QS Al An’am: 141:
Dan Dialah yang menjadikan tanaman-tanaman yang merambat dan yang tidak merambat, pohon kurma, tanaman yang beraneka ragam rasanya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak serupa (rasanya). Makanlah buahnya apabila ia berbuah dan berikanlah haknya (zakatnya) pada waktu memetik hasilnya, tapi janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.
Sesungguhnya, neraka itu adalah api yang bergolak, yang mengelupas kulit kepala, yang memanggil orang yang membalakang dan yang berpaling (dari agama) serta mengumpulkan (harta benda) lalu menyimpannya.
Sesungguhnya manusia itu diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan, ia amat kikir.
“Sama sekali tidak! Sungguh, neraka itu api yang bergejolak, yang mengelupaskan kulit, yang memanggil orang-orang yang membelakangi dan yang berpaling (dari agama), dan orang yang mengumpulkan (harta benda) lalu menyimpannya. Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Palabila dia ditimpa kesusahan, dia berkeluh kesah, dan apabila mendapat keaikan (harta) dia jadi kikir,” (QS Al Maarij: 15-21)
Sebagai jawaban atas pertanyaan mengenai apa yang harus diinfakkan oleh manusia, Allah mengajurkan agar kita memberikan “Yang lebih dari keperluan” (QS Al Baqarah: 219).
Merupakan tuntutan ajaran Al Quran agar orang beriman menggunakan sebagian pendapatan mereka di luar kebutuhannya untuk pekerjaan baik yang dituntun oleh Allah.
Batas minimal secara hukum dari pemberian itu adalah kewajiban zakat, yagg ditagih oleh penguasa atau pemimpin masyarakat untuk dibagikan kepada orang miskin dan yang membutuhkannya sebagaimana difirmankan Allah dalam ayat mengenai zakat. Memberikan lebih daripada itu bukanlah merupakan kewajiban, namun sangat dianjurkan. (Harun Yahya, Jihad Menentang Agama Batil, 2006).
Al Quran Miracle The Reference. Syaamil Quran.
]]>