hidupnya dengan zikir.
Kalau orientasi hidupnya adalah harta, pangkat, jabatan, kenikmatan seks, dan dia belum sempat berpaling kepada Allah Swt., itulah yang akan dia ucapkan saat kematiannya. Bahkan, boleh jadi dia akan mati ketika mengejar-ngejar kenikmatan duniawi itu.
Lain halnya dengan manusia yang orientasi hidupnya laa ilaaha illalaahu, menjadikan semua perbuatannya berorientasi kepada kalimat mulia tersebut. Jangan heran apabila kata-kata pada akhir kehidupan manusia seperti itu adalah laa ilaaha illalaahu. Allah Swt. pun berkenan memasukkannya ke dalam surga sebagaimana dijanjikan Rasulullah saw. dalam haditsnya.
Menjenguk orang sakit, terlebih orang yang sakitnya sudah dalam tahap kritis, akan mampu menyadarkan kita akan orientasi kehidupan kita selama ini. Apakah kita telah benar-benar meniti jalan Allah sebagai orientasi hidup kita ataukah kemewahan duniawi yang lebih kita pentingkan?
Hal ini sangat penting kita renungkan sebab apa pun yang kita miliki di dunia ini menjadi tidak berharga apabila akhir kematian kita adalah su’ul khatimah. Sebanyak apa pun perbendaharaan duniawi yang kita kumpulkan tidak akan mampu menolong kita tatkala sakaratul maut datang. Selain itu, tidak selamanya manusia itu sehat, jaya, kaya, kuat, dan memiliki kekuasaan. Akan tiba suatu hari ketika kita tidak bisa apa-apa lagi, ketika kita terbujur menunggu ajal.
Dengan melayat orang sakit, sekali lagi, kita seakan diingatkan untuk memanfaatkan semua yang kita punya sebagai sarana ibadah kepada-Nya dan melakukan reorientasi kehidupan kita dari berorientasi pada kesenangan dunia menjadi berorientasi pada keridhaan Allah. Di sinilah urgensi hadits Rasulullah saw. bahwa orang yang paling cerdas adalah orang yang senantiasa mengingat mati dan dia mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menyongsong kematiannya itu. ***
Sulaiman Abdurrahim. Agar Para Malaikat Berdoa Untukmu. Arkanleema. 2011.
]]>